Teman saya ini adalah seorang tukang sampah yang menyapu tiap hari di halaman bersama para santri. Dia memang agak “aneh”, atau mungkin bagi yang belum tahu akan bilang kadang kurang sopan. Tapi saya tahu dia orang baik hatinya, dan lahirnya juga baik, hanya omongannya blak-blakan. Dia adalah Gok Die.

Pagi kemarin saat saya berjemur matahari sambil mencari hewan tinggi di bantal yang saya jemur, dia bilang ke saya, banyak gus-gus yang membangun, sedang saya tidak. Tentu saya tahu dia “ngguyoni” saya.Untuk itu saya tidak tanya lebih jauh siapa gus itu. Saya tanggapi saja dengan ucapan, “Alhamdulillah, berarti uangnya banyak, Gok.”

Entah bagaimana saat saya olahraga ringan, selanjutnya Gok Die bilang bahwa harta kadang cepat muncul tapi juga bisa cepat hilang. Sontak olahraga saya hentikan. Gok Die berkisah, dulu dia punya bos. Si bos itu suatu saat pernah terus terang ke Gok Die bahwa penghasilan bersihnya setiap hari lebih dari 5 juta. 

Saat itu si bos mempunyai truk besar  roda ganda sebanyak 4 buah,  truck engkel 1 buah, colt brundul 1 serta dua mobil mewah. Tidak hanya kendaraan, rumahnya pun megah, dan gudangnya besar.

Lalu si bos yang sedang jaya itu kawin lagi dengan seorang  janda yang menjadi aparat desa. Kata Gok Die, si janda cantik. Istri  pertama si bos entah bagaimana akhirnya sakit dan meninggal. 

Selanjutnya si bos ini bangkrut, sementara istri kedua yang cantik itu minta cerai. Tidak hanya itu, harta minta dibagi, serta anak-anaknya juga meminta bagian harta. Akhirnya rumah pun si bos tidak punya. Bahkan gudangnya yang besar dibeli oleh anaknya buahnya yang dahulu tukang setor sampah. Wolak waliki jaman.

Lalu si bos yang sebatang kara ini menikah lagi dengan janda pensiunan (suami janda dulunya adalah PNS).  Si bos ikut tinggal di rumah si janda pensiunan. Ternyata kehidupan ekonomi dengan janda pensiunan ini juga “redup”. Apesnya, si janda sudah tidak dapat pensiunan lagi, di saat yang sama, si suami  pekerjaannya masih serabutan.

Seminggu lalu saat Gok Die ke sebuah  makam, dia bertemu dengan si bos yang sedang menyabit rumput (mencari rumput). Gok Die berhenti dan mengajak diskusi mantan bosnya ini. 

Kata Gok Die, “Bos, kok gak diburuhkan untuk mencari rumput?” Kata si bos, “Bagaimana mau memburuhkan orang, lha sapinya saja paroan (bagi hasil) milik orang!”

Lalu si bos minta rokok ke Gok Die, Gok Die bilang, “Ini Bah, ada sisa 5 batang ambil semua plus koreknya!” 

Kata Gok Die, rokok yang diberikan ke si bos itu adalah rokok yang biasa disedot oleh Gok Die. Harga per bungkusnya enam ribu rupiah. Entah rokok cap apa kok murah sekali.

Gok Die melanjutkan omongannya ke si bos, “Bah dulu Sampean kurang hati-hati”. Jawab si bos, “Lakon koyok ngene wes kandeko nang aku wae” (semoga pengalaman pahit seperti ini berhenti sampai ke saya saja).

Gok Die ganti saya guyoni, “Gok, gak pengen sugih koyok bos itu?” Jawabnya, “Mboten (tidak), begini saja yang penting tenang.’

Hikmah yang bisa dipetik adalah silakan dipetik sendiri yach!….. Diantaranya adalah si bos ini tabah saat sudah papa.. salut.

***

Foto Gok Die menyapu

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *