Oleh : Ahmad Mughni
Kertas, koin dan angka-anga di layar apps finansial yang kita sebut sehari-hari sebagai rupiah serta mata uang lain itu tidak memiliki kualifikasi untuk disebut sebagai uang. Banyak yang gagal paham memahami perbedaan pengertian mendasar dari harta (kekayaan), uang dan currency (maaf saya tidak bisa alih bahasa currency menjadi mata uang tanpa menimbulkan kerancuan pemahaman).
Antara currency dan uang sama-sama memiliki banyak persamaan tetapi ada dua perbedaan mendasar dari uang dan currency adalah:
- Currency tidak bisa menyimpan nilai kekayaan dalam jangka waktu lama (nilainya terus menurun) vs Uang bisa menyimpan nilai karena ia memiliki nilai intrinsik.
=> Saya ingat dulu saat SD tahun 1980-an dengan uang saku 25 rupiah saya sudah bisa beli jajan es tape dan satu jajan lain. Saat itu dengan Rp 75 saya bisa membeli pangsit mie. Kini harga termurah pangsit mie minimal Rp 5000. Para ekonom menyebutnya sebagai inflasi, padahal sejatinya adalah perampokan kekayaan publik oleh otoritas moneter dengan politik defisit anggaran dan atas dalih stabilitas ekonomi maupun pembangunan.
- Uang bisa dicetak oleh otoritas dengan berbagai dalih. Sedangkan Uang (dalam hal ini logam mulia) tak bisa diciptakan manusia. Jumlahnya terbatas adanya pada deposit-deposit sebagai kekayaan alam yang digali dan dimurnikan manusia.
==> Tahukah anda bahwa dengan dalih Covid 19 di 2 bulan pertama Covid saja USA telah mencetak 3000 T US$ belum lagi kebijakan moneter Quantity Easing berkali-kali sejak beragam krisis dan hancurnya beberapa buble economy yang melandanya ribuan triliun dollar telah dicetak mereka dan inflasinya diekspor ke seluruh penjuru dunia. Tahukah anda bahwa untuk membiayai berbagai perang (misal perang Vietnam, Korea sampai Perang Irak), atau menguasai suatu tambang tertentu di berbagai negara, para elit ini kongkalikong tinggal cetak uang tanpa sebenarnya punya kekayaan real. Mereka membeli lahan, menyogok pemerintah setempat, membeli alat produksi, dan menggaji pegawainya dengan tangan kosong lalu mengekspor inflasi dolarnya untuk ditanggung seluruh umat manusia sedunia. Apakah ini penjajahan model baru dan perbudakan model baru yang diingatkan Soekarno sebagai bahaya neo kolonialisme dan neo imperialisme?.
Belum lagi soal bagaimana uang fiat ini dicetak, yang prinsipnya sangat ribawi karena semuanya berbasis pada utang dengan bunga yang dijamin oleh negara dengan menjual surat utang sebagai cara untuk tetap jalan dengan kebijakan defisit anggarannya. Belum lagi soal kebijakan fractional reserve banking yang diterapkan sehingga sistem moneter berjalan yang juga sangat ribawi.
Sayang sekali anggapan bahwa uang fiat halal dan dianggap lucunya gerakan menghidupkan kembali emas dan perak sebagai uang sesungguhnya seringkali tidak dibaerengi dengan pemahaman mendalam dan menyeluruh mengenai dinamika sejarah sistem moneter dunia. Sayang sekali ulama yang benar-benar paham mengenai sistem moneter, yang mengharamkan uang fiat tapi menghukumi saat ini kondisi darurat maka boleh menggunakannya tidak pernah menjadi arus utama.
Banyak juga aktifis sosmed yang menggunakan argumen diluar masalah seperti cinta tanah air, atau dangkal seperti bahwa emas pun nilainya naik turun, atau pemahaman sejarah pendek bahwa dinar dan dirham itu bukan uang yang disyariatkan hanya gara-gara emas dan perak telah menjadi alat tukar sejak jauh sebelum masa pra Islam dll.
Di antara mereka banyak yang tidak tahu mengapa FD. Roosevelt mengeluarkan larangan warga menyimpan emas dan perak di US, bagaimana IMF terbentuk, banyak yang tak membaca tentang konferensi Bretton wood. Banyak yang tak membaca kaitan antara sistem moneter busuk ini dengan gerakan yang menentangnya yang dilakukan oleh Presiden Perancis Charles De Gaulle, JFK serta Soekarno baik secara sendiri-sendiri maupun berusaha berkoolaborasi dan apa yang terjadi pada ke tiga pemimpin tersebut. Banyak yang tidak paham bahaya neokolonialisme dan neoimperialisme yang disampaikan Soekarno berkali-kali dan upaya radikalnya keluar dari PBB dan IMF. Banyak yang tidak paham apa yang terjadi tahun 1971 saat presiden Nixon ingkar janji. Banyak yang tak bisa menjelaskan mengapa Afghanistan, Irak. Libya serta Suriah “harus dihancurkan” dalam kaitannya dengan sistem moneter dunia.
Bagi mereka yang serius mempelajari sejarah moneter dunia dan dinamikanya, akan sampai pada kesimpulan yang sama yakni: Uang fiat yang berlaku efektif sejak 1971 lalu menjadi petro dollar saat 1973 itu adalah bentuk penipuan terbesar sepanjang sejarah umat manusia. The biggest scam in human history. Bahkan, di antara para pemikir pertentangan perebutan kuasa dunia, munculnya teroris berbalut agama, huru hara dengan title arab spring, atau perang asimetris yang efeknya kita rasakan bahkan di negri kita ini, itu semua hanya cabang sedangkan pangkal pokoknya adalah sistem moneter dan keuangan dunia. Sistem moneter dan perbankan dunia saat ini adalah the head of the snake.
Saya pribadi sangat berharap ada kajian serius ulama dengan pemahaman mendalam soal masalah ini, bagaimana seharusnya ummat bersikap dan menjalani hidup dalam situasi begini. Sementara waktu, let’s educate ourselves.
Gadungan, 05 02 2021

No responses yet