Baru saja selesai berbincang dengan santri PPK Alif Laam Miim dalam acara Isra’ Mi’raj sekaligus syuting TV Episode 11. Kami mengisi acara ini dengan pembinaan, pengarahan dan sekaligus pemantapan hati untuk istiqamah di jalan Allah. Ada banyak yang saya sampaikan, di antaranga adalah tentang harakat kehidupan yang menentukan tingkat kebagiaan hati. 

Harakat dalam al-Qur’an yang kita baca itu bisa disederhanakan dengan penjelasan sebagai berikut: ada harakat mati atau disebut sukun, ada harakat hidup fathah, kasrah dan dlammah, ada harakat yang bertemu dengan huruf mad sehingga membacanya agak panjang, ada harakat yang ketika bertemu dengan mad masih bertemu lagi dengan hamzah namun tidak bersambung, dan ada yang juga bertemu dengan hamzah yang bersambung. Bacaan panjangnya berbeda. Mari kita qiyaskan harakat dengan hati. 

Harakat mati atau sukun adalah tidak panjang sama sekali. Manusia yang hatinya mati tidak mungkin bertemu dengan bahagia. Harakat biasa adalah seperti biasa, merasa hidup sebagaimana makhluk lainnya. Harakat yang bertemu dengan huruf mad adalah panjangnya satu alif atau dua harakat. Siapa yang hatinya sempat bertemu dengan agama maka dia akan sempat merasakan bahagia walau tak begitu lama. Harakat panjang yang bertemu dengan hamzah yang tidak bersambung adalah bagai hati yang melaksanakan kewajiban agama plus dengan sunnah-sunnahhnya. Hati seperti ini memiliki potensi untuk lebih bahagia. Harakat panjang bertemu dengan hamzah yang bersambung adalah hati yang tak pernah putus hubungan dengan Allah. Inilah yang kebahagiaannya paling panjang dan abadi. 

Mengapa hati terputus dari Allah? Jawabannya adalah karena kita terlalu sibuk dengan hal-hal yang bersifat duniawi, bendawi. Kita lupa bahwa semua benda akan musnah dan lenyap, ia meninggalkan kita atau kita meninggalkannya. Lalu apa yang tidak meninggalkan kita? Pada ujungnya, apa yang paling kita butuhkan? Jawaban kami sama, pada akhirnya yang paling kita butuhkan adalah rahmatvdan ampunan Allah, syafaat Rasulullah. Pertanyaannya adalah di manakah posisi Allah dan Rasulullah dalam kehidupan kita? Salam, AIM

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *