Penyakitnya orang terlalu sholeh itu godaan merasa dekat dgn Tuhan. Itu akibat daya khayali yang jadi manzilnya ruh. Begitu juga penyakit orang fanatik pada seseorang atau satu dogma. Glorifikasi akibat adanya daya khayali seseorang, bikin akal sehat tertutupi.
Dawuh Imam Ghozali, bahwa manzilur ruh insani (tempat gejala ruh manusia) ini bisa diketahui dari 3 ekspresi :
- Ekspresi dalam mengetahui, memahami dan memastikan satu eksistensi satu fenomena. Lalu membawanya pada perasaan.
- Ekspresi daya khayal atau daya rekayasa tentang apa di balik fenomena tersebut.
- Ekspresi dalam meragukan satu fenomena itu benar demikian adanya atau yang lain.
Misal kita tahu ada fenomena mayat penuh belatung, kita meyakini keberadaan kasusnya lewat beberapa orang yg jadi saksi. Terbawa dalam perasaan, daya khayal kita pun mulai menghubung-hubungkannya dgn fenomena lain, misalnya kita yakin bahwa itu pasti adzab karena keburukannya. Tapi seiring berjalannya waktu, kita melihat keburukan yang sama tapi akibat yg diterima tidak sama. Akhirnya kita mengkritisi pendapat khayali yg menyebut mayat penuh belatung itu adzab. Lalu kita yakin ada alasan yang masuk akal yang belum kita ketahui. Tidak menganggap khayalannya tadi satu-satunya kebenaran.
Berbeda dengan binatang yang gak punya 3 ekspresi sekaligus dalam perasaan, daya khayali dan daya kritis. Inilah mengapa ruh manusia disebut mengandung unsur qudroh dan dinisbatkan pada Gusti Allah langsung.
وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي
“Dan telah Aku tiupkan kedalamnya ruh ciptaan-Ku” (Al Hijr 29)
Bedanya, Qudrah Gusti Allah tak terbantahkan kebenarannya, sedangkan qudroh manusia masih bisa diperdebatkan, dibantah atau dilebih-lebihkan. Di sini sering satu kebenaran itu kabur dan rancu karena daya khayali dari manusia sendiri. Banyak orang yg karena menganggap ruh manusia itu pasti suci, panggilan nurani dirinya itu selalu benar, suara hatinya itu suara Tuhan. Padahal belum tentu, jangan-jangan itu daya khayali kita saja.
Satu hari para shahabat bertanya pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW “Apakah benar Kanjeng Nabi Isa AS itu bisa berjalan di atas air?”
Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjawab
نعم، ولو ازداد يقينا لمشى في الهواء
“Iya, bahkan jika ditambah keyakinan bahwa Nabi Isa AS bisa berjalan di atas udara, (itu juga bisa jadi benar jika menuruti daya khayali)”
Maka kita harus kritis dengan daya khayali kita sendiri saat membaca teks atau informasi yang seakan bombastis dan mengundang daya khayali. Gusti Allah meletakkan puzzle2 kebenaran di tiap sudut permukaan bumi. Maka, kita tetep pakai akal sehat, kroscek dan jalin komunikasi dgn semua elemen. Jangan sampai punya sifat eksklusif. Agar tidak terjebak tipuan daya khayali diri kita sendiri.

No responses yet