_Muqaddimah Tafsir Al-Fatihah_, adalah salah satu di antara karya berbahasa Arab yang disusun oleh Kiai Ahmad Yasin Kediri. Dari namanya sudah terbayang bahwa kitab ini merupakan sebuah pengantar tafsir dari surah al-Fatihah. Dalam kitab ini Kiai Yasin mengulas beberapa hal yang berhubungan dengan  surat al-Fatihah. 

Sebagaimana lazimnya pengantar, tentu tidak banyak mengulas secara dalam pada tafsir surah al-Fatihah. Kendati demikian sedikit banyak informasi dapat digali dari sini, terlebih tentang tujuh pembahasan yang berkait kelindan dengan surah al-Fatihah. Kesemunnya dalam kitab ini terurai dalam tujuh bab. 

Bab pertama, tentang nama-nama lain dari surah al-Fatihah. _Kedua_, seputar turunnya surah al-Fatihah. _Ketiga_, Keutaman surah al-Fatihah. _Keempat_, rahasia-rahasia yanh rasional yang ada pada surah al-Fatihah. _Kelima_, probelmatika _fikhiyyah_ yang berkenaan dengan surah al-Fatihah. _Keenam_, hukum berkenaan dengan _ta’awwudz_. _Ketujuh_, pembahasan seputar basmalah. Tujuh pembahasan itulah yang kemudian diurai oleh Kiai Yasin dalam kitabnya ini. (h.2).

Sebagaimana sebuah kitab berbahasa Arab, penulis mengurai dalam setiap pembahasannya dengan bahasa yang sederhana. Kendati demikian penjelasan yang ia urai tetap mendalam–misalnya tentang hukum membaca tarjamah surah al-Fatihah yang tidak cukup untuk mengganti bacaan surah al-Fatihah dalam salat. (h. 37). Hal ini dapat dilihat dari rujukan yang ia gunakan. 

Sebagaimana dalam kitab ini, setidaknya ada lima kitab tafsir yang menjadi landasan utama Kiai Yasin, di antaranya _Mafatihul Ghaib, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, Tafsir Ruh al-Ma’ani_. Selain itu, Kiai Yasin juga mengutip sebuah _al-Tafsrir Wa al-Mufassirun_, Karya Husain al-Zahabi. Sedangkan dalam _masa’il fiqhiyyah_, ia merujuk pada kitab-kitab fikih mazhab Syafi’i. (h. 2)

Berkenaan dengan rujukan, hemat penulis Kiai Yasib sosok yang begitu “fanatik” dengan ulama-ulama Sunni. Bahkan secara tegas ia menyebutkan bahwa ia tidak menggunakan rujukan dari kitab-kitab karya ulama Mu’tazilah, Khawarij, Syi’ah dan kitab-kitab tafsir kontemporer. Ia hanya berpegang pada karya ulama Sunni era klasik. (h. 2)

Dari sini kemudian dapat diketengahkan bahwa Kiai Yasin dalam karyanya ini berupaya menhindarkan dari pendapat ulama selain Sunni. Dari sini pula diketahui bahwa ia seorang tokoh Sunni tulen, yang cukup mengidolakan–dalam penafsiran–Husain al-Zahabi. (h. 3)

Setidaknya demikian yang dapat penulis ulas tentang karya Kiai Yasin ini. Selain  kitab ini, Kiai Yasin juga menyusun kitab yang berbasis tafsir sebanyak sembilan buah. Di antaranya, _Tafsir Ayat al-Kursi, Tafsir Bismillah, Tafsir Hasbunallah, Tafsir Ma Ashabak, Tafsir Mu’wwidzatain, Tafsir Surah al-Fatihah, Tafsir Surat al-Ikhash, Tafsir Surat al-Kafirun, Tafsir Surah al-Qadr._

Sebelum penulis mengakhiri ulasan ini, penulis cukup apresitif dengan karya Kiai Yasin ini. Bukan saja ia konsisten dengan karya berbahasa Arab, hingga saat ini tak kurang dari dua ratusan karya yang telah ia susun. Utamanya beberapa kitab tafsir yang penulis sebutkan di atas. 

Sebagai penutup semoga geliat untuk terus berkarya seperti Kiai Yasin ini terus eksis dari ulama-ulama Nusantara–utamnya Kediri. Sebagaimana para pendahulu mislnya Syaikh Ihsan Bin Dahlan Jampes penulis _Sirajut Thalibin Syarh Minhaj al-‘Abidin._ Amin.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Kediri, 23-11-2018.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *