Salah kaprah yang sering dilakukan manusia saat membicarakan Gusti Allah adalah sering mengukur Gusti Allah dengan berpatokan dirinya. Ini cara berpikir yang sama sekali salah. Hasil pemikiran seperti itu, bakal menghasilkan khayalan Tuhan itu seperti makhluk super raksasa yang terbang di langit atau mirip makhluk astral yang abstrak bentuknya. Jadinya, Tuhan dikira makhluk. Ini sesat pikir tentunya.

Para supir para Kyai sering cerita. Pas nganter sang Kyai, jalan rame dgn jarak yg panjang, bisa ditempuh dgn waktu yg singkat dan gak masuk akal. Nah, karomah para Kyai seperti itu jadi bukti, Dzat Gusti Allah tdk ada urusan dgn tubuh, bentuk, arah, ruang dan waktu. Maka jelas Dzat Gusti Allah tidak bisa disifati dgn sifat makhluk. Dari segi apapun itu.

Bicara Dzat Gusti Allah itu memang sedikit bahaya kalo kita gak berdasar petunjuk Al Qur’an. Berdasarkan Al Qur’an itu pun masih berbahaya kalo kita gak ngerti ilmunya. Dari ilmu bahasa, sastra, kalam dan perangkat ilmu lainnya. Maka kita berbicara Dzat Gusti Allah berdasarkan orang yang telah menyelami Al Qur’an, yaitu para ulama.

Seperti kalo kita ingin menikmati keindahan dasar samudera, kita cukup nonton Discovery Channel, Nat Geo atau channel2 yutub yang menyajikan ulasan tentang keindahan bawah samudera. Gak perlu susah-susah pergi ke laut trus nyemplung sendiri tanpa persiapan.

Kalo mau langsung nyemplung sendiri, dipastikan kita akan mati sebelum sampai dasar. Karena untuk mencapai dasar samudera, kita perlu latihan, menguasai ilmunya, menguasai peralatan, membeli peralatan dan melatih fisik berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Dan itu perlu instruktur yang akan memandu kita. Jadinya repot buat kita yang punya aktivitas lain.

Jadi, cukup kita bicara Gusti Allah dengan panduan kalam ulama yang punya ilmu di bidang itu. Jangan sampai bicara Gusti Allah tanpa panduan, jadinya ngelantur dan tertipu.

Misal ada yg protes, lho katanya Gusti Allah dekat, ngapain kudu jauh2 sowan ulama buat belajar hal yang dekat? Ya mending belajar sendiri.

Masalahnya banyak manusia yang gak bisa membedakan mana yang Tuhan dan mana yang bukan. Contoh Firaun, Samiri, Penganut Kebatinan dan Atheis/agnostik. Kurang cerdas apa mereka? Toh ternyata mereka kesasar juga.

Memang, akal sehat akan otomatis menunjukkan kita kepada Dzat Gusti Allah. Masalahnya, akal sehat sering kecampur hal-hal yang mengotorinya berupa hawa nafsu dan kita susah membedakan mana akal sehat dan nafsu kita. Akibat kita sering tidak jujur dalam melihat sesuatu. Maka kita butuh guru yang bisa melihat dan mengoreksi kekacauan cara berpikir kita.

Dan karena akal sehat ini selalu berkaitan dengan hati nurani, maka berhubungan juga dengan lingkungan kita. Kalo kita berada di lingkungan materialis, kepekaan hati kita akan tersita oleh hal-hal bersifat materi. Kalo kita sering kumpul dengan orang yang peka, hati kita juga pasti ketularan peka. Maka, tetep harus punya guru.

Masalahnya juga, kapan kita bisa sadar untuk mau belajar ilmu Gusti Allah, kita gak ada yang tau. Mau belajar, itu satu hidayah yang adalah hak mutlak Gusti Allah kapan akan diturunkan pada kita. Kalo hidayah turun, kita akan gelisah untuk mencari ilmu Gusti Allah. Kalo belum ada kemauan, ya kita bakal tenang2 aja. Dan ini bisa jadi satu adzab.

Maka wajib bagi kita untuk menggugah diri untuk berusaha belajar ilmu tentang Gusti Allah kepada ulama. Sehingga pengabdian kita akan benar-benar lurus berdasarkan akal sehat, kerendahan hati dan rasa penghambaan. Bukan cuma berdasar hawa nafsu dan keinginan saja. Agar gak sesat pikir akibat pemikiran yg kacau.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari keridhoan Kami (Gusti Allah), benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (Al Ankabuut 69)

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *