Kelakar Gus Dur menarik disimak :”Pengurus NU itu kaya-kaya sedang NU-nya miskin. Kalau Muhammadiyah itu kaya sedang pengurusnya miskin-miskin”.
Jusuf Kalla menyebuthya antara holding dan company.
^^^^
Tak perlu menilai mana diantara keduanya lebih baik.
Pesan Kyai Ahmad Dahlan: ‘Hidup-Hidupilah Muhammadiyah’ juga bermakna agar setiap warga persyarikatan kuat secara ekonomi dan finansial, agar bisa menghidupi bukan dihidupi. Para pimpinan dan pengurus Persyarikatan bekerja keras tanpa memikirkan imbalan material— semua dianggap setara yang membedakan adalah prestasi dan prestasi di depan Tuhan adalah Taqwa. Inilah semangat puritanisme yang digenggam erat.
Kyai Dahlan begitu tegas, agar setiap jamaah Persyarikatan itu kaya, produktif, hemat dan berkerja keras agar bisa menghidupi tidak menjadi beban di Persyarikatan apalagi terus merepotkan.
Di Persyarikatan, Semua berkerja tanpa memikirkan imbalan material. Samangat puritanisme sangat kental sebagai ruh yang mewarnai setiap aktifitas pemikiran dan aktifitas pergerakan. Muhammadiyah bukan saja gerakan pemikiran tapi juga gerakan amal. Ini yang membedakan nya dengan HTI, Salafi, FPI atau gerakan tarbiyah lainnya yang lebih mengedepankan pemikiran konseptual ketimbang amal. Muhammadiyah menjaga harmoni keduanya (pemikiran dan amal) dalam satu manhaj.
**^^
Max Webber dalam bukunya yang sangat terkenal: Die Protestantiesche Ethik Under Geits Des Kapitalismus menjelaskan bahwa setiap orang sudah ditakdirkan apakah masuk surga atau neraka bergantung hasil pekerjaannya ketika hidup di dunia tanpa mengabaikan imbalan materialnya.
Hal mana kemudian menjadi picu bangkitnya kapitalisme Eropa— gerakan puritanisme yang digagas Martin Luther King dan Calvinis juga berpengaruh siginifikan terhadap keberagamaan orang Protestan di kemudian hari.
Tak urung Webber meneliti dan menuliskannya dalam sebuah buku menarik tentang etika Protestan yang menjadi embrio lahirnya kapitalisme dan liberalisme di Eropa di penghujung abad tengah.
^^^^
Sejak mula saya mengira bahwa gerakkan puritan selalu punya benang merah dengan gerakan puritan lainnya, meski beda agama dan manhaj. Meski tak pernah ketemu karena kurun yang berbeda —- puritanisme Calvinis dan puritanisme kyai Dahlan mengandung kemiripan dan sebangun dalam pemikiran dan landasan Ethics-nya.
Puritanisme MUHAMMADIYAH juga tidak kalah menarik —- umat Islam menjadi progresif, maju dan dinamis khas gaya puritan. Bahkan berbeda dengan tempat Islam berasal, yang tetap kaku dan tidak menarik. Islam di Indonesia lebih kenyal dengan kultur dan fleksibel dengan tradisi lokal. Islam terasa makin indah dan komplet.
Makin banyaknya amal usaha bukan tanpa implikasi negatif, salah satunya adalah lahirnya ‘kelas buruh’ di Persyarikatan dengan berbagai latar pendidikan dan profesi— yang bisa saja kehilangan semangat puritan sebab lebih mengendepankan imbalan materialnya.
^^^^
Kepemimpinan juga mengalami migrasi dari kalangan swasta saudagar kaya dan petani produktif, ber-migrasi menuju kalangan birokrat terdidik. Disamping kabar baik juga hal yang bisa menjadi penghambat dinamisasi pergerakan bila tidak melahirkan keseimbangan.
Alma’un adalah teologi menolong bukan ditolong. Memberi bukan diberi. Sebab itulah orang Muhammadiyah harus ‘berani kaya’ untuk menghidupi Persyarikatan bukan sebaliknja—-

No responses yet