Ketika mudik atau pulang kampung, seringkali saat pamitan krna buru-buru hendak kembali ke Jakarta, entah karena tuntutan kerjaan atau ada problem yg harus segera diurus, orang-orang tua di kampung bilang; “Sak Madyo…saja”.
Begitu pula, saat menghadapi problema sebab menjalani tanggungjawab, orang tua juga bilang: “Sudah, sak madyo.. saja”
Dan, saat melihat ataupun mendengar sesuatu hal, yang memancing hasrat berkomentar ini dan itu, maka dengan halus orangtua mengatakan; “Sak madyo, saja”
Sebagai orang Jawa, saya membahasa-Indonesia-kan kata “Sak Madyo” dengan arti “tidak kurang dan tidak lebih”, atau bisa dikatakan “dengan sewajarnya” atau “secukupnya saja”. Kalo lagu Dangdutnya, “Yang Sedang-Sedang saja”. Kalo bahasa Pesantrennya, ‘Aushatul umuur’, artinya: yang pertengahan atau yg sedang-sedang saja.
Karena terlalu sering mendengar kata “Sak Madyo”, akhirnya saya mendapatinya pada 4 ayat di dalam Al-Qur’an. Sehingga saya berkesimpulan bahwa – In Syaa Allah – 4 ayat ini bisa dianggap merefleksikan makna terdalam kata ‘Sak Madyo’, yaitu;
Pertama; Surah Al Baqarah Ayat 68
قَالَ إِنَّهُۥ یَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةࣱ لَّا فَارِضࣱ وَلَا بِكۡرٌ عَوَانُۢ بَیۡنَ ذَ ٰلِكَۖ فَٱفۡعَلُوا۟ مَا تُؤۡمَرُونَ
Musa menjawab, “Dia (Allah) berfirman, bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) PERTENGAHAN antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Kedua; Surah Al Isra’ ayat 29
وَلَا تَجۡعَلۡ یَدَكَ مَغۡلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبۡسُطۡهَا كُلَّ ٱلۡبَسۡطِ فَتَقۡعُدَ مَلُومࣰا مَّحۡسُورًا
Dan JANGANlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan JANGAN (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.
Ketiga; Surah Al Isra’ ayat 110
وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا وَٱبۡتَغِ بَیۡنَ ذَ ٰلِكَ سَبِیلࣰا
Dan JANGANlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan JANGANlah (pula) merendahkannya dan usahakan JALAN TENGAH di antara kedua itu.
Keempat; Surah Al Furqan ayat 67
وَٱلَّذِینَ إِذَاۤ أَنفَقُوا۟ لَمۡ یُسۡرِفُوا۟ وَلَمۡ یَقۡتُرُوا۟ وَكَانَ بَیۡنَ ذَ ٰلِكَ قَوَامࣰا
Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, DI ANTARA KEDUANYA SECARA WAJAR
Sehingga, seyogyanya kata ‘sak madyo’ ini benar-benar dijadikan cara pandang umum akan kehidupan ini.
“Sak Madyo”, mengontrol hati dan fikiran dari ketakjuban pada seseorang (person) hingga memantik cinta buta. Yang akhirnya, meyakini bahwa orang tersebut adalah orang sempurna dan terbebas dari salah dan dosa.
“Sak Madyo”, menghindarkan diri dari fanatisme pada kelompok/golongan/sekte tertentu, sehingga membutakan hati nurani dari melihat kebenaran/ilmu dari sisi pandang pihak lain.
“Sak madyo”, mendorong diri untuk berlaku Adil semenjak dalam fikiran , dari merespon dan mengomentari hal-hal yg dilihat dan didengar. Sehingga, diri ini terjaga dari prilaku dzalim dan menyakiti.
“Sak madyo”, memberi ketenangan dan kejernihan fikir dan hati, dari ramainya taburan bunga ‘puji-pujian’ maupun pekatnya polusi sindiran, cercaan ataupun bulliyan. Karena, ‘Sak madyo’ menuntut kesadaran ‘Siapa laah diri ini, semua karena gusti Allah ta’ala’, jadi sewajarnya saja.
“Sak madyo”, menjaga hati dan fikiran dari mencintai harta dan jabatan secara berlebihan. Karena, hal ini diperoleh melalui asas “gantian”. Yakni, jabatan diperoleh dengan “menggantikan” pejabat sebelumnya yang telah wafat, pensiun ataupun dipecat. Begitupula dengan harta, diperoleh dengan “menggantikan” orang kaya sebelumnya yg telah wafat (warisan), bangkrut/sial, ataupun suratan nasib. Dan, itu semua juga akan “Digantikan” juga, tinggal nunggu waktunya saja. Olehsebab itu… “Sak Madyo” saja menjalaninya.
Jadi, ‘Sak madyo’ merupakan kebaikan, makna dan filosofi. Mungkin, bila hanya sesekali, rasa-rasanya mudah dipraktekkan. Tetapi, bagaimana dengan mempraktekkannya secara konsisten dan terus menerus?
Salahseorang ulama yg bijakbestari menasehatkan;
“Tidak akan pernah ada ‘Kebaikan’ terlihat nyata baik yang tidak terus-menerus. Tetapi, malahan ‘Keburukan’ yg cuma sekali (tak terus-menerus) akan terlihat nyata terus menerus, daripada Kebaikan yg justru telah terus-terusan.”
Waallahu al Musta’an

No responses yet