Suatu saat ada seorang fakir miskin datang di majelis Imam Abul Hasan As Syadzili yang saat itu, Sang Imam sedang mengenakan pakaian dari bulu. Pakaian paling mahal dan mewah di waktu itu. 

Setelah Imam As Syadzili selesai mengajar, si orang fakir itu mendekat kepada beliau dan memegang pakaian Sang Imam sambil berkata, “Wahai tuanku, Gusti Allah tidaklah  disembah dengan seperti pakaian yang Anda pakai ini” 

Kemudian Imam As Syadzili memegang pakaian orang fakir itu dan ternyata pakaiannya kasar, lalu beliau dawuh, “Dan demikian juga Gusti Allah tidak disembah dengan seperti pakaian yang anda pakai ini. Pakainku seolah berkata: Aku kaya maka kamu jangan beri sedakah padaku. Sementara pakaianmu seolah berkata: Aku fakir miskin, maka berilah aku.”

Melalui pernyataan ini, Imam Abul Hasan As Syadzili tidak bermaksud mengkritik dan melarang orang berpakaian apa saja. Akan tetapi beliau hendak menyatakan bahwa tingkat penghambaan kepada Gusti Allah tidak ditentukan oleh bentuk dan warna pakaian, jabatan, posisi, pekerjaan, miskin atau kaya. Tetapi oleh sejauah mana kondisi hati manusia dengan Gusti Allah. 

Bahkan pakaian, posisi, profesi dan asesoris dunia itu berpotensi membuka pintu klaim. Kadang yang nampaknya miskin, ternyata paling thomak dgn harta. Kadang yang suka pamer tangis, ternyata ingin dikasihani manusia. Kadang yang suka tertawa di mana saja, ternyata dia hamba sejati. Belum tentu orang miskin itu paling dekat dengan Gusti Allah dan belum tentu pejabat itu kekasih Gusti Allah.

Jadi ya wes biasa saja, mbah. Mau gaya kere atau parlente yang penting tetep ngabdi pada Gusti Allah.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *