‎“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan ‎mengatakan: “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji? Dan ‎Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, ‎Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan ‎Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”‎ (Q.S. Al-Ankabut: 2-3)‎

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rangkaian ayat ke-2 dan ‎ke-3 dalam Q.S. Al-Ankabut di atas menegaskan bahwa setiap orang yang ‎telah mengikrarkan diri bahwa dia seorang mukmin, maka pasti dia akan diuji ‎oleh Allah Swt dengan beragam bentuk ujian untuk membuktikan ‎keimanannya tersebut.‎

Al-Baidhawi dalam Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil menambahkan, ‎bahwa ujian adalah sunnatullah yang berlaku pada setiap umat, setiap ‎individu. Maka, tidak ada seorang pun yang terlepas darinya.‎

Muhammad Ali Al-Shabuni dalam Shafwat al-Tafasir ketika ‎menafsirkan rangkaian ayat ke-3 dari surat al-Ankabut tersebut menyatakan ‎bahwa tujuan hadirnya ujian dan cobaan hidup itu untuk membedakan siapa ‎yang benar-benar beriman penuh kesungguhan dan siapa yang berdusta akan ‎keimanannya tersebut.‎

Di antara cara Allah untuk membuktikan keimanan seseorang adalah ‎dengan menghadirkan ujian kepadanya. Ya, ujian adalah salah satu cara ‎untuk megukur kadar keimanan seseorang. ‎
‎ ‎
Ada orang yang diuji dengan kesulitan ekonomi. Ada yang diuji ‎dengan sakit yang tak kunjung sembuh. Ada yang diuji dengan ditinggalkan ‎oleh orang-orang yang dicintainya. Ada yang diuji dengan sulitnya ‎mendapatkan jodoh. Dan ada pula yang diuji dengan tidak memiliki ‎keturunan.‎

Beraneka ragam bentuk ujian yang Allah hadirkan kepada setiap ‎manusia yang mengatakan dirinya beriman kepada Allah tersebut, merupakan ‎cara untuk mengukur seberapa besar dan seberapa tinggi tingkat ‎keimanannya.‎

Menyikapi beragam ujian tersebut, ada orang yang tetap teguh pada ‎keimanannya. Alih-alih mengeluh, meratapi nasib, mengutuk keadaan, ‎menyesali kondisi yang tengah dialaminya, dia justru menjadi seorang ‎mukmin yang semakin kuat dan tangguh keimanannya. Dia yakin sepenuh ‎hati bahwa beragam ujian yang Allah hadirkan mengandung hikmah serta ‎pelajaran berharga dalam hidupnya. ‎

Di sisi lain, ada orang yang menyikapi segala ujian dan cobaan yang ‎menimpanya dengan mengeluh, meratapi keadaan, mengutuk nasib, bahkan ‎tidak jarang mempertanyakan keadilan Allah. Dia tidak sabar dengan kesulitan ‎ekonomi yang dihadapinya, sedih berkepanjangan karena ditinggal oleh orang ‎yang dicintainya, terus berkeluh kesah dengan sakit yang dideritanya, ‎menyesali sulitnya mendapatkan jodoh, serta menggugat keadilan Allah ‎karena tidak hadirnya keturunan. Dia berburuk sangka kepada Allah. Dia ‎hanya fokus melihat sesuatu yang tidak dimilikinya, tidak memperhatikan apa ‎yang telah dimilikinya.‎

Padahal, kalau dia mau berpikir jernih, nikmat yang telah Allah berikan ‎kepadanya jauh lebih besar daripada ‘kekurangan’ yang ada padanya. ‎Seandainya dia menghitung nikmat Allah yang sangat besar itu, pasti dia tidak ‎akan mampu menghitungnya. Kalaulah dia mau terus menerus mensyukuri ‎nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, maka pasti Allah akan menambah ‎nikmat-Nya kepadanya. ‎

Inilah dua kondisi berbeda dalam menyikapi ujian dan cobaan hidup, ‎yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dua kondisi tersebut ‎mencerminkan tingkat keimanan seseorang.‎

Mereka yang tetap teguh (istiqamah) pada keimanannya, meskipun ‎badai ujian dan cobaan datang silih berganti menghadangnya, akan semakin ‎tinggi kualitas keimanannya. Malaikat akan ‘turun’ membantunya dan ‎memberinya kabar gembira atas usahanya mempertahankan keimanan dalam ‎dirinya.‎

Sedangkan mereka yang berputus asa atas ujian yang menimpanya, ‎Allah samakan mereka dengan orang-orang kafir yang terputus dari rahmat ‎Allah. ‎

Diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas r.a., bahwa ada seorang lelaki yang ‎berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu dosa besar?” Rasulullah saw. menjawab, ‎‎’Syirik kepada Allah, pesimis terhadap karunia Allah, dan berputus asa dari ‎rahmat Allah’.” (HR. Al-Bazzar) ‎

Dengan sejumlah keterangan tersebut di atas, jelaslah bahwa ujian ‎pasti akan datang dalam beragam bentuk kepada setiap manusia, lebih-lebih ‎kepada mereka yang telah mengikrarkan diri beriman kepada Allah Swt. ‎

Ingatlah bahwa karena engkau telah menyatakan diri sebagai orang ‎yang beriman, maka engkau pasti akan diuji. Demikian kira-kira pesan al-‎Qur’an kepada kita.‎

  • Ruang Inspirasi, Sabtu, 9 Januari 2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *