Pernyataan aktor komedian simpatisan FPI, Panji Pragiwakseno yang menyebut bahwa FPI selalu ada saat dibutuhkan karena Muhammadiyah dan NU jauh dari masyarakat —sungguh menarik. 

*^^^^*

Tak perlu baper lantas sebut ribuan amal usaha atau pesantren untuk mengcounter — ini bukan soal kompetisi tentang banyaknya amal usaha atau jumlah pengikut, apalagi mengkomparasi FPI dengan Muhammadiyah atau NU sungguh tidak selevel. 

Tapi dengan jujur harus diakui, inilah kelihaian media membranding image atau opini FPI kepada publik semacam glorifikasi, ironisnya banyak yang katut dan larut dalam skema berpikir yang mereka bentuk, tidak terkecuali ormas yang disebut modern dan besar karena memiliki amal usaha dan jumlah pengikut fantastis. 

Ironisnya, gerakan FPI lebih fenomenal meski dalam skala yang sangat kecil— kehadiran FPI membagi-bagi puluhan atau  ratusan nasi bungkus ditempat- tempat bencana lebih menarik dan memikat publik, dibanding puluhan milyar bantuan yang diberikan Muhammadiyah melalui MDMC atau LAZISMU dan NU berikut Banomnya dengan tidak bermaksud menafikkan BNPB. 

*^^^^*

Benarkah FPI hadir mengisi ruang kosong yang ditinggalkan Muhammadiyah dan NU, yaitu sikap kritis, anti mapan dan perubahan ? Sampai tahap itu, FPI dianggap dapat memberi keleluasaan dan harapan perbaikan terhadap stagnasi politik dan demokrasi yang memburuk. Dua hal yang menurut saya luput dari perhatian dua ormas besar itu. FPI adalah harapan baik, yang kemudian diberi kemasan agama : nahy munkar. Sebab Muhammadiyah dan NU dianggap lebih banyak amar ma’ruf-nya. 

FPI hadir melawan rezim dan itu memikat sebagian orang yang memiliki irisan dan kesamaan pemikiran dan pergerakan terutama mimpi tentang negara Islam yang tidak tersalur di kedua ormas besar itu. Baginya sebagian kecil,  FPI adalah solusi, Muhammadiyah dan NU dianggap lembek, jinak atau bahkan bagian dari rezim. Dengan bahasa yang sedikit sopan mereka yang tidak puas, menyebut Muhammadiyah dan NU lebih condong pada amr ma’ruf ketimbang nahy munkar-nya. 

Nahy munkar dipahami melawan mapan, FPI kemudian merubah diri menjadi kanal aspirasi sebagian yang tidak terkover, meski masih harus banyak riset untuk membuktikan. Dengan metode analisis tex hermenetik fenomenologis, dari para pengikut dan pemimpin kedua ormas besar itu terhadap fenomena yang tersedia, saya pikir cukup siginifikan menyebut bahwa irisan ideologi itu demikian kentara dan mudah dibaca. Meski secara empirik dapat disebut sebagai ‘kekalahan psikologis’ pasca Pilpres. Efeknya begitu dominan dan susah dilupakan. 

*^^^*

Yang diglorifikasi tak boleh atau tak bisa salah— selalu benar atau dicarikan pembenar untuk memenuhi hasrat glorifkasinya itu.  Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah melawan habis sikap yang melahirkan taklid buta ini. 

Enciklopedi Britanica mendevinisikan, Glorifikasi, adalah pemujaan terhadap seseorang atau kelompok di era modern—sebuah istilah yang agak sopan sedikit, sebab jatuhnya sama: kultus. Ada beberapa sebab kenapa seseorang melakukan glorifkasi. Salah satunya identifikasi personal’:  Habib Rizieq berhasil tampil memerankan sebagai kurban yang dizalimi dan itu efektif untuk meraih simpati publik, sebagai modal awal glorifikasi. Tapi sayang kita marah saat dibilang kultus. 

Padahal kultus ya kultus. Dan itu penyebab taklid buta. Ironis memang—jika glorifikasi justru tumbuh subur pada Perkoempoelan yang menabalkan diri sebagai modern dan berkemajuan—dan FPI adalah cara ampuh melakukan glorifikasi yang efektif tanpa banyak biaya sebab justru dilakukan ormas besar tanpa diminta. 

*^^^**

Tapi maaf— Dengan ‘sombong’ saya tuliskan. Jangan ngajari Muhammadiyah dan NU peduli sesama —-

FPI belum lahir, sudah ratusan, bahkan ribuan panti asuhan, rumah sakit, pesantren, universitas dibangun Muhammadiyah dan NU untuk negeri. Sebab itu, jangan saling mengecilkan apalagi menafikkan, betapapun itu. 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *