Setiap pulang sholat subuh selalu saja ada pemandangan adem yang bisa dijumpai dari beberapa pasang jama’ah (suami istri) yang terlihat begitu mesrah. Umumnya mereka sudah mendekati usia kakek nenek. Ada yang selalu berjalan kaki dimana sang suami selalu memeluk pundak sang istri (Ya Allah segerakan para jomblo menikah), keduanya berjalan pelan saling menopang. Konon pasangan ini dikenal sebagai pasangan “pencemburu” karena besarnya cinta mereka. Si kakek memang pernah jatuh dan harus pakai tongkat. Tapi Alhamdulillah beliaunya sudah sehat kembali dan sepasang kekasih ini kemudian lebih memilih saling menjadi tongkat untuk pasangannya ketika berjamaah ke masjid.

Ada pasangan kedua usianya lebih muda dari pasangan sebelumnya, setiap selesai sholat si suami dengan setia menunggu istri di atas sepada motornya. Sang istri kayaknya lebih lama wiridannya dan sang suami setia menunggu untuk kemudian mengantarkan sang istri ke tukang sayur untuk belanja. Si suami pun dengan wajah senyumnya (karena memang sangat ramah dan selalu terlihat bahagia), setia menunggui. Pasangan ini dikenal sebagai pasangan yang sangat suka menolong tetangga dan siapa saja yang datang minta pertolongan.

Kemudian ada pasangan ke tiga, konon sang suami baru saja purna dari tugas pengabdian pada negara dan masyarakat. Sang suami sangat disiplin berjamaah, setiap selesai sholat subuh sang istri menunggu di parkiran masjid. Untuk pasangan ini kayaknya sang suami jauh lebih lama wiridannya ketimbang sang istri. Setiap pergi dan pulang sering saya bertemu dengan pasangan mesra ini yang berbeda aliran ini. Sebab sang suami dikenal sebagai orang Islam “modernis” dan sang istri “tradisionalis”. Keduanya ahli ibadah dan juga senang sekali bersedekah. Konon sang istri adalah seorang pengusaha.

Ada juga pasangan yang lebih muda, karena anak2 nya masih sekolah. Pasangan ini lebih hebat lagi, ujian yang menimpa dalam perjalanan bahtera keluarganya luar biasa berat. Setiap mengingat curhatan mereka, saya bahkan selalu menangis dan membuat saya malu untuk mengeluh kepada Allah. Keduanya tidak pernah keluar masjid sebelum tuntas berdoa bersama imam. Pengalaman hidupnya yang keras membuat keduanya yakin hanya Allah-lah satu-satu tempat menyandarkan kehidupan keluarganya.

Pasangan-pasangan seperti ini sebelum masa pandemi sangat banyak dan setiap subuh hampir selalu mengisi kotak infaq masjid. Seperti kebiasaan jama’ah setia Al Muttaqien lainnya. Sebagian pasangan Jama’ah ini pernah menjadi santri iqra’. Hebatnya mereka sudah melampaui gurunya dalam hal ibadah dan keistiqomahan sholat berjamaah setiap waktu. Mereka hidup dalam kesederhanaan, meski kadang juga menghadapi cobaan berat yang tak bisa dibayangkan. tetapi beliau2 sadar Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

Sebagian pasangan jama’ah pernah mengaku bahwa dulu mereka sangat mudah emosi dan egois, jika berbeda pendapat. Alhamdulillah sekarang sudah jarang dan bisa lebih bisa mengontrol diri. Curhatan mereka, bahwa sholat berjamaah membuat mereka semakin saling menguatkan satu sama lainnya. Tak peduli Pandemi mereka tetap ke masjid dengan protokol ketat. Sebab mereka merasakan betul makna dan hikma sholat berjamaah. Apalagi suasana jama’ah masjid juga sudah relatif tenang. Hibah sudah jauh berkurang, tinggal beberapa orang muda yang selalu ingin tampil menang. Meski kadang justru memperlihatkan kelemahan. Tapi begitulah memang watak pemuda, tinggal yang tua harus bisa bijak untuk tahu kapan mereka harus didukung dan kapan harus ditahan agar tidak merusak keharmonisan. #SeriPaijo

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *