Suatu Jumat petang menjelang maghrib, sekira 17.15 WIB, saya lihat ada mobil sedan silver berplat K——E akan parkir di depan rumah. “Ini nomor Blora,” gumam saya singkat. Setelah jenak berhenti, dan penumpangnya turun, benar saja dugaan saya. Beliau adalah KH. Muharror Ali, seorang alim, santri kinasih Mbah Abdullah Salam & Mbah Sahal Mahfudz. Juga sosok begawan Al-Quran didikan Mbah Arwani, Kudus. Beliau pengasuh PP. Khozinatul Ulum. Pesantren besar di Blora. Ayahanda dari Ning M.n. Ulya

Tiba di rumah kami, pertama kali disambut oleh kakak laki² tertua kami; Mas Amiruddin (Didin Emier). Masuk rumah, lalu menemui Ibu kami, menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Kang Muchson Yamin, serta menyampaikan salam dari istri beliau sebab tak dapat turut hadir. Ramah tamah singkat, lalu beliau bertanya yang kurang lebih percakapan beliau dengan kakak kami seperti ini:

“Makame caket?” (Makamnya dekat?)

“Caket yai, antawis 200 meter.” (Dekat yai, sekitar 200 meter)

“Kulo pengen teng makam.” (Saya ingin ke makam)

“Keadaanipun kados mekaten yai, grimis, kaleh makamipun radi becek” (Keadaanya seperti ini kiai, becek, dan makamnya becek).

“Mboten nopo-nopo.” (Tidak apa-apa)

Waktu menunjukkan 17.30. Sayup-sayup suara murottal jelang adzan maghrib terdengar mulai bersautan. Saya mengendarai Motor Supra abah saya, memboncengkan kakak saya. Di belakang kami, Mobil yang membawa Kiai Muharror mengikuti.

Sesampai di makam, Kakak meminta saya mendampingi, memayungi Kiai Muharror. Sedang kakak saya mengambil dingklik (semacam bangku kecil) untuk tempat duduk beliau nanti di makam. Saya memberanikan untuk memegang lengan beliau ‘menuntun’ ke arah pusara abah, mengingat licinnya jalan.

Di sela-sela jalan kaki, dengan kondisi tanah pemakaman yang becek & menggenang sana-sini saya berulang kali menyampaikan permohonan maaf kepada beliau:

“Saestu ngapunten sanget kiai, kondisinipun becek sanget & licin.”

“Mboten nopo-nopo…, kulo mpun biasa ngeten niki.” Jawaban beliau yang begitu menenangkan.

“Monggo mawi mriki, kiai.” (Mari, lewat sini, kiai). Ujar saya memilihkan jalan yang menurut saya efektif (cenderung tidak becek & licin) menuju makam.

Sepanjang jalan, beliau mengajak saya berbicara hal-hal ringan, bertanya tentang kapan dan kronologi wafatnya abah. Tentang suburnya tanah kubur ini, sebab digali 1,5 meter saja keluar sumber air.

Lalu beliau juga menyampaikan yang kurang lebih dalam bahasa Indonesia seperti ini, “Andai saja tadi bukan jadwal khutbah saya di Masjid Agung Blora, saya sudah ke sini pagi.”

“Ya Allah, saestu niki sampun matur nuwun sanget, kiai.” Sahut saya.

Sampai di arah barat dekat makam abah, saya menghentikan langkah, dan matur ke beliau: “Teng mriki nggih kiai.” (Di sini, kiai)

“Ngken, ngken…” (Sebentar, sebentar). Sembari itu beliau tetap berjalan. Saya tak lagi menunjukkan arah berjalan, dan sama sekali tak tahu maksud tujuan beliau. Jujur, beliau melompati sendiri genangan demi genangan air yang becek penuh lumpur tersebut. Dan saya hanya menguntuti di belakang beliau.

Sampailah beliau di timur pusara abah. Berdiri sejenak. Lalu takbiratul ihram. Saat itulah saya benar-benar baru tahu, maksud beliau ‘membabat’ jalan sendiri hingga berdiri di arah timur pusara abah adalah untuk Solat Ghaib. Saya berkaca-kaca melihat pemandangan itu.

Dalam pengalaman hidup, ada hal-hal tampak remeh namun dapat membuat hati kita lega dan tersanjung. Seperti ingatan-ingatan kuat orang lain pada identitas kita. Misalkan dalam doa barusan yang saya dengar, beliau menyebut nama ‘Muchson Yamin’ padahal di batu nisan saja nama abah tertulis ‘Muchson’ saja. Artinya, beliau benar-benar mengingat nama sang kawan tanpa mereview kondisi sekitar, atau bertanya lagi.

Setelah salat ghaib, beliau hendak jongkok. Lalu kakak saya mendekat menyiapkan ‘bangku kecil’ untuk duduk beliau.

“Mpun mboten, mboten usah, kulo mpun biasa ngeten niki (jongkok).” (Sudah, sudah, ndak usah, saya sudah terbiasa jongkok seperti ini).

Namun kakak kami sedikit ‘memohon’ untuk mempersilakan beliau duduk. Akhirnya beliau berkenan duduk di bangku kecil tersebut.

Beliau memimpin tahlil.

Usai tahlil, kami berjalan kembali. Cuci kaki di tempat tersedia dekat mobil beliau. Kemudian sebelum masuk mobil, beliau menanyakan identitas kami, saya yang anak ke-4, lalu kakak laki² tertua anak ke-2. Juga domisili kami, saya di Kudus. Kakak hidmah di Mathole & Maslakul Huda, Kajen.

Saya juga sempat menyebut nama Mas Rizal Ahmad Saiful Rizal kawan saya di Jombang yang kini mengaji kepada beliau sekaligus mengajar di Khozin:

“O… Rizal Dosen? Kancane sampean niku?”

“Nggih Kiai, rencang sekamar rumiyen di Jombang”

“Iyo ijeh neng kono (Khozin), ngaji karo ndosen dekne. He’e ijeh ning kunu.”

Sebelum masuk mobil beliau menutup pertemuan kami, dengan sebilah kalimat pendek, “Haiyo kenangan tenan karo Pak Muchson iki. Lha biyen Mbah Sahal pertama ijazah hadist musalsal yo wong loro niki, aku karo Pak Muchson.”

Satu hal ini, abah tak pernah menceritakannya kepada saya. Saya justru baru saja tahu dari Kiai Muharror.

Yang saya tahu, Kiai Muharror adalah sahabat karib Abah sejak di Kajen. Tepat 1 leting, adik kelas abah di Mathole’. Sesingkat itu saja yang saya tahu. Kebetulan Nenek saya dari Ibu adalah orang Blora. Di masa kecil hingga remaja, saya mengetahui sendiri saat berkunjung ke rumah Nenek, Abah selalu izin untuk keluar sendiri, ‘dolan’ ke Kediaman Kiai Harror di Khozinatul Ulum. Kadangkala juga bersama Ibu saya. Jaraknya kediaman beliau sekitar 1km dari rumah nenek saya. Namun saya tak pernah ikut melainkan lebih memilik asyik bermain dengan para sepupu saya.

Pemandangan beliau hadir jauh-jauh Blora-Pati hanya berdua dengan Seorang Santri Driver beliau, dalam rangka berkenan menyempatkan untuk takziah, hingga minta diantarkan langsung ke pusara abah, bagi kami adalah teladan yang luar biasa dicontohkan oleh beliau. Terlebih di tengah-tengah aktifitas padat beliau sebagai pengasuh pesantren, tokoh besar di masyarakat. Kami yang masih santri kecil biasa, dengan kesibukan yang jauh dibanding beliau saja, belum tentu bisa melaksanakan komitmen tradisi kepesantrenan seperti yang baru beliau lakukan tersebut.

Lebih-lebih, setelah itu, kami dikabari salah seorang keponakan kami, yang ‘nyantri kalong’ di pesantren beliau, sejatinya kondisi kesehatan beliau sedang kurang fit. Ya Allah. Kondisi yang membuat kami semakin terenyuh, dan tercambuk untuk mampu meneladani komitmen kuat beliau pada ‘tradisi kepesantrenan’ tersebut. Serta solidaritas persahabatan yang luar biasa, hingga akhir ayat, berbeda alam.

Semoga senantiasa panjang umur Kiai Muharror Ali. Umat masih amat membutuhkan panjenengan.

*(NB: Kesalahan yang mungkin terjadi di tulisan ini adalah kemungkinan tidak tepatnya beberapa pengutipan saya terhadap dengan dawuh² beliau. Barangkali ada yang tanpa saya sengaja sedikit ketambahan atau behkan terkurangi. Semisal kapan saja dawuh beliau yang menggunakan jawa halus, sedang sebagian yang lain jawa biasa. Kalimat² yg saya tulis masih dalam kadar ‘kurang lebih’ esensinya demikian. Adapun untuk urut²an pengucapannya insyAllah sudah persis seperti itu. Mohon maaf atas segala khilaf).

Sumber: FB Ahmad Islahul umam 

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *