Prinsip agama Islam itu simpel. Pokoknya asal kita tahu maqom kita sebagai budak yang punya Juragan. Lalu kewajiban sebagai budak Tuhan kita lakukan semampunya dan usaha konsisten hingga mati. Udah beres. Dijamin selamat. Gak perlu resah dengan adzab kubur dan akhirat. Pede aja, malah banyakin syukur.

Karena adzab kan sejatinya diperuntukkan bagi budak yang ndugal. Makhluk yg gak memenuhi kewajiban sebagai budak Tuhan. Porsi waktu buat mikir Gusti Allah lebih sedikit bahkan gak ada. Malah porsi ribet sama syahwat dunia lebih banyak.

Adzab, baik di dunia dan akhirat, dawuh Imam Ghozali, secara ruhaniyah mempunyai makna 3 bagian : 

1. Terbakar oleh semua hal yang tidak jelas (mutasyabihat). 

Misal kita kerja proyek, kadang rejeki kecampur-campur. Ada uang memang hak kita, ada uang dari hasil kongkalikong, tipu-tipu, sogokan, pungli gak jelas dan uang2 yg gak jelas darimana. Hal ini yg bikin rejeki kita gak barokah, uang pun cepat habis gak tau juntrungannya, gara2 gak puas nuruti keinginan. Jadi banyak maksiat tapi gak merasa udah banyak bikin dosa. Hidup gak tenang, keluarga retak dan lain-lain. Ibadah pun terbengkalai karena tubuh makan barang syubhat. Hidup makin seret, sumpek, bahkan kepikiran bunuh diri.

Inilah yang dimaksud ruh terbakar oleh semua barang yg gak jelas halal haramnya. Rejeki kita yg halal pun ikut terbakar karena kecampur barang haram. Di dunia rasanya tersiksa, mati dalam keadaan sengsara, di akhirat pun mendapat murka.

2. Terbukanya semua aib di depan umum.

Misal kita punya ambisi politik. Untuk mengumpulkan pendukung, maka kita jadi suka nggosipin orang, memprovokasi massa, bikin huru-hara, menasbihkan diri sebagai golongan orang baik dan menyerang golongan orang yg dianggap buruk. Hingga gara2 omongan kita, terjadi perpecahan, permusuhan dan konflik. Lalu orang yg kita musuhi mencari kelemahan kita. Setelah ketemu, karakter kita dibunuh dan aib kita dibuka di depan umum. Hingga kita kebingungan menjawabnya. Untuk menyelamatkan muka, akhirnya kita berbohong, berkhilah dan menyerang balik musuh kita. Sehingga hidup cuma meladeni konflik yg gak jelas ujung pangkalnya.

Bayangin, gimana ruwetnya hidup kita andai seperti itu. Ruwetnya hidup demikian itu hakikatnya siksa yang diawali terbongkarnya aib kita. Sulit hidup tenang di dunia karena aib terbuka dan di akhirat pun catatan segala cacat kita pun dibuka dan diumumkan oleh malaikat di depan Gusti Allah. Martabat diri pun habis gak ada nilainya, seakan ditelanjangi di hadapan Gusti Allah dan seluruh makhluk-Nya.

3. Tercampakkan semua hal yang jadi tempat bergantungnya hati selain Gusti Allah.

Misal kita anak kyai pemangku pondok besar yg kaya. Karena merasa punya nasab, kekayaan dan mendapat penghormatan orang, kita lupa merawat ilmu dan akhlaq karena hidup sibuk memamerkan previlage. Saat tiba2 ortu yg kyai itu meninggal, apa yg kita banggakan pun ikut sirna. Pondok mulai sepi, rebutan warisan, penghormatan orang pun gak dapet, ilmu cetek, akhirnya luntang-luntung kesana-kemari cuma jualan nasab buat sekedar hidup.

Ini hakikatnya juga siksa ruhaniyah. Hidup di dunia jadi sumpek, di akhirat pun dipersulit karena mati punya kesombongan. Nasab yg dibanggakan pun sulit secara akal menolongnya karena ada setitik kesombongan. Apa yang disombongkan pun gak bisa menolong dari murka Gusti Allah.

Semua ini takwil dari Imam Ghozali tentang maksud macam-macam jenis api neraka yang sumbernya dari perilaku ruh yang penuh pekat jejak kecintaan pada dunia. Semuanya berawal dari terpautnya hati dengan dunia. Sehingga menjalar mencapai tubuhnya lewat amal2 buruk. Kemudian efeknya di kehidupan dunia hingga akhirat.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *