Pengertian revolusi ini sama dengan pengertian jihad bi ma’na qital. Karena model revolusi ini dipakai oleh Mahrizal Thayeb karena terinspirasi oleh gerakan Muhammar Khadafi di Libya yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Raja Idris.  

Tampaknya yang paling menginspirasi jamaah ini adalah aksi kudeta itu dilakukan oleh sekelompok kecil tentara militan yang dipimpin oleh Khadafi. Kasus Libya memunculkan kepercayaan diri dikalangan jamaah itu bahwa mereka pun bisa melakukan revolusi di Indonesia.

Setelah terjadi perdebatan mereka akhirnya setuju untuk memilih jalan revolusi ala Libya. Nah dari situ terfikir untuk melakukan revolusi dan mereka membutuhkan senjata dan mengadakan pelatihan militer untuk para kader revolusi.

Sebagaimana kebiasaan jamaah Jihad, sebelum mengadakan aksi mereka melihat Miftahus Sira’ yaitu pemantik konflik yang akan di jadikan alasan mereka mengadakan aksi militer atau lainnya, demikian yang sering disebut oleh Abu Mus’ah As-Suri bahwa kegagalan operasi militer Jihad dikarenakan setiap aksi tidak adanya visi dan misi politik yang ingin di raih, sehingga tidak terkesan blunder yang justru visi dan misi tidak tercapai, sebagaimana yang sering terjadi dalam aksi-aksi akhir belakangan yang justru memandulkan gerakan Jihad itu sendiri, salah satu momen yang akan dimanfaatkan oleh mereka untuk revolusi dengan meminta bantuan senjata adalah kontroversi pembuatan film The Messege atau Ar Risalah, sebuah film yang menceritakan sejarah perjuangan Nabi Muhammad. 

Ketika dibuat pada 1976 film karya sutradara Musthapa Akkad ini menyulut kontroversi karena diisukan film ini menampilkan figur Rasullah. Padahal menurut kepercayaan kaum Sunni, menampilkan figur Nabi Muhammad itu dilarang. Nah, Imron dan kawan-kawan berencana mencari bantuan senjata kepada negara-negara Islam dengan dalih senjata akan dipergunakan untuk menyita peredaran film itu di Indonesia.

Dan langkah ini selangkah lebih maju dari juniornya Aman Rohman tokoh ISIS sekarang yang jejaknya terbaca dalam Kasus Thamrin Sarinah kemarin, walau kemunculan gerakan Jamaah Imran lebih awal akan tetapi Jamaah Imran langkah mencari momentum Jihad adalah cara cerdas, biasanya kelompok Jihad modern seperti ISIS tidak memperhatikan Imkaniyat atau momentum dan Timing yang tepat, operasi semacam ISIS boleh kita katakan tidak cerdas, asal-asalan, sembrono dan nekat, langkah yang dibuat tidak sebanding dengan bahaya yang didapat, terbukti banyaknya Ikhwah yang tertangkap, penyitaan aset-aset dakwah, terisolasinya para tokoh-tokohnya dipenjara-penjara super maximum security sehingga orang-orang seperti Aman rohman tidak bisa menterjemah dan membuat propaganda didalam penjara untuk pengikutnya diluar penjara.

Pendeknya akal mereka membuat banyak keputusan yang tidak strategis dan kurang memperhitungkan untung rugi telah banyak membinasakan gerakan Takfiri seperti ISIS, kata-kata yang sering diucapkan oleh mereka adalah ‘’ lebih baik menjadi Singa satu hari dari pada menjadi rusa sepanjang tahun ‘’ artinya lebih baik terus berjihad melawan rezim murtad dari pada diam dan duduk dengan alasan maslahat, bagi mereka maslahat dakwah adalah Thagut baru , maslahat terbukti menjadi penghambat terealisasinya Tauhid yang di yakini mereka benar, slogan ini sempat ramai disekitar 2008 hingga sekarang. Ini yang menjadi alasan bagi para Jihadis yang ngebet amaliat dengan alasan Jihad hari ini Fardhu A’in. 

Kembali kepada Jamaah Imran, Pada Juli 1976, Imron mengirim surat kepada pemerintah Arab Saudi meminta bantuan senjata untuk menyita film The Message di Indonesia. Selain ke pemerintah Arab Saudi, Imron juga mengirim Mahrizal, Ahmad Yani dan Salman Hafidz ke kedutaan Libya di Jeddah. Mereka bertemu duta besar Libya untuk meminta bantuan senjata untuk menyita film The Message. 

Namun upaya mencari senjata itu tak membuahkan hasil. Pemerintah Arab Saudi tak merespon. Sementara itu kedatangan ke kedutaan Libya pun salah alamat. Pasalnya film itu dibiayai oleh Libya sendiri. Meskipun begitu pertemuan di kedutaan Libya memberi kesan yang mendalam buat para utusan. Pasalnya, Mahrizal, Salman dan Ahmad Yani bisa berdiskusi dengan duta besar ihwal revolusi di Libya. Pertemuan itu makin meyakinkan bahwa model revolusi di Libya menjadi pilihan perjuangan mereka di Indonesia 

Bersambung ke bag 5

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *