Lihat statusmu atau komen dan meme yang antum sebar — apakah kebaikan atau kabar fitnah dari berita hoax — apakah kabar menentramkan atau meresahkan. 

*^^^*

Berapa ribu yang sudah baca, berapa ribu yang share— banyak orang membenci bermusuhan hanya karena lewat media sosial. Tak terasa kita membenci atau menjadi penyebab seseorang membenci atau memusuhi seseorang tanpa klarifikasi. 

Tidak pernah ketemu langsung, tidak melihat dengan benar, juga tidak melihat dengan berbagai sudut pandang, sudah mengklaim si fulan begini si fulan begitu. Kemudian disebar agar yang lain ikutan resah. Disebar tentang negara dalam keadaan begini dan begitu dengan tujuan agar negara kolaps dan kacau. Senang kalau negara sendiri bangkrut, senang kalau negara sendiri tertimpa musibah. Sungguh memprihatinkan. 

Saling mengolok dan memberi sebutan buruk, padahal satu iman, satu shaf dalam shalat, hanya beda pilihan politik, beda yang di dukung, beda yang dipilih, kemudian saling mengkaferkan, saling menyesatkan dan mendoakan : semoga diberi hidayah. 

Doa yang sangat baik, tapi juga menyinggung. Seakan hanya dirinya yang mendapat hidayah, orang lain belum, meski sudah shalat, puasa, bayar zakat dan pergi haji, tapi tak cukup, sebab bukan kelompoknya, bukan golongannya. Mendapat hidayah itu kalau seseorang mengikuti ke dalam kelompoknya, masuk dalam halaqahnya atau berguru pada guru yang sama— kalau tidak, dianggap belum mendapat hidayah.

*^^^^*

Mendukung  Jokowi dan siapapun yang dekat dengannya dianggap musuh dianggap lawan, apapun yang dilakukan selalu salah, tidak ada benarnya sama sekali. Yang ada dipikiran bahwa rezim ini kafer,  rezim zalim dan harus digulingkan. 

Sebaliknja yang membenci HRS juga sama, membabi buta, merendahkan, memberi stigma negatif apapun yang dilakukan dianggap salah. Memfitnah, membongkar aib dan menyebarkannya dengan tujuan buruk. Takut dengan khilafah, paranoid dengan jilbab, takut dengan gamis kemudian menuduh radikal, ekstrim, dan teroris. Sungguh tak masuk di akal. 

Dibekap kabar dusta, stigma negatif dan hoax, dosa-dosa ini beranak pinak karena disebar kepada ribuan orang, ribuan bahkan jutaan folowwers. Dengan cara apa meminta maaf, dengan cara apa menyesal, apakah cukup ? 

*^^^^*

Membenci dan mencintai Jokowi dan HRS secukupnya — padanya ada kebaikan juga kekurangan. 

Ambil yang baik dan buang yang buruk. Semoga kita tidak termasuk orang yang ketagihan dengan berita bohong, Allah berfirman: ‘Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, kemudian menyebarkannya dan banyak memakan yang haram. [Al-Maidah : 42], Ingat pula : ‘Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berbuat tidak adil .. “.  

Itulah moderasi atau wasatihyah yang saya pahami. Umat Islam terbaik (Khairu Ummah) adalah saksi bagi kelompok atau golongan yang berbeda— tidak larut dalam kebencian dan tidak tenggelam dalam euforia suka cita yang dalam. Jadikan media sosial sebagai lahan mendapat kebaikan bukan menabur kebencian dan fitnah. Medsos-mu harimau-mu —

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *