_”Setiap umatku diampuni kecuali orang yang menampakkan kemaksiatan”_

Nabi Muhammad Saw 

Manusia memang tidak akan pernah terlepas dari potensi melakukan dosa, termasuk di antaranya adalah dosa sebab melakukan suatu maksiat. Kemaksiatan yang dilakukan akan berbuah hukuman kelak di akhirat. Meskipun sebesar apapun dosa karena kemaksiatan seseorang dapat diampuni oleh Allah Swt, jika Ia menghendaki. 

Terkait pengampunan dosa pelaku masiat ini Nabi Saw, mengatakan, “Setiap umatku diampuni kecuali orang yang menampakkan kemaksiatan.” Dari sabda Nabi Saw., ini memperjelas bahwa, orang yang melakukan maksiat asal tidak menampakkan perbuatan maksiat itu akan mendapat ampunan dari Allah Swt. Setidaknya, pelaku maksiat tadi telah menutup aibnya sendiri. 

Berlawanan dengan itu, yakni orang yang menampakkan perbuatan maksiat dengan terang-terangan. Orang seperti ini, termasuk pengecualian dari orang yang diampuni oleh Allah sebab melakukan kemaksiatan. Orang kelompok ini, selain mengumbar aib sendiri ia juga sekaligus mencontohkan keburukan yang berpotensi ditiru oleh orang lain. 

Boleh jadi sebab potensi keburukan dari kemaksiatan yang ia nampakkan sangat besar maka orang seperti ini tidak mudah untuk mendapat ampunan Allah Swt. Lain halnya jika seseorang melakukan keburukan namun ia simpan keburukan itu, barang kali keburukan itu tidak pernah terlihat. Tidak muncul ke permukaan. Selama ia merahasiakan maksiat yang ia lakukan selama itu pula kemaksiatan yang ia lakukan dirahasiakan Allah dari orang lain. 

Jika kemaksiatan itu sudah dinilai buruk maka alangkah tepatnya keburukan itu disimpan sendiri. Kemaksiatan yang dilakukan tidak untuk dinampakkan, dicurhatkan, diceritakan pada sesama apalagi sebagai sebuah kebanggaan. Dengan demikian maka tidak ada yang tahu sama sekali dosa kemaksiatan yang telah dilakukan itu kecuali pelakunya sendiri dan Allah Swt. Jika yang tahu hanya Allah dan pelakunya kemaksiatan itu sendiri, maka potensi keburukan yang timbul tidak akan menyebar luas, sehingga potensi mendapat ampunan dari Allah pun besar.

Sebagai pamungkas, demikianlah pentingnya menutup segala keburukan yang dilakukan agar tetap menjadi rahasia. Hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah Swt. Meskipun juga yang namanya maksiat tetap maksiat, yakni sebuah keburukan, yang sebaiknya tidak untuk dilakukan. 

Wallahu A’lam Bisshawab 

Kediri, 14-01-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *