Seorang muslim di Eropa menanyakan hukum menjual barang yang diharamkan seperti minuman memabukkan, babi.
Dijawab tentang keharamannya..
Beberapa tahun kemudian, orang yang sama menanyakan tentang hukum shalat di hamam (wc/toilet)..
Ternyata orang itu asalnya punya supermarket besar, karena disebutkan keharamanya menjual barang haram, maka dia pun tidak lagi menjual barang2 itu..
Para konsumen yang menemukan supermarket orang itu tidak menjual lengkap kebutuhan mereka; akhirnya beralih ke supermarket yang lain..
Orang itu pun kehilangan banyak pelanggan, akhirnya tidak bisa bayar pajak & supermarketnya disita.
Orang itu akhirnya menjadi pelayan di sebuah toko/restoran yang juga menjual makanan tidak halal.. Dia sangat kesulitan menjalankan ibadah, sampai untuk shalat dia hanya bisa memanfaatkan waktu untuk ke toilet & shalat sembunyi2 di sana..
Kehidupannya yang dulu seorang boss menjadi pelayan rendahan yang kesulitan menjalankan agama..
Dari situ, diambil hikmahnya: al-Imam Hanafi rahimahullah mengatakan keBOLEHan berinteraksi ekonomi yang haram tapi diakui oleh orang kafir di wilayah nonmuslim.
Al-Imam Hanafi adalah ulama besar, disebutkan bahwa “umat manusia merupakan anak2 (berhutang budi pada) beliau”.
____
Itulah cerita tentang keindahan agama kita yang penuh kasih sayang.. saat ulama berbeda pendapat.. fatwa yang “berbeda” boleh jadi solusi nyata di kehidupan sebagian orang..
Itu kaedah agama: “jika seseorang berada dalam kesulitan, maka dipersilahkan mengambil pendapat yang membolehkan”.
Mungkin hal seperti itu tidak kita temui, bahkan tidak bisa kita rasakan karena kita hidup dalam kenyamanan hidup & kebebasan beragama.. ibaratnya: di belahan penjuru bumi lain; orang2 kesulitan untuk mendapatkan air minum, harus tayammum untuk shalat.. sementara kita hidup dengan air berlimpah, mudah untuk wudhu kapan saja kita mau.. seandainya diperintahkan untuk mandi sejumlah shalat; air sangat cukup & cuaca panas di negara kita pun mendukung untuk melakukannya…
Makanya Maulana Syekh Ali Jum’ah hafizhahullah sering mengingatkan bahwa: “Agama Islam itu lebih luas dari pemikiran & pendapat kita.. lebih luas dari madzhab kita… sangat luas.. karena datang dari Tuhan semesta alam”.
O,iya cerita Maulana Syekh Ali Jum’ah hafizhahullah tentang pendapat al-Imam Abu Hanifah rahimahullah itulah yang sering dipotong oleh kaum radikal untuk mentertawakan beliau ataupun digunakan sekuler untuk kepentingan mereka.. Membuktikan ucapan beliau: “Radikal & sekuler adalah 2 sisi mata yang yang sama”.
Bagaimana pun Maulana in sya Allah dapat hasanat dari berbagai tuduhan & kecaman di Indonesia.. mungkin hasanat itu adalah hadiah di perayaan ulang tahun beliau ke 69 tahun….
“Segala puji bagi Allah Yang Menghidupkan kita di zaman beliau, Menjadikan kita bagian dari murid2 beliau & duduk di bawah kaki beliau, Beliaulah Ali (tinggi).. Dan orang yang bersama Ali maka dia pun Ali (tinggi)”.. (ucapan Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah).
Semoga Allah SWT Menjaga beliau untuk umat yang sangat memerlukan beliau.. Aamiin.. Ya Rabb..
Sumber: FB Hilma rosyida Ahmad

No responses yet