Berbeda dengan Aman Abdurahman hari ini, yang terkesan sombong dan angkuh(6), Imran dan kelompoknya meyakini bahwa ide-ide revolusiener bersenjata harus mendapat dukungan dari tokoh ummat di Indonesia, cara seperti ini adalah langkah cerdas dan maju dibanding Aman Abdurahman yang terkesan tertutup, suka mengisolasi diri dan terinspirasi sifat ghuraba ( generasi asing ), logika maju jamaah imran yang terpaut jauh dari aman abdurahman lebih baik dalam hal ini, hal ini dikarenakan tampa dukungan ummat Islam yang di presentasikan oleh tokoh-tokoh ummat Islam maka dia akan sulit mencapai tujuannya, bahkan tampa dukungan mereka ide tersebut hanya menjadi sulit tegak bahkan berumur pendek, walau ide gagasan mereka ditolak secara halus dan baik akan tetapi cara dan upaya mereka perlu mendapatkan catatan penting tentang cara komunikasi politik Jihad yang menjadi barang alergi digunakan dengan kelompok Jihad seperti Aman abdurahman yang cenderung ekslusif untuk meraih dukungan, bagi mereka mencari dukungan kepada pihak-pihak yang tidak seaqidah dan tidak semanhaj dengan mereka hanya akan bertoleransi kepada kekufuran.
Karena keyakinan mereka bahwa ummat Islam hari ini telah banyak jatuh kepada kezhaliman, dosa dan di hinggapi penyakit kesyirikan termasuk ulama-ulama dan ummat Islam secara umum. Keyakinan seperti juga kita dapatkan ketika kita membangun Jihad Aceh 2010, bahwa salah satu orang rekan kita mantan murid Aman yang mengatakan ‘’ kita tidak bisa memerangi kekufuran bersama dengan orang-orang yang masih melakukan kemusyrikan’’ terlebih dinegara yang tidak berhukum dengan hukum Islam maka negeri itu adalah negeri kafir, dan ini yang membedakan jamaah Imran dengan Aman dari sisi mencari dukungan dari kelompok mereka walau sama dalam pendekatan pemikiran.
Untuk itu ide-ide revolusi itu sempat dibicarakan Imron dan kawan-kawan dengan beberapa tokoh Islam Indonesia yang berkunjung ke Arab Saudi(7).
Imron dan Mahrizal sempat bertemu dengan Mohammad Natsir(8) di Riyadh. Namun ide yang cenderung keras ini tak ditanggapi serius oleh Natsir. Khabarnya Imron sempat sakit hati dengan sikap Natsir yang dianggapnya ogah-ogahan menanggapi ide mereka.
Bersambung ke bag 6
——-
(6) Sikap yang sama juga di tunjukan oleh Abu Mus’ab Az-Zarqowi kepada Syaikh Usamah dan petinggi al-Qaeda lainnya, ketika mereka di Afghanistan tepatnya di Kandahar ditahun 1996, pertemuan tersebut tidak menyenangkan, bin laden curiga bahwa dia dan orang yordania yang tiba disana sengaja disusupkan GID (Agen intelejen Yordania, di Indonesia semacam BIN), selain itu juga banyak tato didalam tubuh Al-Zarqowi, arogansi , sombong dan kaku itulah kesan pertama bin laden dan Adz-Dzawahiri, mereka sepakat kelompok dari yordania ini tidak termasuk kanditat untuk menjadi anggota Al-Qaeda. ( ISIS: THE INSIDE STORY, Michael Weiss & Hassan Hassan hal. 13 )
(7) BAP Imron bin Muhammad Zain dalam sidang.
(8). Mantan ketua DDII pertama, dan Mantan Perdana Menteri di era 1955

No responses yet