Oleh Chubbi Syauqi (Mahasiswa Jurusan tarbiyah Prodi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Purwokerto)
Catatan Perjalanan
Ketika saya telah merampungkan menulis esai yang berjudul “Kyai Sa’dulloh : Ngelmu dalam Syiir Sun Ngawiti” yang dimuat di Langgar.co, tanpa sengaja saya menemukan tiga artikel menarik yang mengulas tentang syiir. Masing-masing artikel itu ditulis oleh Muzakka (1999), Hadi (2001), dan Zainul Milal Bizawie (2016). Ketiganya memberikan argumentasi secara gamblang ihwal syiir yang ada di Jawa. Saya terperangah setelah membaca ketiganya memberikan statmen bahwa khazanah syiir di Jawa telah bercampur baur dengan budaya arab.
Saya akan mengurai syiir dengan artikel dari Muzakka (1999) yang berjudul ”Singiran: Sebuah Tradisi Sastra Pesantren”. Menurutnya, Syi’ir dalam bahasa memiliki kedekatan makna dengan syair. Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan sebagai salah satu bentuk puisi lama yang pada tiap-tiap bait terdiri atas empat larik yang berakhir dengan bunyi yang sama. Secara etimologi (bahasa), kata syiir berasal dari kata “sya’ara atau sya’ura” yang memiliki makna mengetahui atau merasakan. Sedangkan dalam perspektif terminologi atau istilahi ada yang berpendapat bahwa, ia serupa kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama atau wazan arab.
Syi’ir pada hakikatnya adalah karya sastra yang berbentuk tulis maupun lisan berbentuk puisi yang berirama dan bersajak indah. Dalam perkembangnya di Nusantara, khasanah syiir telah bercampur dengan tradisi kesusastraan lokal. Keterpengaruhan tradisi lokal dalam syiir berwujud dalam syiir puisi Jawa (M.Muzakka, 1999: 2). Dalam perkembanganya, khususnya di Jawa, syiir begitu menggeliat di Jawa sekitar pondok pesantren, masjid, maupun pengajian. Syiir- syiir itu kemudian berwujud dalam puisi yang bercampur antara bahasa Jawa tanpa meninggalkan huruf arabnya (arab Pegon). Dia pun mengambil kesimpulan bahwa, lahirnya syiir Jawa bukan tanpa sebab, melainkan adanya perkawinan budaya antara arab dan Jawa.
Artikel berikutnya yang tidak kalah menarik yakni dari Abdul Hadi (2001) yang berjudul “ Tasawuf Yang Tertindas”. Menurutnya, syiir sebagai bentuk puisi klasik Jawa, ia memuat pengalaman imajinatif dari si empunya, yang tertuang dalam bahasa ringkas, padat dan ekspresif. Pengalaman tersebut tidak hanya bersifat jasmaniah atau kenyataan, akan tetapi mengungkapkan pengalaman batin atau rohaniah. Syi’ir acapkali memotret zaman tertentu dan akan menjadi refleksi zaman tertentu pula. Selain itu, ia juga memuat semacam senyawa rohaniah, serupa penggambaran hakikat maut dan akidah Islam yang terkandung di dalamnya. Menurutnya syiir serupa puisi sufistik. Ia mengungkapkan keadaan-keadaan (maqam dan hal) rohani yang dibaca. Pembacaan syiir diharapkan mendapatkan hikmah pengalaman batin sebagaimana yang telah dituliskan oleh si empunya. Perwujudan hikmah dari puisi yang begitu kentara adalah pembaca memperoleh hikmah berupa gambaran jiwa spiritual. Ia memberikan penegasian syiir merupakan puisi klasik Jawa.
Dari kedua artikel tersebut, saya belum dapat memahami bentuk syiir antara puisi Jawa dengan Nazham. Dan rupannya, pada artikel berikutnya saya menemukan jawaban atas keresahan ini. Yakni artikel yang ditulis Zainul Milal Bizawie (2016), seorang sejarawan santri, dalam artikelnya yang berjudul “Masterpiece Islam Nusantara”. Menurutnya syiir terbentuk serupa dengan nazham, dimana kalimat yang disusun secara teratur dan bersajak. Karakteristik susunan syiir memilki ketidaksamaan dengan puisi Jawa, sebut saja macam tembang macapat, geguritan dan parikan. Tembang macapat terikat oleh aturan guru lagu (patokan bunyi akhir), guru wilangan (jumlah suku kata tiap baris), jumlah gatra (baris sajak) dan juga perlu mempertimbangkan purwakanthi guru swara. Dalam perwujudannya, acapkali syiir Jawa tertulis dengan aksara pegon. Hal ini memberikan penegasan identitas bagi pesantren dan santri (Bizawie, 2016: 447). Aksara Pegon dalam pekembanganya begitu membantu dalam pembentukan sebuah komunitas pesantren.
Yang menjadi sorotan saya dari ketiga artikel tersebut yakni mengenai syiir yang dalam penulisannya menggunakan aksara pegon. Dari sinilah timbul keresahan saya terhadap syiir sun ngawiti. Dengan masih diliputi rasa keresahan, saya mencoba mendedah keresahan dengan sowan ke dhuriyah muasis syiir sun ngawiti. Sejenak kemudian, saya ngopi-ngopi dan nggedabrus dengan Gus Akmal ( cucu dari Kyai Sa’dulloh Majdi). Dalam ngopi-ngopi tersebut, saya menanyakan kegelisahan saya mengenai syiir sun ngawiti. Saya cukup terperangah saat saya diperlihatkan naskah asli syiir sun ngawiti besutan Kyai Sa’dulloh Majdi benar-benar menggunakan aksara Pegon.
Inilah manuskrip syiir sun ngawiti anggitan seorang ulama karismatik Banyumas, Kyai Sa’dulloh Majdi, Jawa Tengah (1929-1982 M). Syiir ini terdiri dari 15 bait dan menjadi hafalan wajib bagi santri Madrasah Al-Ittihad Pasir Kidul, Purwokerto Barat, Banyumas. Manuskrip ini tersimpan di special collection di perpustakaan Al-Ittihad. Ia tertuang dalam sebuah kertas yang terhimpun dalam sebuah buku tulis. Susunan teks sesuai dengan penulisan Arab, yakni dari kanan ke kiri dengan aksara pada umumnya adalah Pegon dan sebagai lainnya di Jawa. Kemungkinan syiir ini ditulis sekira tahun 1960-an. Pengarang tidak menyantumkan waktu menganggit syiir tersebut. Namun, berdasarkan sumber data berupa cangkeman syiir sun ngawiti hadir selepas 2 tahun berdirinya Madrasah Al-Ittihad 18 Oktober 1958, sekira tahun 1960an. Berikut merupakan transliterasi dari manuskrip syiir sun ngawiti tersebut:
| Sun ngawiti klawan muji Dzat Kang Asih | 1 | rohmat salam katuro Nabi kekasih |
Aku memulai dengan memuji Dzat Yang maha asih. Rahmat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang menjadi kekasih.
| Opo dene wargo dalem lan shohabat | 2 | sarto kabeh wong kang tresno lan kang tho’at |
Begitu juga keluarganya, sahabatnya dan semua orang yang cinta kepadanya serta taat.
| Ayo konco podo mlebu ing madrosah | 3 | nggolet ilmu ojo wedi susah payah |
Mari teman masuk madrasah, cari ilmu jangan takut susah payah.
| Mumpung kito durung kasep ing wektune | 4 | yen wis kasep ora guno pigetune |
Selagi kita belum terlambat. Jika sudah terlambat maka penyesalan tiada arti.
| Nggolet ilmu iku dawuhe Njeng Rosul | 5 | mulo wajib kito reti sarto qobul |
Mencari ilmu adalah perintah Rosul. Karenanya kita wajib tahu dan menerima.
| Ojo nganti kito mampang ing panutan | 6 | rino wengi esuk sore manut setan |
Jangan sampai kita terbawa nafsu. Siang, malam, pagi, sore ikut setan.
| Ngertiyo yen setan iku ngrusaake | 7 | ngalor ngidul ngetan ngulon nasarake |
Ketahuilah, setan itu berbuat rusak. Ke utara, ke selatan, ke timur, ke barat menyesatkan.
| Wong sinahu wajib sregep lan tumemen | 8 | ojo maju mundur noleh ngiwo nengen |
Orang yang belajar wajib rajin dan sungguh-sungguh. Jangan maju-mundur, lihat kanan-kiri.
| Sabar tawakal ngadepi kasengsaran | 9 | pasrah kabeh pekewueh ing Pangeran |
Sabar, tawakal menghadapi kesengsaraan. Pasrahkan semua pada Tuhan.
| Kuwat nandang werno-wernone rintangan | 10 | opo dene kurange sandang lan pangan |
Kuat menghadapi berbagai rintangan dengan kurangnya pakaian dan makanan.
| Ilmu iku tondo-tondone kabejan | 11 | soko Alloh ugo tengere karidlon |
Ilmu itu tanda kebahagiaan dari Allah juga tanda keridloan.
| Sebab ilmu mau wetone gondelan | 12 | tanpo ilmu kito sasar ing dedalan |
Karena pada dasarnya ilmu adalah petunjuk. Tanpa ilmu kita akan tersesat.
| Mulo ayo kito kabeh bebalapan | 13 | ngudi ilmu ojo nganti kekasepan |
Maka, mari kita berlomba-lomba mencari ilmu jangan sampai terlambat.
| Ngertiyo yen kito kabeh mung ngumboro | 14 | liyo wektu mesti sowan ing bendoro |
Ketahuilah, kita semua hanya mengembara, cepat atau lambat kita pasti akan menghadap Tuhan.
| Temen-temen kudu eling ojo lali | 15 | mbo’ menowo siro biso dadi wali |
Syiir Sun Ngawiti Beraksara Pegon
Lebih dari seabad yang lalu, Pigeaud membuat kesimpulan miring tentang aksara Pegon. Dalam katalog pentingnya yang memuat daftar manuskrip-manuskrip Jawa di perpustakaan Leiden dan beberapa perpustakaan lainnya di Belanda, sang filolog mengatakan bahwa penggunaan aksara Pegon telah mati pada akhir abad ke-19. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa hal ini sejalan dengan berkembang pesatnya penggunaan kembali aksara Hanacaraka yang didukung oleh Keraton Surakarta (Pigeaud 1967, 27). Kesimpulan Pigeaud di atas tentu saja terlalu sembrono dan keliru. Masyarakat santri di Jawa sejak masa Sultan Agung pada awal abad ke-17 hingga dewasa kini masih menggunakan aksara Pegon. Fungsi utamanya adalah sebagai wahana penulisan terjemahan antar baris dari teks-teks berbahasa Arab klasik ke dalam bahasa Jawa.
Manuskrip syiir sun ngawiti besutan Kyai Sa’dulloh (1960) kiranya bisa menjadi sanggahan atas kekeliruan Pigeuad terhadap penggunaan aksara Pegon. Intensifikasi penggunaan aksara Pegon masih tetap menggeliat dalam abad ke-19 akhir. Bukan hanya syiir sun ngawiti saja yang ditulis dengan aksara pegon, beberapa karya lain dari Kyai A. Sa’dulloh Majdi yakni Kitab Tsu’latul Afham, Kitab Bulghotut Thulab, Kitab Zubdatut Tauhid, dan Kitab Masyraul Munawwar. Semuanya ditulis dalam aksara Pegon dan dianggit pada abad ke-19. Ikhtiar ini, menjadi alat pencerahan terhadap masyarakat sekitar tentang penulisan aksara Pegon, juga menyesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar Desa Pasir Kidul yang tidak bisa berbahasa Arab. Boleh dikatakan, Kyai Sa’dulloh Majdi merupakan sosok pelopor dan penyebar metode penulisan Pegon (Arab-Jawa) di wilayah Banyumas. Dengan medium Pegon, Kyai Sa’dulloh berharap agar masyarakat Desa Pasir Kidul dan sekitarnya dapat memahami ilmu keislaman melalui kitab-kitab yang ia karang. Maksud dan tujuan ini, ia eksplisit kan dalam Kitab Masyraul Munawwar yang memilki arti “Desa yang Bercahaya”.
Terkait dengan penggunaan aksara Pegon, bila menengok akar sejarahnya akan menuai ketersambungan sanad dengan Kyai Sholeh Darat. Gerakan kepenulisan aksara Pegon yang digalakan oleh Kyai Sholeh Darat dimasanya, sampai-sampai menuai keresahan pihak Kolonial. Menjelang laporannya soal pendidikan di 1887, Van den Berg (dalam Bizawie: 2016) menyampaikan keresahannya tentang gerakan keilmuan dengan menggunakan aksara Pegon. Ia menegaskan bahwa para ulama Hadrami, terutama yang menjadi mitra kerjanya merasa kehilangan wibawa dan pengaruhnya atas beberapa pesantren. Hal ini disebabkan banyaknya tokoh Jawa yang menduduki peran strategis dalam pendidikan hukum-hukum Islam. Sebaliknya, banyak ulama Hadrami terkucilkan, yang salah satu faktornya karena banyak aktivitas pengajaran agama Islam yang berlangsung dengan menggunakan Bahasa Jawa, bukan Melayu yang menggunakan aksara Latin (Ulum & Mufarohah, 2016).
Berkat perjuangan Kyai Sholeh Darat, Pada masa abad 19 hingga masa-masa berikutnya, tradisi keilmuan yang berkembang di pesantren-pesantren tradisional di Jawa banyak menggunakan aksara Pegon. Hal ini tercermin dari kalangan santri tradisional yang memberi makna terhadap kitab-kitab kuning dengan bahasa Jawa, tetapi beraksara Arab alias Pegon-Jawa. Selain itu, para kiai dan ulama dalam membuat karangan kitab-kitab juga banyak menggunakan aksara Pegon. Mereka memberi syarah maupun membuat syair banyak menggunakan aksara Pegon.
Menjaga Momentum
Momentum yang dahulu telah digalakan oleh Kyai Sholeh Darat harus terus dijaga oleh para ulama-ulama Pesantren. Hal ini bukan halyang mudah, memang. Dalam pada itu, momentum yang sama yakni lahirnya karya Pegon, syiir sun ngawiti. Kyai Sa’dulloh melalui madrasah Al-Ittihad Darussa’dah yang didirikanya berupaya menjaga momentum ini. Madrasah ini merupakan sebuah sekolah non-formal yang berisikan materi-materi agama. Kyai Sa’dulloh meramu (manajemen) madrasah secara modern, namun, kurikulum tetap berparadigma tradisional, yakni materi khas pesantren. Aksara Pegon menjadi medium dalam kegiatan belajar mengajar di madrasah Al-Ittihad.
Melalui madrasah yang ia dirikan, Kyai Sa’dulloh merefleksikan tugasnya sebagai ulama pesantren agar mengusung aksara Pegon. Jika kita amati aksara Pegon, dalam penulisannya ia tidak takluk pada huruf Hijaiyah yang berjumlah 29 huruf tersebut. Arab Pegon tak segan-segan meminjam huruf-huruf Persia, seperti memasukan huruf-huruf yang memiliki tiga titik yang tidak ada pada huruf Arab. Salah satu contoh aksara Pegon macam huruf jim pada huruf Hijaiyah (bunyi: J), sedang aksara Pegon menambahkan titik menjadi tiga menjadi (bunyi: C). Selain meminjam dari Persia, Arab Pegon juga meminjam bunyi dari India. Misalnya, Huruf Ghain baik dalam Arab Hijaiyah maupun Persia sama-sama memiliki satu titik di atas. Sedangkan pada Arab Pegon membuatnya memiliki tiga titik di atas (bunyi: Ng). Bunyi huruf “Nga, Ngi, Ngu, Nge, Ngo” atau “Ang, Ing, Ung, Eng, Ong” tidak akan ditemukan dalam Arab Hijaiyah maupun Persia. Karena bunyi sengau tersebut diambil dari huruf Jawi-Sanskerta.
Yang musti dingat disini, kreatifitas dan regenerasi penulisan Pegon terus digalakan oleh ulama-ulama Nusantara, tak terkecuali dengan Kyai Sa’dulloh Majdi. Ia menunjukan pada kita akan kreatifitas dan semangat nguri-nguri sesuatu yang lama. Nah, sekiranya bagi saya Kyai Sa’dulloh Majdi melalui karya-karya dan madrasahnya tengah menyisipkan spirit al-muhafadhotu ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah ini untuk disesapi dan diwariskan oleh generasi kita. Wallahu a’lam bis shawab.

No responses yet