_”Cukuplah dosa bagi seseorang yang mengutarakan segala yang ia dengar”_
HR. Muslim
Segala sesuatu indah pada tempatnya. Termasuk ketika bertutur, berbicara dan menyampaikan sesuatu. Ada sesuatu yang harus diungkapkan secara terang dan jelas. Ada sesuatu yang harus dirahasiakan sedemikian rupa. Pun juga ada sesuatu yang diungkap pada saat yang tepat.
Tidak baik jika segala yang didengar oleh telinga diungkap secara fulgar–tidak berpijak pada berbagai pertimbangan. Sebab tidak semua pendengar memiliki kecakapan menerima, mencerna dan mengolah informasi yang sama. Hal ini sebagiamana sebuah riwayat hadis dari Imam Muslim, “Cukuplah dosa bagi seseorang yang mengutarakan segala yang ia dengar”.
Dari riwayat hadis di atas terang bahwa tidak tepat jika mengutarakan segala yang didengar tidak pada tempatnya. Semisal membicarakan sukacita pada keluarga yang sedang mengalami musibah. Membicarakan indahnya memiliki momongan pada orang yang mandul. Bahkan, menyampaikan rahasia negara pada pemberontak.
Di samping itu, riwayat di atas juga memberi dorongan agar seseorang tidak sembarangan berbicara, meskipun berlandaskan apa yang ia dengar. Sebab sesuatu pembicaraan indah pada audiens yang tepat. Membicarakan musik dengan para penikmat musik. Membicarakan indahnya pernikahan dengan para pasangan. Membicarakan aib tersangka pada penyidik dan masih banyak lagi.
Dari penjelasan di atas, kiranya cukup untuk menggambarkan betapa penting dalam segala penyampaian mempertimbangkan kebersesuaian. Kesesuaian informasi dengan kondisi pendengar. Sehingga tidak kemudian menimbulkan salah paham atau paham yang salah.
Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 16-02-2021.

No responses yet