Oleh : Wasid Mansyur
Ketika jelang sholat shubuh, penulis sempat buka HP sambil melihat status orang lain. Ternyata, terlintas ada status Prof Amin Syukur yang mengabarkan bahwa beliau meninggal dunia pada pukul 23.45, Senin 15 Maret 2021. Cukup kaget, dan hampir tidak percaya sebab tidak ada kabar beliau sakit sehingga komunikasi salah satu jejaring UIN Semarang mengiyakan bahwa beliau wafat.
Memang perkenalan penulis tidak lama. Tapi ada kesan yang luar biasa sulit dilupakan. Pertama, dari membaca buku prof Amin yang berjudul “Dzikir Menyembuhkan Kangkerku”. Buku ini menarik untuk dibaca sebab berkaitan dengan kekuatan dzikir, sholawat Nariyah dan pengalaman pribadi.
Diceritakan _dan penulis sempat bertanya langsung sambil ijazah_ bahwa Prof Amin pernah divonis kangker ganas. Secara medis, doktor memperkirakan umurnya maksimal tiga bulan. Cukup kaget, tapi beliau mampu meyakinkan keluarga agar terus perbanyak dzikir dan perbanyak membaca sholawat Nariyah, sekaligus pasrah kepada Allah SWT.
Al-Hasil, dengan tekad yang sama untuk memperbanyak dzikir dan sholawat dengan pasrah penuh pada gusti Allah Swt. ternyata Prof Amin benar-benar sembuh. Bahkan kangker yang ditakutkan hilang bersih, yang secara medis tidak masuk akal. Pelajaran bersama, betapa kekuatan doa sangat besar dalam merubah apapun yang secara rasional tidak mungkin.
Kedua, prof Amin sempat menjadi penguji utama penulis, ketika ujian S3 Pasca Sarjana UINSA tahun 2014. Ketika akademik menyuruh untuk menentukan sendiri penguji utama, tanpa berpikir panjang langsung memilih Prof. Amin. Bukan karena beliau ahli kajian tasawuf, tapi penulis ingin semakin dekat dengan beliau agar bisa menimbah ilmu, khususnya pengalaman dzikir dan wirid sholawat Nariyah 4444.
Pada ujian tertutup, alhamdulillah bisa ketemu secara fisik. Pastinya banyak masukan dari Prof. Amin. Termasuk dari Prof Burhan Djamaluddin, Dr. Harisuddin Aqib dan 2 pembimbing, Prof Ridwan Nasir dan Prof Husein Aziz.
Ketika beliau mau pulang, berpesan “revisi cepat mas Wasid. Nanti koreksi revisi dan tanda tangan ketemu di UINSA saja, ketika menguji lagi insyallah tidak lama. Penulis hanya bisa menjawab: iyya Prof, terima kasih sarannya. Tapi, Saya berharap diperbolehkan tanda tangan di rumah panjenangan, sekalian silaturrahim ke dalem Ngaliyan Semarang.
Setelah proses revisi, dengan seijin Prof Amin, penulis berangkat tengah malam bersama mas Zaini ke Semarang memburu tanda tangan sebab beliau harus bergeser pukul 06.00 pagi ke bandara menuju Singapura. Akhirnya, pilihan naik bis Indonesia tepat pukul 01.15 pagi. Dek dek ser di jalan takut tidak sampai, semalam tidak bisa tidur hanya berteman manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani dengan Pak Sopir yang setia dan fokus menapaki jalan agar penumpang selamat.
Kuasa gusti Allah, penulis sampai terminal Terboyo Semarang pukul 05. 45 menit. Turun langsung naik ojek, sambil pesan ke alamat yang dituju. Sambil memohon pak Ojek kalau bisa sing banter ngebut dan hati-hati geh, takut telat ketemu dosen UIN Semarang. Tanpa banyak tanya, ojekpun meluncur dengan cepat dan penulis hanya bisa memejamkan mata dan bibir komat kamit, semoga sampai dan Prof Amin belum berangkat ke Singapura.
Setelah ngebut bersama ojek melintasi kota Samarang, penulis sampai di rumah beliau walau sedikit telat. Sementara beliau sudah siap-siap menunggu plus hidangan teh hangat dan camilan. Padahal, penulis hanya “murid nakal” yang datang tidak membawah apa-apa, dan bondo nekat membawa revisi disertasi.
Tak lama di dalem Ngaliyan bersama Prof Amin. Tapi cukup mengesankan, sambil diskusi tipis tentang tasawuf kaitannya dengan penyakit hati dan kesehatan manusia. Beliau penguji utama dan guru yang sangat terbuka untuk berdiskusi. Dan tidak jarang, diwaktu senggang beliau menghubungi melalui watshapp hanya sekedar menanyakan kabar dan pengembangan kajian Tasawuf.
Akhirnya, selamat Jalan Prof Amin Syukur. Banyak pelajaran dari panjenengan, bukan hanya soal diskusi kaitan dengan tasawuf, tapi juga pengalaman bagaimana mematrialkan kekuatan dzikir dan sholawat Nariyah sebagai jalan kesehatan, lahir dan batin. Semoga Panjenengan dimudahkan semua. Amin… alfatihah.

No responses yet