Categories:

Tidak sedikit di negeri ini yang berprofesi menjadi petani. Bercocok tanam dengan segala tanaman. Mulai padi, jagung, dan segala sayur-sayuran. Dari tangan dingin petani inilah beras terus dihasilkan. 

Meski nasip dan peran petani–khususnya padi–hingga kini hanya begitu saja. Terlihat sederhana terlalu kaya juga tidak, terlalu miskin juga tidak. Namun sekali lagi petani padi adalah penjaga gawang utama  ketahanan pangan. Tanpa ada petani yang menanam padi mustahil beras dapat tersaji.

Memang menjadi petani padi untuk saat ini–stidaknya dalam pandangan penulis–bukan merupakan profesi menjanjikan. Selain hasil usahnya seringkali merugi, menjadi petani juga bukan merupakan profesi yang sering dinilai rendah. Pamor petani jauh dari nilai profesi guru atau dosen misalnya.

Tidak dipungkiri memang petani di Indonesia masih dinilai sebuah profesi pekerja kasar. Harus berjibaku dengan lumpur dan berbagai kerja fisik. Mulai membajak, mengusung padi dan memosesnya hingga menjadi beras. Maka dari itulah menjadi petani padi untuk saat ini tidak begitu diminati.

Dari jauh sisi nilai  kemulyaan profesi petani, terdpaat kelebihan yang luar biasa. Buktinya tidak sedikit petani yang tidak hanya memroduk padi namun juga sarjana yang berpendidikan tinggi. Dari sekian besar sarjana banyak pula yang berlatar belakang anak petani. Inilah bagian dari kehebatan petani. Petani penghasil sarjana berpendidikan tinggi. 

Kendati demikian kembali lagi nasip petani tidak sebegitu mujur. Meski bisa “memroduk sarjana” ia dan profesinya akan tergilas oleh status soasial. Setalah para petani berupaya keras denga hasil yang tidak seberapa dari hasil pertaniannya mampu mengantarkan putra maupun putrinya lulus sebagai sarjana, sekaligus ia telah menjadikan anaknya lagi enggan melanjutkan profesi sebagai petani. Inilah fakta nasip petani. Ia hanya akan lelah hingga menua sendiri menjadi petani. Sedang tidak ada lagi putra putrinya yang melanjutkan profesi ini setelah ia lulus pendidikan tinggi. 

Demikian kisah petani di desaku. Bagaimana nasip petani di desamu?. 

Kediri, 28-12-2020.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *