Suatu malam saya ada debat sama atheis milenial. Saya pakai argumen kasualitas untuk membuktikan adanya Kausa Prima, saya kasih analogi sederhana. Dan terlihat, si atheis berargumen ruwet untuk mempertahankan pendapatnya. Pokoknya, apapun analogi yg saya berikan, dia bikin ruwet sendiri. Si atheis ini menutup nalar kemanusiaannya dengan mengada-adakan argumen yang ruwet yg susah diamini nalar manusia sederhana. Padahal hukum kasualitas itu sederhana, adanya sesuatu itu pasti menunjukkan keberadaan sesuatu.

Dan akhirnya di satu titik, saya pun menyadari sesuatu. 

Pada dasarnya, Gusti Allah itu gak butuh mau diakui eksistensinya atau tidak. Karena semuanya sudah jelas, gak perlu dinalar ruwet-ruwet. Andai orang mau mengakui eksistensi Gusti Allah atau tidak, itu gak penting bagi Gusti Allah. Dia tidak akan naik atau turun derajat ketuhanan-Nya. Justru manusianya sendiri yang bakal bingung sendiri.

Makanya Gusti Allah dawuh

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” (Al Baqoroh 256)

Karena, kalo seseorang itu mau jujur, tidak dihalangi oleh argumen2 ruwet dan membiarkan naluri kemanusiaannya berbicara, seseorang itu akan lebih mudah menerima keberadaan Gusti Allah. Karena setiap manusia dibekali oleh akal sehat yang otomatis akan menunjukkan keberadaan-Nya.

Jadi, batas kita cuma bisa menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Urusan dia sadar atau tidak, itu bukan ranah kita. 

Saat kita berdebat sebenarnya untuk mengetahui batas kita sendiri, bukan untuk membenarkan orang. Kalo udah ketemu batas kita, kita harus akui batasan itu dan bersyukur kita punya batas. Artinya kita telah memastikan diri masih berdiri di maqom hamba, gak punya bakat jadi tuhan.

Karena apapun amal manusia, sebenernya makin membenarkan maqom kehambaannya sendiri dan makin meneguhkan maqom ketuhanan Gusti Allah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *