Oleh: Zia Ul Haq
Tahun 1991, beberapa siswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) sepakat membentuk wadah untuk memfasilitasi ‘hobi’ mereka di kampus. Apa hobi mereka? Ngaji kitab kuning, yasinan, tahlilan, maulidan, dan tentu saja sarungan khas warga nahdliyyin.
Mereka menyepakati satu wadah bernama Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin, disingkat IMAN. Nama yang -menurutku- sangat bagus dan familiar. Dengan pemilihan nama ‘nahdliyyin’ ini menunjukkan bahwa organisasi ini merupakan komunitas independen, bukan sebagai banom di bawah arahan PBNU.
Sejak terbentuknya IMAN, anak-anak muda itu mulai aktif berkegiatan. Utamanya ya ngaji kitab kuning rutin bersama para ulama sekitar. Menjalin silaturahim dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar dengan kultur keagamaan yang sama. Termasuk saat itu menjalin hubungan baik dengan almarhum Habib Saggaf bin Mahdi yang masih berdakwah dan mukim di Bintaro.
Agenda lain yang jadi andalan saat itu adalah pelatihan keaswajaan. Mereka menggelar seminar dan diskusi selama beberapa sesi di masjid-masjid sekitar kampus. Mengangkat tema akidah dan amaliyah Aswaja ala Nahdlatul Ulama. Sekali acara bisa diikuti 30-40 orang.
Waktu berlalu, IMAN makin berkembang. Fitrah pasang surut organisasi pun berlaku. Keterlibatan anggota putri makin terlihat, mereka disebut IMANISA. Tahun 2007, ketika pertama kali gabung IMAN, kulihat ada tiga jenis kegiatan yang jadi prioritas.
Pertama, ngaji rutin seminggu tiga kali. Ta’limul Muta’allim tiap malam Ahad, Fathul Qarib dan Hikam tiap malam Selasa, Minhajul Abidin tiap malam Sabtu, plus maulidan malam Jumat. Pernah juga kami gelar pengajian bulanan, keliling masjid-masjid, untuk umum. Di antara tokoh yang pernah mengisi adalah Habib Ahmad bin Novel dari Al-Fachriyyah, mengupas hadits-hadits Arbain Nawawi.
Kedua, pelatihan keaswajaan, berupa seminar dan diskusi Aswaja. Digelar di masjid-masjid sekitar kampus, bahkan pernah juga digelar di Masjid At-Ta’awun Puncak. Mengundang para ulama sekitar sebagai keynote speaker. Pernah kami mengundang almarhum Kiai Ghazali Masroeri yang saat itu mukim di Bintaro.
Ketiga, penggalangan dana setahun sekali. Kami mengadakan kursus tes masuk STAN dan jualan buku kumpulan soal. Hasilnya lumayan, bisa menghidupi seluruh kegiatan organisasi selama setahun. Kuakui menajemen IMAN sangat bagus. Mereka bisa mandiri, berdaya, dan berguna.
Kini, setelah 30 tahun berkibar, IMAN sudah banyak berbenah. Alumninya sudah banyak tersebar di berbagai pos plat merah, khususnya kementerian keuangan. Progres terkini yang menjadi terobosan baru adalah pendirian pesantren kampus. Ya, para alumni menginisiasi pesantren di wilayah kampus STAN untuk memfasilitasi mahasiswa nahdliyyin yang ingin mondok.
Maka sejak 2019 kemarin, diresmikanlah dua unit pesantren IMAN dengan menyewa dua bangunan rumah sekitar kampus. Pesantren putra dinamai Baitul Imany, pesantren putri dinamai Raudhatul Imany. Di pesantren ini, santri mengaji ilmu-ilmu dasar keislaman dari kitab-kitab salaf. Membekali mereka sebagai calon punggawa keuangan negara.
Tiga puluh tahun perjalanan IMAN membuktikan satu hal. Bahwa mereka betul-betul istiqamah mempertahankan semangat ngaji. Mulai dari kumpul-kumpul selepas kuliah, hingga mendirikan pesantren di tengah kampus mereka sendiri.
Pekan ini, para alumni IMAN menggelar muktamar untuk memetakan grand-design organisasi. Tentang apakah IMAN akan terus menjadi wadah independen? Bagaimana hubungannya dengan organisasi kemahasiswaan lain semacam KMNU? Siapa saja yang bisa gabung di wadah alumni IMAN? Peran apa yang akan diambil sebagai agen-agen Aswaja dalam kementerian?
Semoga menghasilkan mufakat yang bermanfaat. Selamat bermuktamar!
__
Zia Ul Haq
Alumni IMAN 2009
Tegal, 7 Maret 2021

No responses yet