Kalo yakin akan qudroh Gusti Allah, kita gak bakal kaget, panik dan kagum dengan segala yang terjadi, baik yang sudah biasa terjadi maupun yang diluar kebiasaan. Lha wong tau pengendalinya Gusti Allah, jadi ya maklum2 saja dan biasa saja. Justru kekagumannya pada Gusti Allah.

Misal saya kalo ngantuk, ya warkop saya tutup dan tidur. Walaupun harus tidur habis subuh hingga siang kayak orang nganggur dan warkop buka siangan gak kayak warkop lain, saya gak peduli. Saya gak bakal maksa diri terus melek buka warkop 24 jam dan khawatir kehilangan pelanggan. Karena yakin rasa kantuk dan rejeki yg didapat, gak lepas dari qudroh Gusti Allah. Makhluk ya sekedar memenuhi qudroh. Kalo ada yg bilang bangun siang rejekinya ntar dipatok ayam, ya saya jawab “Ya gakpapa, ntar ayamnya aja tak sembelih jadi rejeki saya”

Orang kalo gak panik akhirnya bisa sabar. Walau misal pingin belajar gimana caranya biar punya keistimewaan, kalo tetep tunduk pada Qudroh, dia bakal sabar meniti sembari menetapi maqom dhoifnya. Karena yakin pilihan Gusti Allah (Qudrotullah) itu pasti yang terbaik. Sehingga dia jadi bisa berdamai dgn keadaannya.

Dalam manaqib Imam Asy Syadzili, diceritakan saat beliau masih jadi sufi amatir, bermaksud memilih kefakiran sebagai jalan sufi beliau. Tapi ternyata, Gusti Allah malah berkendak menjadikan beliau orang kaya. Kendaraan, pakaian dan rumah buagus dan mewah-mewah, datang sendiri tanpa Imam Syadzili memintanya.

Hal ini sebenarnya sangat bertentangan dengan kata hati Imam Asy Syadzili, sufi kok bergelimang harta, sufi cap apa ini? Karena yang namanya sufi itu hatinya sangat asing dengan yang namanya harta. Tapi beliau menahan untuk gak sambat. Beliau takut suul adab pada Gusti Allah.

Lalu satu saat, setelah dzikir rutin dan tertidur, beliau bermimpi. Beliau melihat Nabi Sulaiman duduk dikelilingi tentaranya. Lalu Imam Syadzili disuguhi oleh Nabi Sulaiman berupa makanan dengan periuk dan piringnya yang besar.

Imam Asy Syadzili jadi teringat surat As Saba’ 13

…وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ..

“..piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk yang tetap berada di atas tungku..”

Lalu Imam Asy Syadzili mendengar suara yang dawuh “Kamu jangan memilih apapun dengan membawa nama Gusti Allah. Jika kamu mau memilih, pilihlah untuk beribadah pada Gusti Allah, demi meneladani Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang memilih jadi hamba yang Rosul. Jika memang harus memilih, maka pilihlah untuk tidak memilih, lalu larilah dari pilihan-pilihan itu kepada pilihan Gusti Allah”

Sontak kemudian Imam Asy Syadzili terbangun. Beliau jadi sadar, keinginan hatinya untuk menempuh hidup fakir sebagai jalan kesufian itu ternyata hawa nafsunya sendiri. Jalan menuju Gusti Allah itu ya harus menuruti pilihan Gusti Allah.

Setelah itu, ada yang berkata kepada Imam Asy Syadzili, “Gusti Allah memilih untukmu agar berkata: Wahai Gusti Allah, luaskanlah rejekiku di dunia, dan janganlah halangi aku sebab rejeki itu dari akhiratku, dan jadikanlah kedudukanku selalu berada di sisi-Mu, dan menjadi orang yang melihat-Mu dengan pilihan cara-Mu. Perlihatkanlah wajah-Mu Yang Mulia kepadaku. Tutupilah aku dari melihat dan dari segala sesuatu selain-Mu. Hilangkanlah “antara” yang menyela antara aku dengan-Mu, wahai Gusti Allah yang Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Dzohir dan Maha Batin, Dia adalah Dzat yang Maha mengetahui segala sesuatu.”

Maka beliau pun mengikuti perkataan tersebut. Jadilah Imam Asy Syadzili sebagai wali besar dan masyhur, sebab yakin pada pilihan Gusti Allah dan memilih berdamai dengan apa yang jadi Qudroh Gusti Allah. Beliau memilih menjadi hamba Gusti Allah daripada jadi hamba keinginannya sendiri. Kesimpulannya, kita harus yakin bahwa posisi kita sekarang adalah qudroh Gusti Allah. Dan kita juga harus tetap yakin saat berusaha meniti menuju kemuliaan, juga karena qudroh Gusti Allah. Dan kita jadi mulia ya karena qudroh Gusti Allah. Sehingga kekagetan, kekaguman dan kepanikan itu gak ada sama sekali di hati kita

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *