Dahulu, seorang ulama di Minangkabau lazim memiliki kemahiran silat (silek). Sebutlah nama seperti Syaikh Bustami Lintau, Syaikh Abdullah Halaban, Syaikh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, Syaikh Jamil Jaho, Syaikh Mudo Abdul Qadim Belubus, Syaikh Yahya al-Khalidi Magek, Syaikh Mahmud Abdullah Tarontang, dan lain-lain. Selain mahir memaparkan soal agama, mensurah kitab, mengi’rab kalimat Arabi, mereka juga dikenal sebagai pendekar ternama.
Menurut alm. Syaikh Yunus Yahya Magek, kepandaian silat yang dimiliki oleh ulama tersebut, memiliki 2 tujuan:
(1) sebagai jalan dakwah, terutama bagi yang muda-muda.
(2) menambah muru’ah keulamaan.
Salah satu silek yang populer di kalangan ulama tersebut, adalah Silek Kumango, yang dinisbahkan pada al-‘Arif billah Syaikh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, murid dari Sayyid Muhammad Amin Ridhwan Madinah. Salah satu sebabnya, karena esensinya yang merupakan ajaran agama. Mulai dari langkah Mim Ha Mim Dal, hingga syarat bahwa peserta silek mesti melaksanakan shalat. Ini bukan berarti menafikan silek-silek yang lain.
Kekhasan lain, silek ini semata pertahanan diri, membela diri, sehingga tidak bisa dipertandingkan. Syaikh Kumango mengajarkan filosofi “Zohia silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan.” Kata “mencari Tuhan” itu, sebagaimana diajarkan guru, bersua pada Thariqat Samman yang menjadi amal dalam silek ini.
Namun sekarang silek tradisi, termasuk silek yang dipakai oleh ulama-ulama besar itu, dianggap oleh sementara kalangan sebagai silek memakai jin/ sihir. Sebuah tuduhan yang, hemat saya, tidak berdasar. Maka mulailah terkikis pusaka lama; beransur pudar ilmu yang diajarkan ulama itu.
Di sinilah pentingnya kita, terutama kawan sesurau; di samping giat dalam membedah kitab, berdakwah, juga semestinya mengambil peran dalam melestarikan silek, silek peninggalan ulama-ulama besar kita itu. Kalau bukan kita, siapa lagi.
******
Foto: Malam ini mulai mengulang-ulang kaji, setelah lewat satu tahun terhenti.

No responses yet