Gak afdhol rasanya, ungkapan syukur atas khataman kitab, tapi gak menyebut nama guru. Nyebut nama guru ini bentuk menghargai ilmu, sebagai bentuk pertanggung jawaban, tanda tunduknya seseorang dan rasa syukur atas ilmunya, sehingga ilmu yang didapat diharapkan jadi manfaat dan barokah. Maka kali ini, saya tampilkan biografi singkat guru saya.
Untuk kitab Arbain Fi Ushuliddin ini, saya tidak ada ijazah secara khusus dari siapapun. Tapi karena kitab Arbain Fi Ushuliddin ini adalah semacam Mukhtashor Ihya’ Ulumiddin dari pengarang yang sama yaitu Imam Abu Hamid Al Ghozali, maka saya akan tampilkan biografi guru saya yang mengijazahi saya kitab Ihya’ Ulumiddin. Biografi guru saya ini berdasarkan keterangan dari menantu guru saya sekaligus pengasuh Ponpes Al Kholil yang sekarang, yaitu KH. Muhammad Arisy Karomy.
Guru saya bernama Almaghfurlah KH. Ahmad Kholilurrohman bin Kyai Muhammad Syafi’i atau para santri dan masyarakat sekitar menyebut beliau Manaji, singkatan dari Paman Haji. Beliau pendiri dan pengasuh Ponpes Al-Kholil Jetis Sidoarjo.
Awal mengenal beliau tahun 2000. Pertama daftar sebagai peserta Pesantren Kilat. Pesantren khusus liburan sekolah umum. Ketika itu, yang namanya pesantren kurang ngetrend. Banyak yang merasa asing dengan tradisi kehidupan dan keilmuan Pesantren. Apalagi daerah perkotaan seperti Jetis Sidoarjo. Setelah beberapa tahun ikut Pesantren Kilat, saya jadi tertarik pingin mondok, akhirnya jadi santri mukim di sana selama SMA.
Kehadiran Pesantren Kilat bagi siswa sekolah umum waktu itu menjadi fenomena unik. Selain unik juga menarik karena mengisi waktu liburan kenaikan kelas yang lumayan panjang. Biasanya sekitar satu bulan.
Kalo ngaji kilat (atau Pasaran atau Pasanan, biasanya di bulan Ramadhon) di Pesantren pada umumnya, diikuti santri-santri mukim yang ingin menambah koleksi sanad dan khataman kitab serta niat tabarrukan. Sementara Pesantren Kilat Al Kholil justru melayani kalangan awam yang umumnya belum kenal Pesantren.
Waktu yang singkat dengan peserta yang awam menuntut banyak penyesuaian. Termasuk bahan ajar. Justru dari sinilah lahir banyak karya beliau. Paling tidak ada 29 kitab karya beliau yang umumnya berupa terjemahan. Antara lain :
-Masalik 1
-Masalik 2
-Terjemah Ilmu Tauhid
-Terjemah Ilmu Tajwid
-Fiqih 1
-Fiqih 2
-Fiqih 3
-Fiqih 4
-Terjemah I’lal
-Inqilat
-Terjemah Jurumiyah 1
-Terjemah Jurumiyah 2
-Terjemah Al-Imrithy 1
-Terjemah Al-Imrithy 2
-Terjemah Faraidl 1
-Terjemah Faraidl 2
-Terjemah Alfiyah 1
-Terjemah Alfiyah 2
-Terjemah Alfiyah 3
-Terjemah Mustholahul Hadits
-Terjemah Ilmu Manthiq
-Terjemah Jauharul Maknun 1
-Terjemah Jauharul Maknun 2
-Terjemah Jauharul Maknun 3
-Terjemah Qoidah Fiqh
-Terjemah Ushul Fiqh
-Terjemah Ilmu Tafsir
-Terjemah Maqsud
-Kumpulan Puisi
Ini membuktikan Almaghfurlah KH. Kholilurrohman akrab dipanggil Manaji Kholil adalah penulis produktif, pengajar penuh semangat. Beliau juga menyusun Rotib Al Kholil yakni susunan rangkaian dzikir/wirid yang rutin beliau amalkan. Beliau sangat suka dengan kesastraan. Sehingga beliau juga mempunyai karya berupa kumpulan puisi berbahasa Arab maupun Indonesia. Ada 19 judul puisi dan sudah dibukukan.
Selain mengajarkan kitab-kitab karangannya secara klasikal sesuai dengan tingkatan Madrasah Diniyah Al Kholil, Beliau juga mengajar kitab-kitab klasik (kitab kuning) secara bandongan.
Kitab-kitab yang sempat saya ikuti pengajiannya dan saya peroleh sanadnya dari beliau antara lain :
-Jurumiyyah
-Imrithy
-I’lal
-Alfiyah Ibnu Malik
-Sullam Munawwaroq
-Minhaju Dzawi Nazhor fil Hadits, Syeikh Mahfudz Termas
-Al Mahally Syarah Minhajut Tholibin, Imam Nawawi
-Ihya Ulumiddin, Imam Al Ghozaly.
-Tafsir Jalalain, Imam Abdurrohman Jalaluddin As Suyuthi dan Imam Syihabuddin Jalaluddin Al Mahally.
-Fathul Qorib
-Fathul Muin
-Fathul Wahhab
-Lathoiful Isyaroh
-Idhohul Mubham
-As Sanusiyah
-Kifayatul Awam
-Al Asybah Wan Nazhoir
-Ghoyatul Wushul Fii Ushul Fiqh
-Jam’ul Jawami’
-Jami’ush Shoghir
-Al Muwaththo
-Bulughul Marom
-Minhajul Abidin
-Bidayatul Hidayah
-Syarah Al Hikam Ibnu Athoillah As Sakandari
-Syarah Alfiyah Ibnu Aqil
-Jauharul Maqnun
-Uqudul Juman
Alhamdulillah saya punya sanad kitab-kitab tersebut, walau belum paham bener dan ada yang belum sempat khatam. Heuheuheu. Saat saya boyong, beliau berpesan untuk jangan pernah lelah mengembangkan keilmuan yang sudah didapat di Ponpes Al Kholil dan Manaji selalu mendoakan santri-santrinya hingga hari kiamat. Semoga saya diberi pertolongan mengemban amanah tersebut.
Perjalanan (rihlah) ilmiyah KH. Kholilurrohman atau Manaji dimulai saat ngaji di Lugowok Pasuruan desa kelahiran beliau. Mengaji baca tulis Al Qur’an pada Mbah Abdul Karim kakek beliau yang merupakan menantu dari Mbah Marzuki Mindi Porong. Berlanjut belajar ilmu-ilmu dasar di Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Sidogiri di bawah asuhan Kyai Kholil Sidogiri dan dewan asatidz. Diantaranya Almaghfurlah KH Abdurrohman Syakur, Rais Syuriyah PCNU Kab. Pasuruan. Beliau 6 Tahun menuntut ilmu di Ponpes Sidogiri.
Merasa belum cukup, beliau lanjut menuntut ilmu di Pesantren Sarang dibawah asuhan Mbah Ahmad Syuaib, Mbah Zubair Dahlan (Ayahanda Mbah Maimun Zubair) dan masyayikh Sarang lainnya. Ketika mengaji di Sarang, beliau bersama teman seangkatan salah satunya KH. Sahal Mahfudz mendirikan Majelis Musyawarah Bahtsul Masail yang diberi nama Fadlun Jamil. Hingga saat ini, Fadlun Jamil menjadi nama Ma’had Aly di Ponpes MUS Sarang.
Beliau juga sempat berguru kepada Masyayikh Lasem diantaranya Syeikh Masduqi Lasem dan Mbah Baidhowi Lasem. Beberapa kali beliau ikut ngaji khataman di Pesantren Al Khoziny Buduran dibawah asuhan KH. Abbas Khozin dan sekali ikut ngaji di Ponpes Kanigaran Probolinggo dibawah asuhan KH. Zayyadi.
Selama mengaji di Sarang, beliau juga aktif mengajar santri-santri junior. Sepulang dari Sarang, dipanggil Romo Kyai Kholil Sidogiri untuk mengajar di Ponpes Sidogiri. Tugas ini dilakukan selama 4 tahun. Tahun keempat masa tugas ngajar di Sidogiri, beliau diminta ngisi Khataman Tafsir Jalalain dan Syarah Alfiyah Ibnu Aqil di Ponpes Lekok Pasuruan yang di asuh KH. Mustofa. Bersamaan dengan itu, beliau juga sempat mengabdi dan nyantri di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Pasuruan di bawah asuhan KH. Abdul Hamid Pasuruan (Mbah Hamid Pasuruan).
Pada saat mengajar di Lekok, datang rombongan dari Jetis Sidoarjo dipimpin Hj. Rohmah sowan kepada KH. Mustofa yang ternyata sowan terlebih dahulu kepada Mbah Hamid Pasuruan.
Hj. Rohmah memohon kepada Mbah Hamid agar dicarikan menantu yang bisa membantu dakwah Islam di Kampung Jetis. Mbah Hamid menyanggupi dan mengatakan bahwa calon menantu sedang mengisi khataman Alfiyah dan tafsir Jalalain di Ponpesnya Kyai Mustofa Lekok. Yang tak lain tak bukan adalah KH. Kholilurrohman atau Manaji saat muda. Akhirnya, Manaji pun dinikahkan oleh Mbah Hamid Pasuruan dengan Bu Nyai Hj. Nurus Saniyah asal Sidoarjo.
Perjalanan hidup Manaji Kholil selanjutnya di jalani di Kota Delta Sidoarjo. Tepatnya di Kampung Batik, Jetis, Sidoarjo. Sempat masuk jajaran pengurus PCNU Sidoarjo sebagai Mabarrot dan A’wan. Beliau juga tercatat sebagai salah satu pendiri Yayasan Walisongo, Sidoarjo bersama H. Sholihan Tahib dan sahabat seperjuangannya.
KH. Kholilurrohman atau Manaji, menghabiskan usianya yang bermanfaat tersebut di Sidoarjo. Beliau selama memangku Pondok Pesantren, telah memberi manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Beliau dikenal akrab dengan para santrinya, akrab dengan para muhibbinnya, hingga hafal satu persatu nama-nama santrinya dari dulu hingga yang termuda. Dedikasinya kepada NU juga tidak terbantahkan dan sangat militan. Saya ingat beliau sangat mencintai sosok Gus Dur dan selalu membimbing para santrinya untuk selalu mensupport NU dalam menjaga warisan Ahlu Sunnah Wal Jamaah, ulamanya dan negara Indonesia.
Beliau wafat pada tanggal 21 Juni 2018 hari Selasa Kliwon. Beliau meninggalkan para santri dan pondok pesantren Al Kholil yang beliau bangun.
Banyak cerita menarik tentang beliau dan tidak cukup dituang dalam satu tulisan. Namun semoga sedikit tulisan kisah ini bermanfaat bagi saya dan kita semua. Semoga kita bisa memetik keteladanan, menjaga amanah dan meneruskan perjuangan beliau KH. Kholilurrohman atau Manaji. Terutama untuk para santri beliau. Aamiin.
Ilaa hadhroti Rosulillah Sayyidina Muhammad SAW, wa aalihi wa ashhabihi ajma’iin, khushushon ilaa ruuhi Syaikhina KH. Kholilurrohman Jetis Sidoarjo, wa aalihi wa talamidzihi wa jamii’i masyayikhihi ilaa Rosulillahi SAW. Lahumul Al Faatihah.

No responses yet