Pada awal tahun 2017 saya di telp dari Kamensos PSMP Handayani, yaitu rumah singgah milik kamensos, atau biasa di sebut rumah penampungan sementara bagi para deportan dari Turki, dari kejauhan terdengar, “Pak Ustad bagi datang ke sini ya, ini bnyak deportan dari Turki, warga Indonesia yang mau nyebrang ke Suriah, tolong bantu kami ya, katanya di ujung telepon, “ooh siap ibu, saya segera meluncur kesana” jawab saya tegas.
Sebelumnya saya memang memberikan pelatihan bagaimana mengprofiling seseorang, membuat assessment dan memberikan beberapa instrumen untuk mengukur tingkat radikalisasi seseorang, saya membuat rumus (sekitar 5-7) sikap perbuatan atau pertanyaan, bahwa dia masih radikal atau tidak, berbahaya, akan bermain atau tidak kedepannya, margin error yang saya buat hanya 20 %, namanya juga analisa manusia, tapi saya yakin insya Alloh 80 % akurat.
Sayapun bertemu dengan mantan anak buah saya yang berasal Aceh, menjelang wisuda dia tertangkap densus 88 di kasus pelatihan militer di gunung Jantoi Aceh besar (2010), tugas dia cuma kurir antar logistik ke atas gunung, di vonis 7 tahun, keluar dr Lapas Nusakambangan pada 2015 akhir, tetapi di jebloskan ke dalam penjara kembali karena gebukin sipir penjara.
Setelah 7 bulan menjalani penjara tambahan, dia bebas dan menikah dengan janda eks mantan teller bank yang baru hijrah, lalu berangkat ke Suriah bersama istri dan anak tirinya yang masih anak-anak, raih tak dapat di raih, Malang tak dapat di tolak, anak buah saya tertangkap aparat Turki, lalu di deportasi bersama rombongan Rully dan Ulfa sepasang suami istri berasal dari Makassar.
Setelah saya berikan beberapa ceramah, terlihat mantan anak buah saya kegerahan tidak suka, sementara rekannya Rully dan Ulfa semangat mendengarkan Tausiyah saya, anak buah saya tidak mau bersalaman dengan saya, sementara Ruly mau bersalaman hangat dengan saya, anak buah saya menolak menandatangani kesetiaan kepada NKRI, sementara Rully dan Ulfa tampa pikir panjang tanda tangan kesetiaan kepada NKRI, Pancasila dan UUD 45.
Anak buah saya selalu memprovokasi kepada kawan-kawannya untuk jangan TTD kesetiaan, karena itu Amalan Kufriyyah dan bisa jatuh Murtad, sementara Rully dan Ulfa santai tidak terpengaruh provokasi anak buah saya ini, singkat cerita Rully dan Ulfa pulang lebih dahulu dari deportan lainnya.
2019 awal terdengar bom meledak di Jolo Philipina di sebuah gereja, menewaskan 23 jamaah gereja, militer Philipina mengklaim bahwa pelakunya adalah warga Indonesia, klaim tersebut di bantah oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Menkopolhukam Jendral purn Wiranto, lalu 6 bulan kemudian pemerintah Indonesia mengakui bahwa warganya yaitu Rully dan Ulfa adalah pelaku bom bunuh diri di Gereja Jolo Philipina, sayapun kaget, gila tuh anak, sa’jane koperatif eh jebule ngapusi.
Sementara eks anak buah saya, terlihat jualan es susu di daerah Cileungsi di dekat komplek rumah saya, bertemu dengan saya kaget bukan kepalang, mlengos, ucapan assalamualaikum saya tidak di jawab olehnya, saya katakan kepadanya, “begini antum belajar Islam? Sambil menendang gerobaknya “BRUKK” karena kesalnya saya. Dunia persilatan telolis itu susah2 gampang,

No responses yet