Oleh: Zia Ul Haq
Pendidikan ya memang fitrahnya berbasis masyarakat. Pelakunya masyarakat, prosesnya berlangsung di tengah masyarakat, dan buahnya juga dinikmati masyarakat. Jadi kalau ada istilah ‘pendidikan berbasis masyarakat’ (PBM) kok rasanya mubazir dan gatal di kuping.
Istilah PBM ini muncul sebab keresahan atas menjauhnya praktik pendidikan sekolah dari masyarakat, sebab kadung terjebak birokrasi formal. Baik lahir maupun batin. Jadi ya istilah PBM menjadi pelengkap atas praktik ‘pendidikan berbasis sekolahan’ (PBS) yang serba formalistik.
Demikian kusampaikan di hadapan para fasilitator komunitas belajar kemarin sore (27/2) di Kampoeng Percik Lembaga PERCIK Salatiga. Hadir juga Bu Muna, doktor psikologi putri almarhum Kiai Mahfudz Ridwan Pesantren Edi Mancoro. Juga Bu Dina, kepala SMP Sunan Giri yang menjadi praktisi pembelajaran aktif-kreatif. Kami didaulat jadi pemantik ide dalam diskusi bertajuk ‘Peningkatan Kapasitas Fasilitator Pendidikan Berbasis Masyarakat Kota Salatiga’.
Mewakili Pak Bahruddin, aku hanya cerita pengalaman praktik PBM di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT). Ada beberapa perbedaan pembelajaran yang sangat telak antara PBM dan PBS. Perbedaan-perbedaan tersebut jangan dipertentangkan, melainkan disandingkan untuk saling melengkapi. Atau lebih tepatnya, saling menolong (ta’awun).
Perbedaan-perbedaan pembelajaran antara PBM dan PBS terkait tujuan belajar, apa yang dipelajari, bagaimana cara mempelajari, dan bersama siapa belajarnya. Hal ini musti dipahami agar kita -para pegiat komunitas belajar- tidak terjebak pada apa yang sudah memerangkap dunia sekolahan.
PERTAMA. Kemana arah pembelajarannya? Tentu saja kebermanfaatan hidup di tengah masyarakat. Baik lingkungan keluarga, maupun yang lebih luas. Bukan semata-mata kepandaian dan kecakapan sebagai jalan menumpuk kemakmuran pribadi.
Maka dalam PBM, arahnya adalah penumbuhan nalar kritis atas kondisi sosial, serta semangat solusi atas masalah yang dihadapi. Semangat kritis-solutif ini mempengaruhi apa yang dipelajari, bagaimana mempelajarinya, dan bersama siapa proses belajarnya.
KEDUA. Apa yang dipelajari? Apapun fenomena yang bisa diindera di lingkungan sekitar adalah ‘tambang emas’ yang menjadi bahan belajar di PBM. Pepohonan, tanaman pangan, hewan ternak, jalan raya, sungai, pertokoan, sawah, kebon tetangga, potensi usaha, konten viral medsos, gegeran kampung, agenda desa, dan berjuta hal lain bisa dijadikan tema belajar.
Bukan melulu mata pelajaran dikotomik tekstual. Segala informasi teks (baik dari buku maupun video) hanya menjadi penunjang atas ilmu yang didapat secara langsung oleh anak dari lingkungan sekitarnya. Bukan sebaliknya.
KETIGA. Bagaimana cara belajarnya? Jelas melalui pembacaan, penalaran, perenungan, dan dilengkapi diskusi atau obrolan. PBM mengutamakan proses diskusi agar anak terbiasa bicara dan menyimak, bertukar gagasan, serta mempertahankan atau menerima pendapat.
Tidak alergi terhadap perbedaan, tidak memaksakan pendapat pribadi, serta tahan mental saat berseberangan dengan orang lain. Selain diskusi, juga berkarya secara langsung. Membuat apapun sesuai dengan minat dan kecenderungan khas masing-masing anak.
KEEMPAT. Belajar bersama siapa? Bersama siapapun, dan melibatkan diri dalam segala kegiatan masyarakat, dilandasi semangat belajar. Ngobrol dengan petani, mewawancarai perajin, ikut serta panen raya, menyimak pengajian dan mendiskusikannya, magang di bengkel, nimbrung karang taruna, dan seterusnya. Semua orang bisa jadi partner belajar dalam PBM, bukan hanya guru-guru mapel di ruang kelas.
KELIMA. Bagaimana penyesuaiannya di masa pandemi? Hampir tidak ada penyesuaian rumit dalam praktik PBM di masa pandemi. Karena proses belajarnya berlangsung di lingkungan terdekat sekitar.
Penyesuaian realistis hanya pada pembatasan fisik untuk menghindari kerumunan dan penggunaan alat pelindung diri. Itu saja. Selain itu tak perlu pergantian shift kelas, apalagi tambahan kuota untuk pengajaran daring dan semisalnya. Tak ada guru yang stress, tak ada wali murid yang pusing.
Sebagai fitrah pendidikan, praktik PBM ini semestinya bisa dipadukan dengan berbagai bentuk lembaga. Sebagai pelengkap bagi sekolah atau pesantren. Apalagi di masa pandemi ini, PBM dengan wadah taman baca, sanggar, langgar, komunitas belajar, homeschool, jamiyah, jelas-jelas jadi solusi bagi tak jelasnya pembelajaran sekolah yang serba terbatas akibat wabah.
Maka inilah ceruk yang bisa diisi oleh teman-teman pegiat taman baca, sanggar, atau komunitas belajar. Yakni bagaimana melengkapi hal-hal yang tidak tergarap di lembaga pendidikan formal. Bergembiralah. Buat kegiatan-kegiatan yang menggembirakan. Kegiatan yang mungkin tidak sempat dilakukan di sekolahan karena sudah sibuk dengan mapel-mapel.
Ajak mereka berkarya sesuai minat, mendiskusikan ide, menggambar, merealisasikan gagasan, mengobservasi lingkungan sekitar, cover lagu, menanam sayur, masak-makan bareng, menuliskan keresahan, ngevlog di tiktok, jahit masker, bersih-bersih jalan, atau sekedar ngobrolin film dan anime dengan kritis.
Sungguh nyata, bahwa pendidikan berbasis masyarakat benar-benar bisa jadi penolong di masa wabah ini. Bahkan pandemi jadi kesempatan emas bagi kita untuk kembali ke fitrah pendidikan. Jadi, kawan, jangan sia-siakan!
__
Salatiga, 28-2-2021
*Foto: di antara slide yang kutampilkan kemarin. Nampak (a) dhawuh Ki Hajar Dewantara tentang prinsip pendidikan berbasis masyarakat,

No responses yet