Sabar, énténg kecapé abot saggane. Ya, sabar, sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi seringkali sulit untuk dilakukan. Padahal, sabar adalah kunci kesuksesan, jalan kedamaian, serta pintu kebahagiaan.
Begitu pentingnya sikap sabar, sampai-sampai sejumlah ayat dalam al-Qur’an menyebutnya sebagai jalan keluar, solusi atas segala persoalan. “…Dan meminta tolonglah kalian dengan sabar dan sholat”, demikian ayat ke-45 surat Al-Baqarah menegaskan.
Dalam ayat lain, Allah Swt menyebutkan bahwa “sesungguhnya manusia sungguh dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran” (Q.S. Al-‘Ashr: 2-3).
Allah sangat mencintai orang-orang yang sabar. Kesabaran adalah sebuah proses pendakian menuju puncak kesuksesan, ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian.
Kadang, kondisi memang menyudutkan kita. Seakan tidak ada ruang untuk sekadar memberi kata ‘maaf’ kepada seseorang yang telah menyakiti hati kita. Ditambah lagi provokasi orang-orang di sekeliling kita yang seakan menuangkan ‘bensin’ di tengah kobaran api. Tetapi, jika kita berpikir lebih jernih, apakah itu akan menyelesaikan masalah? Tidak, justru akan menambah masalah. Suasana hati yang panas tidak akan pernah bisa menjadi dingin, kalau kita tetap berada di lingkungan yang ‘berhawa panas’. Maka, ketika kita tengah berada dalam situasi yang ‘panas’, menghindarlah! cari tempat yang teduh, penuh kedamaian, yakni rumah Allah. Padamkan ‘bara’ dalam hati kita dengan wudlu, tenangkan hati dan pikiran kita, kita kembalikan semua persoalan kita kepada yang Maha Pemberi solusi, yakni Allah SWT. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, yakinlah!
Kesabaran menunjukkan tingkat kecerdasan dan kedewasaan seseorang. Mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat saya. Sah-sah saja, itu hak mereka. Tetapi yang jelas, kecerdasan di sini adalah berkaitan erat dengan emosi dan spiritual. Orang yang cerdas emosi dan spiritualnya tentu akan mengedepankan nilai-nilai moral. Kesabaran, sebagai salah satu nilai moral merupakan bukti konkret bagi kecerdasan emosi dan spiritual seseorang.
Orang boleh tinggi kadar intelektualitasnya, tetapi ketika kesabaran sudah dinafikan, maka ia telah terjatuh pada tindakan bodoh secara emosi maupun spiritual.
Kesabaran adalah sebuah tindakan bijak, proses melatih diri, memenej sikap, mengatur ritme kehidupan, kapan bertindak dan kapan diam. Ketika hidup berjalan sesuai ritme, maka ketenangan dan kedamaian yang akan kita dapatkan. Sebaliknya, hidup tanpa ritme, ibarat berjalan tanpa arah.
Kesabaran adalah cara kita mengatur ritme hidup, melatih diri menentukan arah yang hendak kita tuju. Hanya dengan kesabaran, hidup lebih tertata, teratur dan terarah. Maka, jangan pernah berhenti berlatih mengatur ritme hidup. So, bersabarlah, maka kesempurnaan hidup akan kita raih. Semoga.
* Ruang Inspirasi, Sabtu, 13 Februari 2021

No responses yet