Catatan Singkat Rapat Pengurus LBM PCNU Tangerang Selatan

Sebelas abad yang lalu, pernah hidup seorang ulama bernama Imam al-mudzakarah. Secara bahasa, berarti diskusi. Nama ini disematkan karena setiap kali ketemu temannya, ia selalu mengajak berdiskusi. “Apakah engkau memiliki satu tema yang bisa kita diskusikan?”. Kecintaan pada ilmu gramatikal bahasa Arab (Nahwu) membuatnya bergairah mendiskusikannya, dimanapun, dengan siapapun. Imam al-Mudzakaroh merupakan satu contoh ulama kreatif dan progresif. Tidak ingin waktu terbuang tanpa ada mudzakarah ilmu. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852 H), dalam kitab “Nuzhah al-Albab fi al-Alqab” menjelaskan biografi utuhnya. Nama asli Imam al-Mudzakarah adalah al-Mundzir bin Abdurrahman. Ulama Andalusia (Spayol), wafat tahun 393 H.  

Oleh Ahmat T. Kuru, guru besar ilmu politik San Diego University, spirit intelektual kreatif ini disebut sebagai “ruh kemajuan” masyarakat muslim, khususnya di sepanjang abad 8 sampai pertengahan 11 M. Ruh tersebut berlahan meredup, hingga akhirnya padam. Semangat intelektual kreatif di atas perlahan pindah ke negara-negara Barat. Ragam diskusi dan kajian dihidupkan. Ilmu tidak hanya monopoli gereja dan raja. Terang Renaisans disuluh sebagai pengganti kegelapan Abad Pertengahan. Dari spirit itulah, kini Barat mencapai kemajuan. Sebaliknya, kebanyakan masyarakat muslim terjebak pada otoritarianisme dan ortodoksi. Gairah keilmuan ditundukkan oleh kepentingan politis dan elit.

Untuk membawa kemajuan negara-negara mayoritas muslim,  Ahmet T. Kuru dalam bukunya yang berjudul “Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment; A Global and Historical Comparision” (2019) mengajukan dua rekomendasi. Pertama, perlunya iklim keilmuan yang kondusif bagi tersemainya intelektual kreatif. Kedua, perlu juga iklim sosioekonomi yang menumbuhkan borjuasi muslim yang independen. Dua hal inilah yang nantinya dapat menetralisir jalinan ortodoksi dan otoritarianisme. Menghidupkan kembali kreatifitas ilmiah 5 abad awal masyarakat muslim.

Beberapa hari lalu, dari pukul 14.00-18.00 WIB, senang sekali saya bisa berdiskusi dengan pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Tangerang Selatan. Kumpulan alumni lintas pesantren; Pacul Gowang Jombang, Mathaliul Falah Pati, Nurul Jadid Probolinggo, Banyuanyar Pamekasan, Al-Shighor Cirebon, Tanggir Tuban, Ringinagung Kediri, dan lainnya. Sambil lesehan, kita berbincang memetakan langkah dan strategi menghidupkan ghirah mudzakarah di kalangan pesantren di Tangsel. Melalui forum bahtsul masail, diharapkan santri terbiasa menyampaikan pendapat, disertai dengan pertanggungjawaban basis literatur yang kuat. Jernih mengkritisi argumentasi orang lain, seraya lapang dada untuk disanggah. 

Dari sanalah, kreatifitas intelegensia dapat diasah dan diasuh. Sebagaimana dulu dijalani oleh Imam al-Mudzakarah. Antusias berdiskusi dengan siapapun dan dimanapun.

Lantas tertarikah anda?

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *