Mereka juga sempat berdiskusi dengan Buya Hamka. Buya Hamka mereka anggap lebih ramah walaupun tidak tegas mendukung ide mereka. Selain bertemu kedua tokoh ini, mereka juga sempat bertemu dengan Moh Roem dan Prof Dr HM Rasyidi. 

Dalam pertemuan dengan Rasyidi itu, Imron sempat membicarakan soal keinginannya mencari bantuan dana ke Libya. Prof Rasyidi sendiri sempat berjanji untuk menghubungkan Imron dan kawan-kawannya dengan pihak Libya.

Setelah kepulangan Imran, maka Pada Januari 1978 Salman Hafidz berangkat ke Mesir. Negara ini dipilih bukan tanpa alasan. Di negeri piramid adalah tempat dilahirkan gerakan Islam Ikhwanul Muslimin yang terkenal seantero Timur Tengah. Salman berencana menjajaki kemungkinan meminta bantuan kepada Ikhwanul Muslimin. Selain itu Salman pergi ke Mesir sekalian untuk melanjutkan sekolah di Al Azhar. 

Namun sesampainya di Mesir dia kecewa dengan kehidupan beragama di universitas tertua di negeri itu. Dia melihat mahasiswa-mahasiswa disana lebih banyak main-main ketimbang tholabul ilmi atau belajar. Dia juga kecewa ketika sholat di Masjid Al Azhar ternyata jamaahnya sangat sedikit. Ia menyimpulkan bahwa dosen-dosen Al Azhar hanya pintar mengajarkan Islam tapi tak mengamalkan.(9)

Di Mesir ia juga sempat aktif di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Saat disana ia sempat bertemu dengan Ir. Imaduddin Abdurrahim, Dr. Muchtar Lintang, Dr. Deliar Noer. Menurut Salman dia sempat berdiskusi dengan Imaduddin. Tampaknya Imaduddin cukup tertarik dengan pemikiran pemuda asal Jombang itu. Tokoh masjid Salman ITB itu menawari Salman untuk menjadi dosen agama di Institut Teknologi Bandung (ITB). Disana ia juga mendatangi kelompok Ikhwanul Muslimin. Dari hasil diskusi dengan kelompok itu, ia menyimpulkan bahwa kelompok ini masih terbatas sebagai kelompok persaudaraan muslim saja belum meningkat sebagai gerakan Islam yang ingin mengobarkan revolusi Islam. Salman Hafidz sempat tingal di Mesir selama lima bulan.

Kecewa dengan situasi umat Islam di Mesir, Salman Hafidz mencoba berangkat ke Libya lewat Mesir. Harapannya dia bisa bertemu dengan Kolonel Khadafi. Namun ternyata hal itu sulit dilakukan, pasalnya Libya dan Mesir sedang bersitegang dan hubungan diplomatik kedua negara sudah terputus. 

Akhirnya pada Mei 1978 Salman Hafidz berangkat ke Syria. Di Syria dia sempat datang ke konsulat Libya menceritakan keinginannya untuk bertemu Muhammar Khadafi sekaligus menceritakan rencana revolusi di Indonesia. Namun , pihak konsulat menolak permintaan tersebut. Penolakan pihak konsulat Libya di Damaskus tak menyurutkan hasrat Salman Hafidz datang ke Libya. Pada Juni 1978, ia kemudian menyeberang ke Yordania.

Di Yordania dia sempat tinggal di Amman dan bekerja di pelabuhan Agaban dekat perbatasan Elia. Disana Salman melihat kapal-kapal asing yang singgah di sana, diantaranya kapal India yang membawa hewan ternak dari Australia menuju Libya. Dia berusaha menyelundup kedalam kapal dengan hanya berbekal Al Qur’an dan catatan harian. 

Namun rencananya gagal, karena kapten kapal sempat memeriksa seluruh bagian kapal dan dia memergoki Salaman sebagai penumpang gelap. Akibatnya dia diusir dari kapal itu. Kembali Salman Hafidz gagal berangkat ke Libya. Akhirnya pada Agustus 1978 lelaki asal Jombang ini berangkat ke Turki. Disana dia tinggal di Ankara selama seminggu, ia juga melihat bahwa gerakan Islam disana tak punya kekuatan yang berarti. Sebenarnya dari Turki dia berniat pergi ke Italia, rencananya dari Italia dia bakal masuk ke Libya. Namun karena keuangannya makin menipis, akhirnya pada September 1978 dia memutuskan pergi ke Iran.

Pada saat lelaki lulusan Gontor itu datang, di Iran sedang bergolak aksi demonstrasi-demonstrasi  menentang Syah Iran. Salman sempat tinggal di Teheran selama 1 minggu. Kemudian dia sempat bekerja di pelabuhan selama tiga bulan sambil memantau perkembangan gerakan yang menentang rezim berkuasa. Selama tinggal di sana, ia melihat secara langsung praktek keagamaan di Iran yang dianggapnya berbeda dengan praktek peribadatan di Arab Saudi. Ia melihat bahwa Islam di Iran kurang murni.(10).

Bersambung ke tulisan 7

——

(9) Berita acara persidangan tanggal 16 Maret 1982.

(10) Semangat revolusi Iran telah menjangkiti seluruh aktifis Islam diseluruh dunia, bahwa revolusi tidak harus berdarah-darah, kasus Iran bisa ditempuh dengan aksi-aksi damai demonstrasi seperti di Iran, ini yang menyebabkan rasa optimisme para aktifis termasul Salman Hafidz, hanya sampai disini mereka belum mengetahui hakikat perbedaan Syiah dan Sunni seutuhnya sebagaimana informasi utuh pada zaman sekarang.

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *