Categories:

Dengan memohon ridho-ikhlas dan dengan kerendahan hati, izinkan saya yg faqir (min Romatillah) ini utk sedikit mengenang budi baik, welas asih Paklik Minan lewat tulisan ini. 

Tidak banyak yg bisa saya ceritakan, namun ada beberapa wejangan yg selalu saya ingat serta ‘ibroh keteladanan yg bs kita tiru & ikuti utk nderek tindak lampahipun.

A. HANGAT-WELAS ASIH

Dahulu tepatnya pada tahun 2000, ketika saya masih kecil duduk di bangku kelas 1 DU (Diniyyah Ula), meskipun saya muqim pondoknya di PMH Putra, tapi saya sering maem di ndalem PNQ lewat pintu dapur belakang. Di PNQ ada Kang-Kang dan Mbak-Mbak yg sebelumnya sudah diutus ketika melihat saya utk disuruh maem.

Pernah suatu ketika sepulang sekolah, siang hari setelah jamaah dhuhur, dg masih memakai seragam Mathole’, saya hendak menuju dapur utk maem. Tapi waktu itu sedang tidak ada Kang-Kang dan Mbak-Mbak di dapur. Ketika itu saya orangnya masih pemalu &  sungkan-an. Artinya jika tdk ada Kang²-Mbak² ndalem yg menyuruh saya ngambil makanan, saya gak berani “slonongan” ngambil makanan seenaknya. Dan di saat tidak ada orang itulah, Buya Minan mengtahui kedatangan saya di dapur pintu belakang. Spontan beliau langsung manggil saya; “ful… mene ayo maem sek ful…” dengan suaranya yg khas ngebass dan berwibawa.

(Tanpa mengurangi rasa hormat) tak disangka & tak di nyana beliau malah meladeni saya. Beliau membuatkan minuman dg menyeduh air hangat susu putih dicampur sirup merah.. sambil sesekali ngajak ngobrol. Terkenang betul, saya masih ingat sampai sekarang. Bagaimana aroma rasanya dan kehangatannya. Selain itu nasi segunung beserta seluruh lauk pauknya (paket lengkap 4 sehat 5 sempurna) dihidangkan hanya utk nyogati anak kecil dari Semarang yg kurang ajar spt saya ini.

Pikiran saya makin tambah kacau berkecamuk malu plus sungkan tak karuan. Padahal selama ini dg Kang² & Mbak² saya disuruh ngambil maeman sendiri, ini malah beliau ngambilin saya, meladeni saya. 

Beliau yg derajatnya tinggi tidak segan meladeni anak kecil spt saya, tapi justru saya-nya yg makin tambah sungkan dan malu pd waktu itu.. Sungguh pemandangan yg menyentuh hati saya, hingga membekas di memori sampai saat ini. Keteladanan akhlak rendah hati spt ini sudah jarang ditemui di perkotaan. Semoga kita semua bisa meniru & mewarisi akhlak (budi pekerti) & ketawadhu’an beliau.

B. AMPLOP & ZUHUD

Satu hal lagi yg tak bisa dipungkiri. Beliau ini senang “nyangoni” alias memberi uang saku pada tamunya. Terlebih pada setiap ponakannya yg rumahnya jauh-jauh. Sampai-sampai pernah suatu ketika kami bersilaturahmi, saat kami hendak berpamitan pulang, beliau memberi amplop di sak kantongnya yang kami tahu bahwa amplop itu adalah pemberian dari tamu sebelumnya. Namun beliau tak memikirkan hal itu. Tak memikirkan berapa jumlah isinya.

Hal yg sama ini juga pernah saya alami dan saya lihat dengan Abah KH. Nafi’ Abdillah..

Saya betul-betul merasakan aura seolah dunia tidak dibutuhkan. Tapi justru malah dunia yg mengejar-ngejar. Sebagaimana seperti dalam Kalamullah hadits Qudsi yg menunjukkan perintah Allah kepada dunia: 

يادنيا اخدمي من خدمني، واستخدمى من خدمك

Yang terjemahan bebasnya kurang lebih;

“Hai dunia, jadi budaklah kamu pada orang-orang yang menyembah-Ku, dan perbudaklah orang-orang yang menyembahmu” (HQR. Al-Qudla’i yg bersumber dari Ibnu Mas’ud ra.) [Al Futuhatul Makkiyah]

أَلَمۡ تَرَوۡا۟ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِی ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَمَا فِی ٱلۡأَرۡضِ وَأَسۡبَغَ عَلَیۡكُمۡ نِعَمَهُۥ ظَـٰهِرَةࣰ وَبَاطِنَةࣰۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یُجَـٰدِلُ فِی ٱللَّهِ بِغَیۡرِ عِلۡمࣲ وَلَا هُدࣰى وَلَا كِتَـٰبࣲ مُّنِیرࣲ

“Tidakkah kamu lihat bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah dg tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan” [QS. 13 Luqman:20]

C. PERHATIAN PENUH PADA PENDIDIKAN

Pernah suatu ketika saya di tawari pilihan Bapak. Antara mau ikut menghadiri pernikahan adiknya Bulek Tuhah di Singosari Malang, atau berangkat sekolah saja. Karena dasarnya saya orang ndableg, ya saya milih mbolos sekolah saja, untuk ikut tawaran Bapak pergi ke Malang. Waktu itu saya masih Tsanawi.

Dan saat di Malang itu kepanggeh Buya Minan. Saat itu pula beliau langsung menanyai saya; “looh.. kok gak mangkat sekolah… nggo eman nak ketinggalan pelajaran. iki Mathole’ yo lagi ketat-ketate lho…” Lalu dengan serius beliau berbincang-bincang dengan Bapak yg ada di sebelah saya. Termasuk menjelaskan kondisi Mathole’ yg saat itu sedang banyak mengeluarkan murid2 bandel yg terlalu banyak el (mbolos). Dari situ saya merasakan betul perhatian beliau. Seolah memang beliau tidak ridho jika ada anak yg meremehkan pelajaran.

D. PILIHAN PROFESI & WEJANGAN JAMPI²

Pernah suatu ketika saat bujang, sbg orang biasa, saya mengalami masa-masa sulit. Serba kamuflase. Hidup di Semarang seolah kehilangan arah orientasi. Usia makin bertambah, gak juga nikah2, orangtua sudah intiqol ilaa Rohmatillah, kuliah tambah ruwet, urusan kerjaan mumet, rejeki seret. Serba membingungkan.

Maka saat itu segera saya putuskan berangkat dari Semarang ke Kajen utk sowan beliau bermaksud ingin meminta arahan & petunjuk. Namun sesampai di ndalem kepanggeh beliau, baru ngucapkan salam dan salim (sungkem), beliau langsung memberi nasehat yg sangat berharga bagi saya. Saya hanya terdiam  mendel midanget mirengaken. Saya tidak berani menyela tiap kata per kata yg penuh cahaya Qur’ani dari lisan beliau. Saya bahkan tidak sempat menyampaikan uneg-uneg. namun atas izin & karunia Allah semua kegelisahan yg saya bawa dari Semarang sudah terjawabkan & terobati seketika tanpa saya menyampaikannya ke beliau.

Singkatnya, yg beliau dawuhkan sbagai berikut;

“Kabeh iku Allah… Aku ra ngeti kahananmu nang Semarang. Mestine bedo karo kahanan nang kene.”

“Awakmu meh dadi pegawai yo Lah.., meh dadi Kiai yo Lah.., seng penting pesenku seng akeh wacanane. (*)” Kalimat ini yg sering beliau ulang² dg penuh penekanan. 

(*) Dalam lanjutan dawuh beliau yg ini, ada hal yg blm bisa saya share disini. Namun pd intinya, saya merasakan seolah-olah beliau sedang nuturi (mengajari) saya yg dlm konsep tasawuf ada maqom asbab (iktisab), ada maqom tajrid. Tentang cara manusia memperoleh rizqi dengan sebab kerja keras, dan cara manusia memperoleh rizqi dg tanpa kerja namun diganjar rizqi cukup dan berlebih oleh Allah SWT. Namun hakikatnya saya blm pd level ini. Butuh proses yang panjang utk menapaki laku. Butuh pengalaman riyadhoh spiritual yg dalam hingga sampai pd maqomat tertentu.

Lalu setelah itu beliau memberi ijazah Sholawat Jibril dengan menalqin; “shollallah ‘alaa Muhammad, Shallallah ‘alaa Muhammad, shallallah ‘alaa Muhammad…”, dst.

“Supoyo dibimbing Kanjeng nabi, ditoto Gusti Allah, Wes iku amalno.. wocono sedino ping sewu wae. Yen Aku sedino iso ping 6.000 kadang sampai 10.000”

“Masio wacanane cekak ojo mbok remehno. Iku amalane poro wali. Yen awakmu gelem ngamalno, ora ono setahun hajatmu tembus diijabahi Gusti Allah”

Dan benar, tidak ada 1 tahun, atas izin Allah hajat saya dimudahkan. Dalam 1 bulan saya mengalami 2 peristiwa penting dlm hidup. 

 Yakni di bulan November. Awal bulannya saya menikah, akhir bulannya saya di wis-sudah (setelah sekian lama wajib kuliah 9 thn. )

Selang beberapa bulannya, saya mendapat SK diamanahi jadi TA (Staf Ahli) DPD RI Prov. Jateng dari Fraksi PPP (Meskipun saat ini sementara tdk saya lanjutkan dulu karna soal benturan hati. Blm siap utk lanjut ke pusat)

Dan semenjak itu, tiap kali ada temen kampus, temen jalanan yg bingung masalah kerjaan, bingung masalah nikah, wes angger tak kasih sholawat gitu aja. Sebagaimana yg diajarkan Buya Minan. Meskipun ada yg masih nunggu lama, ada yg langsung hajat mustajab langsung kilat كالرّيح المرسلة , namun rata-rata lbh banyak diijabahi Allah tinimbang tidaknya. Dan semuanya dari Allah, hanya Allah, dan karena Allah. Diijabahi di dunia juga karena Allah, blm diijabahi itu juga karena Allah. Justru menjadi tabungan yg besar di akhirat nanti.

-oOo-

Sementara sampai disini dulu tulisan ini, tampaknya terlalu panjang. Bisa bikin boring yg mbaca.

Semoga saya & kita semua diakui santrinya Buya Minan fiddunya hattal aakhiroh. Aaamiin. Lahul faatihah 

Sumber: FB Bahri azmatkhan

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *