Qodho Qodar sebagai Irodah Gusti Allah adalah perkara keimanan. Bukan sesuatu yang bisa dinalar 100% dan tidak bisa dihitung seluruhnya dengan perkiraan. Ini berkaitan dengan Sifat Jaiz Gusti Allah yang bisa mewujudkan atau tidak.

Kita harus yakin bahwa Gusti Allah mewujudkan segala sesuatu sesuai dgn sifat Ilmu Gusti Allah yang Qodim. Semua perbuatan makhluk adalah sesuai dgn ketentuan Gusti Allah. Oleh karena itu sepatutnya bagi manusia untuk ridho terhadap keputusan-Nya. 

Ridho harus kita punya karena memang kita gak tau sama sekali apa yang dikehendaki dan jadi takdir kita. Sementara Gusti Allah sebagai Tuhan adalah realita yang tidak bisa kita tolak. Kalo kita gak punya ridho, selamanya kita bakal lari dari realita dan hati penuh rasa tidak puas. Itu sangat tidak mengenakkan.

Syaikh Affifuddin Az Zahid menceritakan bahwa sewaktu di Mesir, beliau mendengar satu kasus yg terjadi di Baghdad tentang pembunuhan yang dilakukan oleh orang2 kafir terhadap kaum muslim. Kota Baghdad hancur, selama tiga setengah tahun tidak punya pemerintahan. 

Beliau juga mendengar tentang perbuatan orang2 kafir mengalungkan mushaf Al Qur’an pada leher2 anjing, membuang kitab2 karangan para ulama ke sungai sehingga menjadi seperti jembatan yang dapat dilalui oleh kuda mereka.

Syaikh Affifuddin Az Zahid mengingkari takdir tersebut dan marah terhadap hal tersebut. Lalu beliau protes pada Gusti Allah, “Duh Gusti, bagaimana ini bisa terjadi? Padahal di antara kaum muslimin yang dibunuh itu terdapat anak2 dan orang2 yang tak berdosa!”

Sewaktu tidur, Syaikh Affifuddin Az Zahid bermimpi melihat seorang lelaki yang membawa tulisan. Lalu beliau ambil tulisan itu. Tulisan itu berbunyi :

دع الإعتراض فما الأمر لك * ولا الحكم في حركات الفلك

ولا تسأل الله عن فعله * فمن خاض لجة بحر هلك

“Tinggalkanlah memprotes keputusan Gusti Allah, karena urusan itu bukanlah urusanmu. Dan hukum-Nya itu tidak tergantung pada gerakan-gerakan bintang.

Janganlah engkau bertanya kepada Gusti Allah mengenai pekerjaan-Nya. Barang siapa yang nekat mengarungi gelombang lautan yang dia tidak tahu medannya, niscaya dia celaka”

Maka, kita harus punya ridho dengan takdir agar tidak punya rasa jengkel dan amarah. Sehingga bisa berdamai dengan diri. Kalo gak punya ridho, selamanya kita terombang-ambing.

Mengenai takdir ini, ada takdir mubrom (yang tidak bisa diubah) dan takdir mu’allaq (yang bisa dirubah). Ini sebenarnya satu harapan dan satu ancaman. Kita jangan anggap remeh satu amal kecil karena bisa saja dirubah jadi besar oleh Gusti Allah. Kita juga jangan anggap remeh satu dosa kecil karena bisa dirubah jadi dosa besar.

Maka kita harus yakin selain Gusti Allah punya ketetapan atas sesuatu, kita juga diberi anugerah untuk berusaha. Maka seorang hamba Tuhan, harus punya niat berbuat terbaik bagi dirinya, selalu punya keinginan untuk menghamba dan berdamai dengan keadaan. Urusan keputusan ntar jadi apa, itu mah urusan Sang Juragan.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *