Oleh : Sofyan Tsauri

Penyesalan saya yang terbesar adalah meninggalkan tradisi, pemahaman dan manhaj NU, menjadi Jihadis lalu menjadi ghuluw Fied Dien, dari mudah mengbid’ahkan lalu mengkafirkan orang diluar kelompok adalah kecelakaan terbesar.

Tidak seharusnya kepedulian kita kepada kaum muslimin di seluruh dunia lalu menjadi Ahlu Jihad, justru harus menjadi Wahabi lalu menjadi pengkapling kebanaran, tidak, Thaliban yang bermazhab Hanafi dan beraqidah Maturidyyah ternyata mampu bertahan hingga saat ini, ingat Tampa harus menjadi Wahabi.

Ghuluw dalam beragama memang bisa hinggap dimana saja, tetapi tidak sedramatis dengan manhaj Wahabi, yang dimana2 menjadi masalah dengan tradisi keagamaan yang mapan selama berabad-abad, dengan alasan memerangi kesyirikan dan kebid’ahan, tetapi justru menimbulkan kemungkaran baru di tengah2 umat Islam.

Evaluasi besar2an yang di lakukan oleh ALQA3DA justru menyadarkan saya tentang urgensinya bermazhab, metode bermazhab justru cara jitu menekan ekstrimisme beragama, kita terpaut jauh dari Nabi, sahabatnya dan Tabi’in, sanad kita terputus jauh, tetapi kita di doktrin untuk jangan mengikuti Ahlu bid’ah dengan embel-embel kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah saja, jebule di perintahkan memahami agama versi kelompok mereka saja, demikian racun virus meracuni ribuan pemuda saat itu.

Problem kita para Muhajirin asriyah adalah kita belum mampu memadukan Fiqh dalil dan Fiqh Waqi’iyah, dan itu tidak bisa di tempuh dengan daurah seminggu dua Minggu, setahun dua tahun, apalgi Sanlat sehari dua hari, tidak bisa, lalu jadi Ustad, memimpin majelis Taklim, lalu berfatwa, tidak bisa, ini gila, tetapi di sanalah saya bergaul.

Ya mereka terlihat menjadi pejuang agama, terlihat cara berpakaian dan terlihat dari tutur katanya yang menggebu-gebu, tetapi justru menjadi provokator, mengajak membenci di luar kelompoknya, alih-alih menjadi berprestasi di kampus justru DO, alih-alih berbakti kepada orang tuanya justru menjadi durhaka kepada orang tuanya, alih-alih ramah lingkungan justru menjadi anti sosial dst.

Tradisi NU dan ulama2 nya itu jauh dari organisasi NU dalam merawat dan menjaga bangsa Indonesia dari organisasi NU itu sendiri, berabad-abad mereka terbukti berhasil, dan itu tidak bisa di batalkan oleh ormas-ormas Islam yang muncul belakangan, lalu melakukan satu dua kebanaran dalam Islam, lalu mengklaim bhwa merekalah yang benar, tidak, tidak akan bisa, sebagaimana sahabat Khalid bin Walid ketika menghardik sahabat senior Abdurrahman bin Auf, lalu Rasulullah Saw marah dan mengatakan, bahwa amalan kalian tidak dapat menyaingi mereka.

Ya, kita tidak akan bisa menyaingi keikhlasan, ketulusan dan keberanian ulama2 tempo dulu dalam menjaga, merawat dan berjihad untuk Indonesia tercinta ini, dan sekarang saya bangga bersama mereka dalam satu gerbong, walau sempat salah jalan, beda tujuan dan bahkan terlambat, sekarang saya masih di berikan umur, di berikan kesehatan, maka saya mohon ijin ikut di gerbong ini, tak apa menjadi keset atau sendalnya ulama, itu sudah cukup bagi hujjah saya di hadapan Allah SWT kelak. Alhamdulillah

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *