Saya belum tahu awal pertama adanya ageman atau piandel yang digunakan masyarakat di nusantara. Misalnya,  keris itu kapan mulai dipakai. Hal yang pasti, era sebelum kerajaan Islam sudah dikenal keris, semisal keris empu Gandring, dan keris era Majapahit. Nama empu juga sudah dikenal sebagai pembuat keris. 

Pada era kerajaan Islam di nusantara, Kiai Dafid Fuadi dapat kisah dari empu yang merupakan keturunan empu bahwa yang memerintah agar rakyat membawa keris adalah Sultan Agung.

Namun kalau ditelusuri, Sultan Agung tentu  bukan yang pertama. Karena para wali juga mempunyai keris. Sultan Agung lahir 1593, sedang wali semisal Sunan Ampel lahir  tahun 1401. Jadi selisih hampir 200 sebelum Sultan Agung sudah ada tradisi ageman atau piandel berupa keris.

Beberapa wali yang mempunyai keris adalah Sunan Ampel  (tidak diketahui nama ketisnya). Sunan Giri dengan  keris Kiai Kolomunyeng. Keris Kiai Carubuk milik Sunan Kalijaga. Keris Kiai Cinthaka milik Sunan Kudus, dan keris Sunan Gunung Jati (tidak tahu namanya).

****

Apakah era kontemporer ini masih ada orang yang menggunakan ageman atau piandel, baik keris atau yang lainnya? 

Hampir semua manusia di dunia kontemporer, entah disadari atau tidak, mereka masih menggunakannya. Bisa jadi piandel-agemannya berbasis materi an sich, maupun berbasis spiritual.  

Ageman yang berbasis materi an sich seperti golok, pistol, surat identitas diri atau juga uang. Ageman atau piandel juga bisa berupa pakaian tertentu baik pakaian pendekar ataupun pakaian serdadu dan lain sebagainya. Ageman material kalau sudah lewat perlakuan tertentu bisa naik jadi ageman berakar pada “spiritual”. Saat korona ini hampir setiap orang mempunyai ageman atau piandel masing-masing. Bisa jadi berupa masker, vaksin, bahan-bahan tertentu dari alam atau pendapat  tokohnya, maupun doa dari sesepuhnya.

Adapun ageman atau piandel yang berbasis spiritual contohnya adalah seperti jimat, doa, keris yang sudah ada perlakuan tertentu atau benda lain yang dianggap punya relasi dengan “ghaib” dan sebagainnya 

***

Apa benar ageman atau piandel yang berbasis gaib-spiritual punya efek atau manfaat? Anda boleh percaya boleh tidak. Tapi kalau kita fair dan berpikir logis seharusnya percaya. 

Kalau ageman yang bersifat material an sich anda percaya, kenapa yang berdimensi “ghaib” tidak anda percaya? Atau kalau ucapan para motivator yang berbusa-busa itu bisa anda percaya sehingga menjadikan anda mantap rasa, maka kenapa ageman yang berbasis “ghaib” tidak anda percaya? Masalah manfaatnya bisa  tidak muncul tentu kasuistis sebagaimana ageman yang material an sich juga tidak berefek pada orang tertentu.

Kalau masih kurang yakin, di kalangan warga NKRI ada amalan wiridan lalu dengan amalan itu entah dengan model dirajah atau wasilah media lain seperti gotri atau air lalu setelah itu mereka menjadi kebal.

 Kalau anda masih ragu dengan menjawab  bahwa hal di atas terjadi karena bukan wiridannya atau rajahnya tapi karena orangnya secara psikologis terpengaruh sehingga  menjadi kuat dan kebal. Kalau itu pandangan Anda, maka  silakan mencoba dengan meyakinkan anak buah Anda untuk melakukannya!

Kisah lain dari manfaat ageman. Ada orang Surabaya yang namanya Parto. Saat Orde Baru dia menjadi sopir taksi. Dia tiap parkir di terminal Bratang dipajeki atau diminta uang oleh preman. Karena berkali-kali seperti itu akhirnya dia sambat kepada teman lawas saya. Lalu Parto diberi sebuah cincin stigi dan diberitahu kalau dipajaki lagi oleh preman tidak perlu memukul, tapi gertak saja.  

Benar, saat Parto sampai di Bratang pada  pagi dan langsung didatangi preman. Parto menggertak si preman dan apa yang terjadi? si preman langsung duduk bersimpuh meminta maaf.

Oh ya tentu stiginya ini punya perlakuan tertentu dalam sejarahnya, bukan asal stigi. Stigi itu dicari oleh santri Mbah Bun atas perintah Mbah Bun. Si santri   sebelumnya disuruh tirakatan lalu pergi ke pantai Utara. Di sana ditemukan stigi itu. Stigi pantai Utara oleh Mbah Bun sering disebut stigi kewalian (mungkin karena pesisir pantai Utara adalah basis para wali). Stigi ini pula yang dahulu saat era ninja dipotong potong kecil untuk diberikan kepada para senior santri. Mau stigi itu? Hehehehe…

****

Kalau Wahabi bilang syirik atas ageman-piandel, maka dia sendiri juga bisa jatuh syirik saat mendewakan uang, mendewakan dirinya bisa mengatasi segala jin dengan ruqyah yang disebut syar’i, atau dia mendewakan secara tidak sadar atas para ulamanya. 

Mereka dengan congkak dan pongah mencari keris karena dianggap syirik lalu secara demonstratif  digergaji. Ya wajar saja kerisnya bisa putus. Karena memang “kekuatan” keris itu manakala bersatu dengan pisik yang sesuai. Apalagi kalau kerisnya adalah dari pasar loak, malah tidak punya “yoni”.

Jangankan keris, doa-doa Wahabi  yang ada di kitabnya  kalau  dibakar atau digergaji juga bisa terbakar dan putus itu kitab doa. Bahkan kitab suci sumber doa  juga bisa dibakar. Sekalipun demikian tentu tidak menafikan tentang manfaat doa dan “kedahsyatan” ayat yang ada di kitab suci.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *