“Nak, kalau kamu jadi guru, jadi dosen, jadi ustadz, jadi kiai sekalipun, kamu harus tetap usaha. harus punya usaha sampingan biar hati kamu tidak selalu mengharap pemberian ataupun bayaran orang lain. Karena usaha yg dari hasil keringatmu sendiri itu barokah”.

(Dawuh Simbah KH Maimun Zubair rahimahullah)

————-

Dalam nasehat itu seorang guru harus memiliki usaha atau pekerjaan lain, sehingga ketika ia mendidik atau mengajar, bukan hanya serta merta mengandalkan gaji dan pemberian orang lain, melainkan hasil yg dimiliki karena hasil jerih payah keringatnya sendiri. Pesan ini cukup mendalam bagi guru2 di Indonesia, agar tetap ikhlas dalam menjalankan amanahnya menjadi guru.

Selain itu, jika hanya mengandalkan gaji dari mengajar, kemudian nyaman, kemudian menganggap lembaganya menjadi miliknya, maka dibalik perjuangan akhirat menjadi kepentingan dunia. Apalagi sudah menganggap menjadi ladang keuntungan penghasilan dunianya, maka muncul penyakit hati takut kehilangan segalanya, takut melepaskan, padahal bukan haknya, bukan miliknya, sehingga dgn segala cara bagaimana tetap “menguasai” nya. 

Jika ada yg mengingatkannya dianggap sbg musuhnya, dianggap membenci dirinya, dianggap penghalang dirinya dan selalu mengatakan “karena saya lembaga ini besar, karena sayalah yg paling mengurusi, sakit rasanya jika ada yg ingin melakukan perubahan. Padahal yg sakit adalah dirinya, yg telah mengidap ketamakan atas nama mengajar. Sifat angkuh, sombong, fitnah, hasud dan merasa paling berjasa mengiringi ketamakan sebab takut kehilangan penghasilan dari lembaga yg dikuasainya. 

Jika bukan miliknya, seharusnya ikhlas melepaskan sbg wasilah jariyah, jika waktunya ada perubahan, jika merasa paling membesarkan dgn merendahkan peran orang lain, maka itu nama lain ketidakikhlasannya selama ini. Inilah salah satu faktor adanya kesenjangan yg berlebihan.

Kehidupan bersama akan menjadi tetap stabil dan damai, jika tidak ada orang tamak, yg selalu melahirkan kesenjangan yg berlebih2an. Oleh karena itu, tatkala melihat ada persoalan yg terjadi di lembaga pembelajaran, mereka segera mengatakan bahwa sebabnya adalah kesenjangan. Kesenjangan akan melahirkan penyakit hati, seperti dengki, iri hati, hasud,  kesombongan, bagaimana menghujamkan pengaruh dgn menjelekkan orang dan sebagainya. Sehingga tiada sadar bahwa bitu bukan haknya, bukan miliknya. Penyakit lupa yg akut.

Akan tetapi manusia juga selalu memiliki keinginan untuk meraih kelebihan dibanding yang lain. Siapa saja ingin menjadi lebih kaya, lebih pintar, lebih berpengaruh, lebih berkuasa, lebih terkenal, dan seterusnya. Sekalipun kesamaan dan kebersamaan adalah dipandang baik dan mulia, tetapi nilai mulia tsb pada kenyataannya tidak selalu diperjuangkan. Yg penting dirinya diakui sbg nomor satu berkat jasa2nta. Hal itu disebabkan setiap orang menginginkan berbeda dan melebihi dari yg lain termasuk menguasai sesuatu yg bukan haknya, bukan miliknya, lupa jika itu milik masyarakat.

Akhirnya, keinginan berbeda dan berlebih tsb, kadang terlalu berlebihan atau di luar batas. Keadaan yg demikian itu disebut tamak. Mengejar kekayaan dan menguasai hingga berlebih2an, dan tidak memperhatikan orang lain, yg juga membutuhkannya, pasti akan mengganggu kondisi kehidupan bersama. Seseorang, sekalipun pengabdiannya sudah sangat berlebih, tidak pernah berhenti mencarinya. Keinginannya menumpuk harta tidak terbatas. Itulah yg disebut dengan tamak.

Tamak tidak saja terhadap harta, tetapi juga pada jabatan, kekuasaan, pengaruh, pangkat, dan sebagainya. Orang yg memiliki sifat tamak, ketika diberi atau memperoleh apa dan berapa saja tidak pernah merasakan cukup. Sudah barang tentu, sifat itu tidak saja membahayakan terhadap diri yg bersangkutan, tetapi lebih2 terhadap orang lain. Banyak orang tamak di dunia ini, hidupnya berakhir dgn kenistaan fan penyesalan.

Berbagai persoalan yang muncul dari sifat tsb, seperti terjadinya konflik, permusuhan, curiga mencurigai, saling mengkriminalkan, kesenjangan, fitnah, hasud, merasa berjasa dan lain2 adalah bersumber dari adanya orang2 tamak secara leluasa berusaha memenuhi keinginannya, lahan mengajar mjd ajang keuntungan materi duniawi.

Apapun jalannya dan perkembangannya menurut selera dirinya. Ketamakan atas nama mengajar harus dihentikan dgn kesadaran dirinya sendiri. Hanya waktu yang menjawab semuanya .. Allah Maha Tahu dalamnya hati manusia ..

Wallahu a’lam

Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *