Pertengahan 2013, tidak kurang dari 40 hari saya tinggal menetap di surau, 24 jam setiap harinya. Di situ saya menyaksikan orang-orang yang datang ke surau, dari berbagai profesi, beragam persoalan, bermacam penyakit, dan bertumpuk persoalan. Ada yang selalu diturutkan oleh ruhaniyah (bangsa halus), ada pemuda yang tengah galau, ada yang tengah dimabuk cinta dan kerinduan. Semua itu disudahi di surau. Ada saja cara guru, jawaban yang diberikan, sehingga hati-hati yang tadinya pilu, diselubungi problem hidup, sedih, merana, menjadi tenang dan sejuk, karena nasehat-nasehat, serta pancaran madad ruhani pemangku surau.
Di surau, tidak ada penyakit, yang tidak ada obatnya. Tidak ada problem, yang tidak ada jalan keluarnya. Tidak pula ada kesedihan, yang tidak mampu dibendung. Karena semuanya di pulangkan kepada Rabbul Izzati, Tuhan Semesta alam.
Siang tadi, saya dan beberapa ikhwan, kembali ke surau. Istilah kami, ialah men-cas, cas hati, yang kadang kala oleh urusan dunia dan berbagai problematika hidup, hati itu sunyi dan buram. Kaji memang sudah dituntut, amal wirid telah diijazahkan, namun kepentingan untuk selalu beramah tamah dengan wasilah madad tidak boleh dilupakan; dimana ziarah dan talaqqi mesti selalu dilazimkan hingga ajal menjemput.
Surau Tuo, atau Surau Tobiang, yang diteruka oleh Maulana Syaikh Mudo bin Abdul Qadim Belubus, tempat tujuan kami. Bagi saya ialah sambungan ruhani, sebab silsilah saya punya thariqat ialah melalui Maulana Syaikh tersebut. Sekitar dua tahun lalu, saya juga mengkhatam langkah di Belubus, dan diberi ijazah irsyad dalam langkah Belubus, Februari 2019.
*******
Maka, surau adalah tempat pulang. Surau adalah ibarat lampu yang menghidupkan hati-hati yang lalai, melalui wasilah tuan guru.
*******
Terima kasih saya ucapkan kepada Heru Joni Putra, yang dalam kesempatan di Belubus tadi siang, menghadiahi saya buku “Semasa Kecil di Kampung” karya Radjab, cetakan mutakhir. Buku ini adalah buku favorit saya. Tidak terbilang lagi berapa kali saya mengkhatamnya, dari buku lama terbitan 1950. Buku cetakan baru ini tentu menjadi penyemangat, untuk membaca bila kembali hendak bernostalgia 1910-1920-an itu.
Mungka, 11 Maret 2021

No responses yet