Oleh: Sofyan Tsauri

Saya di anggap terlalu berlebihan memuji rumah yang baru, lalu menjelek2kan rumah yang lama (lihat garis merah), lalu sebagian mereka ada yang mengatakan bhwa MUH jauh lebih mandiri dari NU, bahkan ada yang mengatakan MUH lebih punya Izzah (kemuliaan) dari NU itu sendiri, pertama tanggapan saya adalah, saya tidak mau terjebak mana lebih baik mana NU dan Muhamadiyah, Kedua, kedua Jam’iyyah di atas punya kontribusi bnyak bagi bangsa dan negara, mereka berdua adalah adik kakak dari benih, bapak dan guru yang sama, jadi saya tidak akan terjebak mana yang lebih baik.

Saya itu berkelana mncari kbnaran, dan saya yakin tidak ada yang sempurna dr smua ormas, Krn sejatinya kesempurnaan itu hnya milik Alloh SWT.

Taraju’ saya sebetulnya lbh Krn Bililmi bukan Krn yang lain, awalnya saya membca evaluasi AL-QAEDA sendiri tentang urgensinya bermazhab, bahwa metode bermazhab itu bukan rangka Ta’abudi, tetapi lbh kpd tertibnya ilmu, saya mnyadari bhwa cara kaum ekstrim itu Krn korban literasi beragama, adanya putus sanad dlm etika mncari ilmu, ada mata rantai dakwah yang putus, sehingga tidak saja kehilangan barokahnya ilmu tetapi berdampak kpd penyimpangan terhadap ilmu dan adab itu sendiri, dan ini kecelakaan terbesar.

Setelah saya bertahanust lama (di rumah Krn nganggur susah cari kerja.. hehehe), setelah melalui istikharah dan berdiskusi panjang, bahkan mencermati, maka saya melihat kecenderungan kelompok yang lbh mendekati kebenaran, lbh maslahat dr beberapa yang maslahat, dan lbh ringan bahayanya dr beberapa kburukan…

Tentu akan subyektif bagi orang yang melihatnya, kasus saya tentu berbeda dgn yang lain, bisa jadi iya bisa jadi tidak, ini murni pendapat saya saja yang bisa jadi salah dan alpa.

Lalu di katakan bahwa NU itu cenderung ada peran penjajah di banding MUH (lihat garis hijau), Ah kata siapa, ini fitnah, NU justru bnyak membidani perlawanan kpd penjajah, bhkan maaf MUH secara Jam’iyyah blm pernah mengeluarkan fatwa Jihad atau Jihad Fardhu ‘Ain secara resmi dan tegas melawan penjajah seperti NU, maaf bukan mau membandingkan.

Tetapi fatwa resolusi jihad perang semesta melawan penjajah Belanda di dukung oleh beberapa oknum muhamadiyah kpd NU saat itu, tetapi ini membuktikan bahwa mereka tidak bs berfatwa mendiri kecuali seijin Jam’iyyah itu sendiri, padahal perkara di atas bisa di sebut perkara bersifat sharih.

Pendirian Jam’iyyah Nahdlatul ulama itu merupakan mata rantai perlawanan ulama dan santri, para Umaro dari raja mataram Islam pertama, dari era Raden Fatah, Sultan Trenggono, Fatahillah, Pajang hingga Sultan agung, pangeran Diponegoro, lalu Syarikat Islam, lalu Kiyai Hasyim, perlawanan itu tidak saja bersambung kpd sanad keilmuan, perlawanan saja dan bahkan di sana ada sanad nasab juga.

Asal antum tahu, teologis Asya’ariyyah dan Maturidyyah justru yang paling getol melawan kolonialisme penjajah di hampir seluruh dunia negeri muslim, dari ujung Afrika dengan gerakan perlawanan Sanusiah oleh Syaikh Umar Mukhtar, lalu Imam Syamil dari Naqsabandiyah di Dagestan Kaukasus, lalu perlawanan rakyat Syam yang Syadziliyyah, lalu Kiyai Hasyim di pulau Jawa dgn tareqat Naqsabandiyah, Syadziliyyah dan Sattariyyah, itu semua adalah perlawanan umat Islam melawan penjajahan di bandingkan dengan gerakan Najd era anak cucu Muhamad bin Abdul Wahhab, bahkan merek berkerja sama dengan kolonial Inggris memerangi Turki Usmani dan beberapa Sultan yang berhubungan dgn Turki.

Mereka di kenal tidak kompromi, karena persoalannya jelas, musuh jelas salahnya dan perlawanan Islam sudah jelas benarnya, lalu Indonesia merdeka, mereka mengisi kemerdekaan dgn berperan lebih jauh lagi, mereka ada yang menjadi tentara, TNI dan Polri, menjadi kepala daerah dll, lalu ada beberapa masalah politik, lalu beberapa ulama di NU di suruh bersikap jelas terhadap permasalahan yang tidak jelas, ya jelas tidak bisa, dan kalian tidak bisa mendikte NU.

Jadi tolong, baca sejarah kembali.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *