Pertanyaan bagaimana agama memahami pandemi seperti Korona-19 memang lebih sering berangkat dari hipotesis bahwa agama memang masih penting dan mempengaruhi hidup manusia ketimbang sebaliknya. Buku ini kurang lebih mencerminkan keyakinan itu. Agama, termasuk keyakinan lokal, dituntut “bicara” untuk menjawab masalah global dengan dampak gigantik ini.

Saya baru membaca kurang separuh dari total halaman dan menemukan sejumlah pertanyaan lanjutan yang menarik diketahui. Tulisan salah seorang penulis berusaha meyakinkan pembaca agar pandemi seperti Korona-19 harus membawa pada pola keberagaman yang sehat, salah satunya berdamai dengan protokol kesehatan dan ritual yang lebih individual. 

Ritual yang “memaksa” untuk menekankan aspek perkumpulan massal dianggap pola keberagaman yang kurang sehat. Saya merasa pembagian pola yang diametral semacam itu, dalam beberapa kasus, kurang membantu untuk menyediakan kemungkinan-kemungkinan lain. Bukankah dengan pandangan pentingnya perkumpulan fisik masih penting, mendorong kita dan sains mencari jalannya sendiri untuk menjawab? Pada saat yang sama, agama bagi yang mendukung pandangan itu, memberi ketenangan pada hidup pemeluknya. 

Penulis lain menyorot soal tak berkutiknya fatwa keagamaan dan imbauan ormas keagamaan untuk ibadah tetap rumah di sebagian kalangan dipandang sebagai menyusutnya peran institusi dan tokoh agama. 

Hasil survei SMRC tentang kebijakan PSBB sebetulnya menarik digali. Nyatanya, orang yang menolak kebijakan PSBB kebanyakan pendukungan Prabowo-Sandi ketimbang Jokowi-Kiai Maruf. 

Jika data itu menunjukan adanya pengaruh afiliasi politik, maka fatwa keagamaan dan imbauan tokoh agama masih tetap berpengaruh, tetapi bagi kelompok tersebut dalam melegitimasi sikap mereka. Kita masih ingat perdebatan soal merosotnya sekularisme di Eropa dengan melihat berkurangnya kunjungan ke gereja. Tetapi sejumlah gereja yang lebih kecil justru bertambah jemaat. 

Buku terbitan ICRS ini menarik karena ditulis banyak penulis dengan latar belakang  berbeda dan sebagiannya hasil temuan lapangan. Ia mengajak kita berpikir untuk memikirkan bukan hanya intelektual yang menekuni isu agama, melainkan juga agamawan dan para saintis

Kalimulya, 12 Januari 2021

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *