(wakil Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya:  Rois ‘Am Idaroh Aliyah Jatman)

Salah satu orang dekat Maulanan Alhabib Muhammad Luthfi bin Yahya saat ini , atau  bahkan orang paling dekat dengan Maulana terutama dari golongan keluarga Jamiyah Ahli Thoriqoh Almu’tabaroh Annahdliyah (Jatman ) adalah beliau KH Ali Mas’adi dari Mojokerto. Didalam kepengurusan idarah Aliyah (Pengurus Pusat) beliau duduk sebagai wakil atau langsung orang kedua setelah Maulana. Oleh karenanya beliau sering kali mengikuti kegiatan  bersama atau mewakili beliau baik di dalam maupun di luar negeri. 

Siapa  Kiai Ali Mas’adi

Bila orang tidak banyak yang tahu tentang tokoh yang satu inj, tentu sangat dimaklumi karena sikap ketawadhu’an dan kejernihan hatinya  telah mampu meretas sikap keakuan dan sagala potensi populariitas yang manjadikan sesorang terpuruk dalam sinyalemen ghurur atau keterbujukan. 

“Allamahe kiai Jawa timur yo kiai Ali”

Begitu komentar singkat Maulana pada kiai Ali. Kiai yang merupakan alumni pesantren Sarang Rembang dan rubath Misfalah Makkah Almukarromah ini lebih banyak menghabiskan masa mudanya di pondok pesantren terutama di pesantren Sarang dalam asuhan Kiai Zubair Dahlan. Dan berlanjut sampai pada masa Kiai Maimun Zuabair. Meski tidak ikut bergabung dengan Simbah kiai Maimun saat membangun  pondok baru yang awalnya hanya sebuah musholla di depan rumah beliau , kedekatan beliau dengan kiai Maimun bukan saja mengundang cemburu santri tapi juga para kiai yang lain.

Dalam gemblengan mbah Zubair kiai Ali menemukan kematanganya dalam menguasai dan menndalami ilmu-ilmu pesantren dari berbagai desiplin ilmu dan tingkatan sebagaimana kelebihan yang dimiliki gurunya. Yang demikian ini beliau buktikan pada  saat pesantren Sarang – oleh karena situasi dan kondisi yang lebih bersifat external – mengalami masa ‘sulit’, beliau mampu memainkan peran strategis sebagai qori’ kitab-kitab standard pasaran  yang sebelumnya diampu oleh mbah kiai Zubair. Terutama dalam kegiatan pasaran bulan Romadhon. Dalam kegiatan ini beliau mampu menghatamkan kitab sekelas Fathul muin dalm waktu satu minggu. Genapnya waktu Romadhon sampai menghatamkan bbrp kitab antara yang tebal dan tipis. 

Kegiatan yang demikian berlanjut hingga pasca Romadhon, di kamarnya banyak santri-santri yang ikut mengaji pada beliau. Bukan hanya para pemula akan tetapi juga para senior. terutama yang biasa mengikuti balahan Mbah Kiai Zubair.  Diantara balahan atau pengajian kitab yang sempat beliau khatamkan pada teman santri senior adalah Jam’ul Jawami’ sebuah kitab ushul fiqh yang merupakan ringkasan dari puluhan kitab-kitab ushul sebelumnya. Kitab ini  menjadi salah satu standard tak tertullis bagi kemampuan dan penguasaan santri akan materi pesantren  terutama dalam membaca kitab manakala sudah mampu mengajar dan menerangkan Jam’ul Jawami’,  di samping kitab uqudul Juman, kitab matan balaghoh berisi 1000 bait dan penjelasan super singkat karya Jalaluddin Assuyuthi. Dan kiai Ali muda sudah mampu melewati keduanya saat nyantri di Sarang. 

Kedekatan dengan KH Maimun Zubair

Ada perhatian husus dari guru dan juga putra guru bliau ini. Beliau merasakn banyak keanehan atau karomah dari Kiai Maimun yang sejak dulu beliau saksikan. Saat bliau mengalami masa transisi antara bertahan dan tidak bertahan di Sarang, setiap Kamis sore bliau pergi ke Lasem. Dan selalu saja Kiai Maimun memerintahkan santrinya untuk memanggil dan mencari di pondok kidul (PP MUS) karena mamang kiai Ali mukim di sini di bawah asuhan KH Abd Rohim Ahmad, yang tak lain adik ipar  KH Maimun Zubair disamping masih kerabat dekat.

Tidak ada perjalanan menempuh karier yang mulus tak berliku. Begitu pula di alami kiai Ali di Sarang. Suatu saat oleh karena satu dua hal beliau mengajar di Madrasah ditinggalkan santri-santri tak seorang santripun di kelas. Beliau pulang ke kamar. Entah dari mana kiai Maimun tahu beliau langsung mendatangi kantor madrasah dan memarahi guru-guru. Malamnya mereka meminta maaf ke kamar kiai Ali karea dimarahi kiai Maimun.

” Kalau begitu Kiai banyak dong ijazah doa dari Simbah Kiai Maimun ?”

Begitu saya penasaran karena kiai Maimun tekenal dengan doa-doanya yang unik dan mustajab. 

” Kulo niku malah diharomaken nyuwun dongo piyamba’e”

Inilah seorang Simbah Kiai Maimun, sang pendidik sejati. Bukan karena orang dekat kemudian dimanjakan. Tidak! Ada yang lebih penting yang ingin beliau tanamkan pada anak didik yang benar-benar dia cintai, yang terkadang tidak atau belum  dimengeti oleh santri itu sendiri. 

Hal yang demikian dialami pula oleh kiai Ali, sebagai santri yang juga banyak  berkhidmah pada kiai, berharap disaat masa sulit yang ia alami meminta ijazah dari gurunya simbah kiai Maimun. Dan sungguh di luar dugaan,  bukan ijazah yang diperoleh malah diharomkan. Kekecewaan tak bisa disembunyikan. Dan sebagai sang pendidik tentu paham betul dengan semua gelagat santri. Maka beberapa hari kiai Ali diajak jalan-jalan menusuri pantai. Dan di ahir perjalanan ada satu kalimat yang manusuk kalbu:

” Wong duwe pengeran koq bingung”

Bagai bangun dari tidur bliau serasa bangkit kembali. Ini yang dikehendaki guru saya agar selalu kembali kepada Alloh bukan mengandalkan doa dan ijazah. 

Suatu saat Kiai Maimun main ke rumah beliau di Jepara dan sempat jalan-jalan dengan sepeda ontel. Pikir kiai Ali masak saya mbonceng guru, tidak adab. Tapi kiai Maimun bilang ” koe gak kuat mboncengno aku”. Betul!sepada yang dia kayuh tidak jalan. Dan begitu kiai Maimun di depan, kiai Ali mbonceng  sepeda baru bisa jalan. Yang beliau merasa lebih aneh, perjalanan malam hari, sementara sepeda yang dipakai tidak ada lampunya  dan  jalan juga saat itu masih gelap belum ada lampu jalan seperti sekarang. Tapi kiai Maimun mengendali sepeda dengan kecepatan tinggi sampaj di tempat tujuan. Begitu kenang kiai Ali.

Pendirian Madrasah Aliah Sarang

Salah satu peran penting beliau semasa di Sarang adalah pendirian aliyah Sarng. Beliau termasuk menjadi pemain penting dalam pengelolaan aliyah baik sebagai guru maupun penataan administrasi. Salah satu kurikulum tambahan yang menjadi usulan beliau dimasukkan dalam kurikulum adalah tiga materi umum salah satu adalah ilmu administrasi.

Ada alasan logis memasukkan materi administrasi dalam kurikulum,  semua alumni pasti punya keinginan ketika di kampungnya untuk bisa mengembangkan pendidikan atau pesantren. Pengelolaan lembaga tidak bisa hanya berbekal pada literatur kitab sebagai materi inti madrasah atau pesantren akan tetapi dibutuhkan bagaimana mengelola asset baik SDM ataupun lainnya. Di sini diperlukan bekal menengemen dan administrasi yang baik.

Sebuah usulan yang tentu sangat canggih untuk ukuran saat itu.  Artinya beliau memahami makna penting dan mekanisme kerja ilmu administrasi dan mangemen. Walau pnampilan beliau selalu berpeci dan bersarung.  Tidak jarang mereka yang bersarung dalam berpikir dan beraksi lebih canggih dari mereka yang berdasi. 

Hijrah ke Makkah

Madrasah aliyah Sarang di mana beliau ikut mendirikan dan menjadi tenaga inti didalamnya hanya beliau tunggui selama dua tahun. Secara diam-diam beliau merencanakan  untuk melanjutkan tafaqquh ke Makkah Almukarromah. Semula beliau rencana berangkat bersama KH Khumaidi Narukan. Dewan masyayekh  terkejut ketika mendengar berita tersebut. Singkat cerita beliau dipanggil masyayekh. Beruntung bahwa kiai Khumaidi tidak direstui keluarganya. Maka ketika dihadapan masyayekh beliau menyampaikan bahwa: Semua tugas dan tanggung jawab saya sdh saya delegasikan pada kiai KHumaidi. Sidang merestui keberangkatan.

( ditulis santri beliau Zakariya Anshor Pekalongan, 22 Jumaadil Akhir 1441 H/ 16 Pebruari 2020 M ))

Bersambung…..

#PP_Almubarok_Pekalongan

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *