Imam Ghozali menetap di Nisabur, hingga wafatnya guru beliau yaitu Imam Haromain, tahun 478 H. Lalu beliau pindah ke istana Wazir (menteri) Nidzomul Mulk yang bernama Al Hasan bin Ali At Thussy (408 H-485 H), seorang wazir yang alim dan sangat mencintai majelis ilmu.
Sang Wazir ini punya rutinan majelis yang berisi para ulama dari berbagai negeri. Beliau juga senang mengumpulkan orang-orang alim yang punya potensi jadi ulama besar, seperti Imam Ghozali. Maka dari itu, Imam Ghozali diundang untuk tinggal di istana Sang Wazir untuk meramaikan mejelis ilmunya.
Imam Ghozali tinggal di istana tersebut hingga tahun 484 H. Karena cemerlangnya pemikiran beliau, Imam Ghozali mendapat tugas menjadi rektor di Madrasah Nidzomiyah Pusat di Baghdad, sebuah Universitas bergengsi di zaman itu. Setara Al Azhar di Mesir. Sejak saat itu, beliau pun pindah ke Iraq. Saat itu Imam Ghozali berumur 34 tahun. Karena jadi rektor Universitas Nidzomiyah Pusat di Baghdad, maka otomatis Imam Ghozali ditasbihkan jadi Imam Utama (Grand Syaikh) Negeri Baghdad, pusat pemerintahan Abbasyiyah.
Tak ayal, nama Imam Muhammad Al Ghozali Ath Thussy pun jadi terkenal seantero negara. Majelis beliau pun didatangi ribuan orang, dari pejabat hingga orang biasa. Beliau juga mengajar di Nidzomiyah. Kedatangannya di Baghdad mengubah suasana keilmuan lebih semarak di Baghdad. Beliau pun ditasbihkan jadi Imam besar Negeri Iraq dan Jazirah Khurasan. Gelimang kemewahan, penghormatan dan kekayaan pun otomatis mengikuti beliau, seiring menanjaknya nama Imam Ghozali.
Namun di tengah menikmati kemasyhuran nama beliau, sekitar 4 tahun kemudian, Imam Ghozali mendapat satu teguran besar yang langsung menampar qolbu beliau dan menghujam dalam jiwa. Satu kegelisahan yang membuat kemasyhuran dan kekayaan itu tiba-tiba jadi hampa. Tiba-tiba dirinya mengalami krisis keraguan yang meliputi akidah dan semua jenis ma’rifat. Kegelisahan yang menjadi titik balik Imam Ghozali. Konon, kegelisan itu berasal dari perkataan sang adik yaitu Imam Ahmad Al Ghozali Ath Thussy, yang memang ahli tirakat dan tashowwuf, yang berkata pada kakaknya, “Semua yang kamu katakan di depan majelis akbar itu, walau benar, tapi kering makna dan penuh rekayasa yang menipu dirimu sendiri,”
Suara kegelisahan dalam hati Imam Ghozali, seperti yang ditulis di Munqidz Minadz Dzulal, itu terus berkata, “Padahal sudah jelas bagi diri saya, tidak ada kebahagiaan di akhirat kecuali dengan ketaqwaan, mencukupkan diri dari hawa nafsu. Dan untuk mencapai semua itu, tidak ada jalan lain kecuali memutus keterkaitan hati dengan dunia, mengosongkan hati dari darul ghurur (tipuan dunia), bergegas menuju darul khulud (kebahagiaan akhirat), takluk dan pasrah pada ketentuan Gusti Allah. Semua itu tidak sempurna kecuali dengan hati yg menolak semua bentuk kotornya penghormatan makhluk dan kekayaan dan lari dari segala bentuk kesibukan dan akal-akalan yang membenarkan tipuan dunia”
Maka seketika Imam Ghozali punya krenteg untuk minggat dari semua kemasyhuran dan kemewahan dirinya di Baghdad. Imam Ghozali pun memulai perjalanan untuk mengasingkan diri, menjauh dari orang yang mengenal beliau, berkelana untuk mencapai ilmu yang sejati. Rihlah Imam Ghozali dalam rangka minggat dari kemasyhuran dan kemewahan ini dimulai di bulan Dzul Qo’dah tahun 488 H. Konon, Imam Ghozali minggat hanya berbekal ember dan jarum. Ember untuk wudhu dan mandi, jarum untuk menambal bajunya agar tertutup aurat.
Pertama, Imam Ghozali melaksanakan ibadah Haji. Setelah itu, rute perjalanan Imam Ghozali menuju Syam. Sebelumnya, beliau singgah di Baitul Maqdis, Palestina.
Di Baitul Maqdis, maksud hati Imam Ghozali ingin mengasingkan diri dan fokus untuk uzlah, kholwat, riyadhoh, mengekang nafsu, menyibukkan diri dengan tazkiyatun nafs (pembersihan hati), mengisi hati dengan berdzikir. Namun, di sana ternyata banyak orang yang masih mengenali beliau sebagai Imam Besar Khurasan. Ini mengganggu beliau. Akhirnya setelah 10 tahun di Baitul Maqdis, beliau langsung pergi menuju Syam.
Selama menuju Syam, Imam Ghozali hidup berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lain, dari satu gunung ke gunung yang lain untuk menghindari manusia. Setelah sampai di Syam, beliau tinggal di Menara Putih Masjid Jami’ Bani Umayyah. Imam Ghozali juga sering menghadiri majelis di zawiyah Syaikh Nashrul Maqdisi.
Atas desakan penguasa Baghdad, setelah 10 tahun uzlah di Syam, Imam Ghozali pun mengakhiri uzlahnya. Beliau merasa sudah waktunya kembali pulang ke kampung halamannya di Kota Thuss. Kembali ke kampung halaman, Imam Ghozali kembali mengajar di Madrasah Nidzomiyah cabang Nisabur pada bulan Dzul Qo’dah tahun 499 H.
Tidak lama Imam Ghozali mengajar di Madrasah Nidzomiyah Nisabur, konon dikarenakan tiba-tiba Imam Ghozali tidak mampu mengeluarkan kata-kata saat di depan para santri. Mengajar kembali di Madrasah ternama dengan santri terbaik, rupanya mengingatkan krisis kegelisahan beliau beberapa tahun yang lampau. Ini sangat menyesakkan bagi beliau. Akhirnya, beliau tinggalkan Madrasah Nidzomiyah dan menyepi di rumah beliau di Kota Thuss.
Di rumah, Imam Ghozali fokus kembali menjalani hidup secara sufi : mengkhatamkan Qur’an, menghadiri majelis ahlul qulub, membaca lagi hadits-hadits Kanjeng Nabi Muhammad SAW, membahas keilmuan-keilmuan dasar, memperbanyak sholat dan puasa. Hari-harinya tidak sepi dari perbuatan yang bermanfaat.
Hingga menjelang akhir hayat beliau, Imam Ghozali tiba-tiba meminta saudarnya untuk menyiapkan kain kafan. Lalu Imam Ghozali pun berwudhu dan mandi. Setelah itu, beliau berbaring beralaskan kain kafan yang telah disiapkan, sembari muthola’ah kitab. Kitab yang dibaca saat itu adalah Kitab Shohih Bukhori Muslim, yang merupakan 2 kitab yang jadi hujjah agama Islam. Walau sebenernya Imam Ghozali sudah hapal di luar kepala hadits2 di dalam dua kitab tersebut, beliau tidak bosan mengulang-ulangi membaca keduanya. Hingga saat arwah Imam Ghozali diangkat, beliau masih dalam keadaan membaca kitab Shohihain tersebut.
Hujjatul Islam Al Imam Abu Hamid Al Ghozali pun wafat di hari Senin, tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H. Rohimahullahu Ta’ala waasi’atan.
Imam Ghozali ditasbihkan oleh banyak ulama sebagai mujaddid (pembaharu) Islam abad 5 H, berkat pemikiran-pemikiran hebat beliau yang revolusioner di berbagai bidang keilmuan, yang berhasil membangkitkan ghiroh banyak umat Islam untuk beramal sholih demi kemajuan di dunia dan akhirat. Salah satu ulama yang memention gelar mujaddid pada Imam Ghozali adalah Imam Az Zabidi. Konon, Sultan Sholahuddin Al Ayyubi pun banyak terinspirasi oleh Ihya’ Ulumiddin karya Imam Ghozali, sehingga bangkit cita-citanya untuk menguasai Yerussalem di kancah perang salib.
Ilaa Hujjatul Islam Al Imam Al Mujaddid Abu Hamid Muhammad Al Ghozali, lahul Faatihah.

No responses yet