Salah satu pelajaran penting bagi kita dalam melakukan kebaikan adalah bersungguh2 berusaha, dan tetap istqomah dalam kebaikan, walaupun kita harus menghadapi pahitnya perjuangan.
Dengan segala keterbatasan manusia, maka hal yg terpenting adalah bagaimana ia dapat memberikan manfaat yg banyak bagi orang lain, itulah sebaik2 manusia yg beriman. Ikhtiar adalah berusaha, bekerja keras bergerak untuk menggapai sesuatu. Berikhtiar berarti melakukan sesuatu dgn segenap daya dan upaya untuk menggapai sesuatu yg di ridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Senjata merupakan sebuah alat. Maka sebaik2 senjata adalah menggunakannya dgn kebaikan pula. Oleh sebab itulah, dalam menghadapi ujian apapun, berikhtiar dan tetap berusaha dgn segala daya dan upaya yg kita miliki, adalah bentuk kebaikan yg akan melahirkan kebaikan2 berikutnya. Sehingga, setiap langkah dan jalan yg kita pilih akan selalu mendapatkan pahala kebaikan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan, keberhasilan atas perjuangan yg kita lakukan adalah bonus dan hadiah terbaik yg Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita sbg bentuk karunia-Nya.
Ikhtiar, bukanlah melakukan seuatu yg dilakukan tanpa rencana dan strategi. Bukan pula, melakukan sesuatu yg biasa2 saja. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita sbg muslim sejati, harus pandai untuk mengatur strategi kebaikan dalam berikhtiar. Membuat rencana yg terstruktur, sehingga ikhtiar kita adalah senjata yg akan menghasilkan kebaikan berikutnya. Dengan strategi terbaik kita dalam berikhtiar, semoga do’a dan usaha, menjadi satu senjata kebaikan yg ada di dalam hati setiap umat Islam.
Kita juga diberi alat2 ikhtiar lain, seperti panca indera, badan, tangan, kaki, dan kesehatan. Semua disiapkan untuk menghadapi kesulitan hidup.
Kalau semua pemberian Allah subhanahu wa ta’ala itu diringkas, maka menjadi dua hal yg penting. Pertama, IKHTIAR. Kedua, DOA. Ikhtiar adalah usaha lahiriah. Doa adalah usaha batiniah atau permohonan melalui hati. Sehingga sebenarnya, usaha dan doa itu satu hal, dua sisi. Istilahnya, two side of one coin, dua sisi dari satu mata uang. Ikhtiar tidak akan lengkap tanpa doa; dan doa tidak bisa jalan tanpa ikhtiar.
Oleh sebab itu, cara menghadapi masalah yg sedang dihadapai sekarang adalah bagaimana meningkatkan KUALITAS IKHTIAR dan KUALITAS DOA. Di sinilah kunci sukses itu.
Kualitas ikhtiar kita, tentu dimulai dari ilmu pengetahuan. Orang yg berilmu akan melakukan ikhtiar lebih baik. Lalu ilmu itu harus dipraktikkan terus-menerus dalam mengatasi kesulitan, sehingga menjadi kaya pengalaman (experience). Pengalaman di sini, bukan hanya pengalaman mengatasi kesulitan, melainkan juga pengalaman pergaulan.
Selanjutnya, karena dunia ini isinya bukan hanya hal2 yg bisa diikhtiarkan saja, melainkan ada hal2 yg lebih besar daripada dimensi ikhtiar, maka diperlukan doa. Misalnya, kita tidak bisa mengatur hidup kita sendiri, umur kita berapa, pasangan hidup kita nanti siapa. Semua masih “gelap” (belum jelas). Ini contoh hal2 yg tidak bisa didesain, melainkan by accident (tiba2; mufaja’ah).
Dalam kehidupan ada dua masalah. Pertama, Masalah yg bisa direncanakan. Kedua, masalah yg ada dgn sendirinya. Maunya tidak sakit, tapi sakit. Maunya duit gaji utuh, hanya untuk makan, ternyata untuk bayar rumah sakit. Mau kita selamat, anak kita keserempet motor. Jadi, di dunia ini sangat banyak masalah yg bersifat aksiden (tiba2); sehingga harus ada antisipasinya, yaitu doa.
مَنْعُ الْعَطاءِ، عَيْنُ الْعَطَاءِ
Artinya, “kalau Allah subhanahu wa ta’ala tidak memberi, padahal kita sudah meminta; maka tidak adanya pemberian itulah pemberian-Nya”.
Wallahu a’lam
Summarized from various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet