_”Abu Musa bertanya, muslim yang mana yang paling utama?, Nabi Saw., menjawab, Seseorang yang orang-orang muslim selamat dari lisan dan tangannya.”_
HR. Bukhari Muslim
Bersikap baik kepada sesama merupakan satu keniscayaan. Apalagi perbuatan baik itu dilandaskan atas kesadaran untuk memperoleh ridha Allah Swt. Kebaikan yang dilakukan terhadap sesama akan memperoleh balasan kebaikan yang sama dan balasan dari Allah Swt.
Termasuk di antara berbuat baik pada sesama yakni dengan tidak menyakiti mereka baik dengan lisan maupun tangan. Tidak menyakiti dengan perkataan maupun perbuatan. Hal ini sebagaimana jawaban Nabi Saw., atas sahabat yang bertanya, “Muslim yang bagaimana yang utama?, Seseorang yang orang-orang muslim selamat dari lisan dan tangannya.”
Sabda Nabi Saw., di atas mempertegas bahwa seorang muslim dilarang menyakiti sesamanya, tanpa suatu alasan yang diperbolehkan–suatu misal algojo yang bertuhas mengeksekusi hukum qishash. Perbuatan menyakiti pada sesama ini bukan karakter utama orang Islam. Karena itulah, muslim yang baik tidak akan menyakiti sesamanya baik dengan lisan maupun tangan atau perbuatannya.
Jika seorang muslim mampu untuk menahan lisan dan tanganya tidak menyakiti sesama maka ia tergolong sebagai muslim yang utama. Status seperti inilah sesungguhnya harus diuoayakan oleh orang-orang muslim. Sehingga kesadaran untuk tidak menyakiti pada sesama dengan cara apapun tidak akan dilakukan. Termasuk dengan tidak menyebarkan aib, mencari kesalahan orang lain, dan tidak melakukan tindakan yang merugikan sesama.
Demikianlah uraian singkat tentang kriteria orang muslim yang utama. Semoga kita termasuk kategori ini. Amin.
Wallahu A’lam Bisshawab.
Kediri, 04-03-2021.

No responses yet