Oleh : Ilham aufa
Saya belum pernah mendengar kisah masa kecilnya. Yang bisa saya sedikit ceritakan adalah pengalaman saat banyak bertemu beliau semenjak saya baru masuk sekolah dasar.
Beliau adalah Habib Ja’far bin Muhammad Alkaff. Salah satu dzuriyah (keturunan Baginda Rasul Muhammad) yang sangat dihormati oleh seluruh ulama Kudus, bahkan semenjak masa mudanya.
Tempat tinggalnya di belakang masjid agung Kota Kudus. Jika saya berkehendak main sepeda ke alun-alun Kudus, saya pasti melewati gang kecil yang rumahnya memang ada di situ.
Dulu, beliau akrab dipanggil dengan Ye’ Ja’far (dari asal mula kata Sayyid). Di lingkungan saya dan sekitarnya, imbuhan panggilan Ye’ adalah bentuk penghormatan bagi keturunan baginda Nabi Muhammad. Saya tak tahu kapan bermula perubahan panggilan dari “Ye’ Ja’far” menjadi “Habib Ja’far”. Yang saya tahu kemudian saat saya sudah hijrah ke Jakarta, beliau tak lagi berputar di Kota Kudus, tapi sudah melanglang buana keliling Nusantara.
Sosoknya terlihat cuek. Seolah acuh dengan sekitarnya, tapi sebenarnya beliau akrab dengan siapa saja. Beliau bisa bicara dengan siapa saja dengan nada dan intonasi yang tak berbeda, baik dengan Kiai tua, Kiai muda, ustadz, bahkan para santri yang belum mencapai usia akil baligh.
Saat beliau tiba-tiba muncul di saat kami sedang belajar di kelas, guru kami langsung menghentikan pelajarannya. Memberi kesempatan beliau berbicara kepada para santri.
Kami pun biasanya sedikit riuh. Lalu tanpa komando, suara permintaan kepada beliau agak menggaduhkan suasana.
“Minta doanya, Ye’. Minta doanya, Ye’,” teriak kami yang belum genap berusia sepuluh tahun memohon kepada beliau. Beliaupun lalu mengangkat tangan melafalkan doa, dan kami ramai-ramai mengaminkan. Selepasnya, raut muka kami terlihat bahagia sebab doa yang dipanjatkan.
Tatapan matanya tajam. Langkah jalannya sigap. Tutur bicaranya sangat cepat. Yang tak lepas dari mulut beliau adalah sholawat, sholawat, sholawat doa, doa dan doa.
Momen yang tak terlupakan bagi saya adalah kedatangannya di rumah saya, selepas kepergian ayah saya. Usia saya saat itu sekitar 6 tahun. Beliau datang malam, menjelang pengajian.
Beliau datang berkemeja putih lengan pendek. Yang khas dari beliau dan tak juga dilepaskan kekhasannya malam itu adalah tentengan sebuah benda berupa kotak putih bermaterial plastik dengan tutup warna merah, dibungkus dengan serbet (kain pembungkus, biasanya bermotif kotak-kotak). Isinya minyak wangi berukuran mini. Ya, beliau dalam keseharian mudanya adalah jualan minyak wangi.
Tubuhnya kurus, rambutnya pendek, belum panjang seperti yang terlihat belakangan ini.
Di ruang tengah rumah saya itu, di atas meja makan berwarna coklat tua, beliau banyak bicara tentang nasab dan pergaulannya dengan kiai-kiai besar. Saya tak banyak ingat lengkap apa yang dibicarakannya. Tapi, keluarga kami antusias saat kedatangan beliau di rumah kami. Sebab doanya bagi kami yang sedang berduka, adalah segalanya. Apalagi kedatangannya saat itu.
Malam ini, di awal bulan Januari yang belum menggenapkan harinya di angka satu, tetiba bersliweran kabar tentang kepergian beliau untuk selamanya, baik di grup keluarga dan grup alumni, diimbuhi skrinsut yang meyakinkan kebenaran berita itu.
Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Selamat jalan, bib. Doamu selalu di nanti. Bagi kami, dekatmu saat ini dengan sang Pencipta, lebih memudahkanmu memintakan apa saja demi kebaikan kami, kota kami, negeri kami dan seluruh umat yang masih berjuang dalam alam dunia ini.
Selamat jalan, bib Ja’far. Selamat bertemu dengan yang Dzat kau rindukan dan Dzat yang engkau sebut-sebut dalam doamu selalu.
Selamat jalan, bib. Selamat berbahagia di alam yang berbeda. Biarkan kami untuk sementara ini berduka sebab berpisah denganmu. Dirimu yang selalu berdoa untuk kami-kami ini.
Pamulang, 1 Januari 2021

No responses yet