_”Wahai Istriku esok hari masakkan untukku seperti ini lagi! “_

Kiai Ma’roef 

Bukan seorang ulama jika tidak memiliki kesabaran berlipat. Banyak di antara ulama yang sangat sabar dalam kehidupannya. Sebagaimana para nabi pengemban risalah yang kemudian ulama sebagai pewarisnya. 

Sebagai pewaris para nabi, para ulama tentu memiliki kemiripan dengan prilaku para nabi. Utamanya dalam hal sabar menghadapi segala hal yang ‘kurang’ baik. Ada ulama yang sabar dalam dakwah kepada kaum dan anak istrinya seperti Nabi Nuh As., Ada yang sabar menerima ujian dari Allah seperti Nabi Ayub As., dan yang sabar menunaikan perintah Allah seperti Nabi Ibrahim As.

Dalam hal sabar tiap-tiap ulama pasti memiliki rujukan. Minimal padanan oleh para pendahulu mereka yakni para nabi. Termasuk di antaranya bersabar mengahadapi istri. Bagaimanapun ulama adalah penerus Nabi Saw., sehingga mereka pun mengikuti sunah beliau untuk memiliki pasangan. Meskipun prilakunya mungkin kurang baik.

Dalam berhadapan dengan istri, ada beberapa ulama yang sangat sabar–ulama Nusantara khususnya. Kita mengambil contoh mislanya Kiai Sholeh Banjarmelati, yang sabar disiram bekas cucian beras oleh sang istri ketika hemdak masuk rumah. Ada lagi yang sabar menahan pahit atau asinnya masakan seperti Kiai Ma’roef Kedunglo. 

Khusus kisah Kiai Ma’roef, dikisahkan bahwa beliau suatu saat dimasakan lauk oleh sang istri namun masakan itu sangat pahit atau asin. Namun seketika waktu makan tiba Kiai Ma’roef memakan semua hidangan yang disajikan sang istri.  Bahkan seusai makan ia mengatakan, “Wahai istriku esok hari masakkan untukku seperti ini lagi.” 

Dari kisah di atas, cukuplah menjadi bahan pelajaran bagi siapapun utamanya para ulama atau kiai. Mereka-mereka paea ulama yang telah lalu sangat sabar mengahadapi pasangan hidupnya. Bukan hanya sebagai pertanggungjawaban sebagai kepala keluarga, melainkan sabar dalam menghadapi perlakuan yang kurang mengenakkan. 

Dari buah kesabaran mengahadapi pasangan itulah para ulama memiliki kelebihan. Minimal sebagai latihan dakwah bil hal. Sebagai ujian awal sebelum berhadapan dengan khalayak umum. 

Demikialah sekilas kisah kesabaran ulama. Semoga kita mamou memetik hikmah sekaligus keteladanan dari mereka. 

Wallahu A’lam Bisshawab. 

Kediri, 07-02-2021.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *