Jama’ah : “Jo ada gosip baru bahwa ada tokoh besar yang beberapa lalu kritis pada kebijakan pemerintah, sekarang malah dijadikan komisaris utama BUMN. Menurutmu hal ini baik atau tidak bagi ummat yang dipimpinnya? Beliau itu tokoh publik, harusnya bisa menjaga dirinya dari fitnah yang bisa datang kapanpun.”
Paijo :”Sampeyan ini aneh kang, saya tidak pernah jadi tokoh dan cuman pelayan warung Yuk Tin kok dimintai pendapat soal tokoh besar yang jadi komisaris perusahaan negara yang besar pula.”
Jama’ah : “Tapi kamu bisa merasakan setiap keganjilan yang terjadi di warung Yuk Tin yang beragam ini Jo. Pasti kamu bisa juga merasakan situasi ini.”
Paijo : “Kalau merasakan dari sudut pandang diri sendiri ya semua orang bisa kang, termasuk sampeyan.”
Jama’ah : “Nah itu dia, aku kan sudah bilang di awal, sekarang aku ingin dengar perasaanmu Jo.”
Paijo : “Kalau aku sih melihatnya dari dua keumuman. Kalau beliau ditunjuk sebagai komisaris karena kedudukannya di ormas, maka dia harus ijin kepada organisasi. Apa boleh beliau menduduki jabatan prestisius itu. Jika tidak boleh ya harus menolak atau mengusulkan penggantinya atas nama ormas.”
Jama’ah : “Kalau atas nama pribadi gimana Jo?”
Paijo : “Sebaiknya beliau menolak supaya tidak ada fitnah di organisasi yang dipimpinnya dikemudian hari. Serta tetap mengabdi pada ummat yang dipimpinnya. Biarkan Allah yang mencukupkan kebutuhan beliau, sebagaimana telah berjalan selama ini.”
Jama’ah : “Mudah-mudahan begiitu Jo, kalau menerima gimana Jo? Apa seharusnya dia mundur jadi pemimpin ormas?”
Paijo : “Kalau mundur dia malah akan kehilangan semuanya kang, beliau akan jadi komisaris seumur jagung. He he he”
Jama’ah : “Lho maksudmu sebenarnya beliau dipilih karena posisi yang beliau sandang sekarang ini Jo? Oala Jo gitu toh. Terus gimana dong.
Paijo : “Kang situasi politik saat ini mirip ( meski tidak persis) dengan situasi di awal orde baru. Banyak tokoh masyarakat dan politik yang dijadikan komisaris di perusahaan milik negara. Semuanya dikondisikan agar situasi politik lebih tenang dan bisa fokus pada pembangunan. Pemerintah tidak lagi disibukkan dengan protes dan kritikan yang kadang memang sering bikin gaduh tapi tidak mendukung perbaikan situasi. Meskipun (menurutku) situasi sekarang sebenarnya lebih stabil dan relatif kuat untuk melahirkan sistem demokrasi yang lebih matang. Andaikan ada Gus Dur, beliau mungkin sangat sedih karena banyak tokoh salah paham tentang arah cita-cita demokrasi yang beliau perjuangkan. Jadi ini memang dilema simalakama, di tolak akan dianggap tidak menghargai si pemberi, diterima akan jadi sumber fitnah yang lebih besar bagi organisasi di kemudian hari. Itulah kenapa saya bilang di awal tadi, pilihan bijaknya adalah berkonsultasi pada otoritas tertinggi di organisasi. Kalau beliau-beliau membiarkan ya sudah, semoga Allah melindungi kita dan ummat yang mereka diamanahi untuk memimpin. Tapi aku sendiri lebih suka kalau beliau menolak jabatan ini. Mengurus ummat jauh lebih mulia dari pada sekedar jabatan yang bukan dalam wilayah keahliannya. Bagiku kang ini semacam sindiran politik dari tim pemain catur politik yang cerdas. Kira-kira mereka berkata : “Ayo taruhan, kita uji pak yai dengan jabatan duniawi, apakah beliau akan ingat dengan kaidah “Kalau sebuah perkara di serahkan bukan pada ahlinya, maka tunggu saja saat…….Atau beliau pura-pura tidak ingat dengan kaidah itu”. Tapi ….ah sudahlah kang, kita berdo’a saja Tuhan akan melindungi beliau dan ada hikmah yang baik atas peristiwa ini bagi kita di kemudian hari. ” #SeriPaijo

No responses yet