Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari perbuatan dosa dan kesalahan, baik yg tidak disengaja bahkan ada yg melakukannya dgn sengaja. Meskipun demikian, Allah subhanahu wa ta’ala selalu memerintahkan umat manusia, untuk berusaha menjauhi segala perbuatan dosa, atau kemaksiatan dan tidak menyepelekan kemaksiatan sekalipun itu adalah dosa kecil, yaitu dgn senantiasa bertaubat dan memohon ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala jika telah terlanjur melakukannya.
Perbuatan dosa dan maksiat memberi pengaruh yg besar serta efek yg sangat berbahaya bagi masyarakat dan individu. Allah subhanahu wa ta’ala telah menerangkan dgn sejelas2nya pengaruh perbuatan ini sejak perbuatan maksiat dilakukan pertama kali.
Apabila engkau melihat dirimu cenderung berbuat maksiat, maka ketahuilah bahwa penyebabnya ialalah kemaksiatan yg telah engkau kerjakan sebelumnya. Sebab, kemaksiatan itu menumbuhkan kemaksiatan yg lain, dan dosa menumbuhkan dosa yg lain.
“Kemaksiatan adalah akibat dari kemaksiatan sebelumnya, dan kebaikan setelah kebaikan adalah buah dari kebaikan pertama.” (Inilah yg di katakan Syaikhul Islam Al-Imam Al-Hafidh Abu al-Faraj Ibnul Jauzi Al-Baghdadi Al-Hambali rahimahullah (1116 – 1201 M, Bagdad, Irak) dalam kitab Saidul Khatir).
Ada pesan dari ulama tabi’in senior, Urwah bin az-Zubair rahimahullah (644 – 713 M, Madinah) yg termaktub dalam kitab Al Waafi bil Wafayaat, 6/359, karya Salahuddin Abu As-Shafa Khalil ibn Aibak ibn ‘Abdulah al-Albaki As-Safari al-Damasqi Asy-Syafi’i atau Imam As-Safadi rahimahullah (1296 – 1363 M) seorang penulis dan sejarawan Turki, beliau mengatakan :
“Kalau kalian melihat orang berbuat kebaikan, ketahuilah bahwa kebaikan tadi mempunyai saudara2 padanya. Dan bila kalian melihat seseorang berbuat maksiat, ketahuilah bahwa kemaksiatan itu memiliki saudara2 padanya. Karena setiap kebaikan akan menghantarkan pelakunya pada saudaranya, sebagaimana maksiat juga menghantarkan pelakunya pada saudaranya.”
Para ulama salafus saleh sangat takut dgn kemaksiatan sekecil apapun, karena mereka faham bahwa kemaksiatan itu akan memicu kemaksiatan yg lain.
Peringatan ini memberikan pelajaran bahwa jika kemaksiatan yg dilakukan, menimbulkan beberapa efek negatif yg ditimbulkan karena perbuatan maksiat sebelumnya tanpa bertobat. Maksudnya, dia akan mendapatkan kesengsaraan dan kesusahan tanpa disadari karena perbuatannya sendiri.
Dalam kitab tafsirnya (3/164), Al-Hafidh Al-Muhadits Al-Mufassir Abul Fida’ Imaduddin Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i atau Imam Ibnu Katsir rahimahullah (1301 – 1373 M Damaskus, Suriah) berkata:
“Di dunia, dia tidak akan mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. Hatinya gelisah yg diakibatkan kesesatannya. Meskipun dhahirnya nampak begitu enak, bisa mengenakan pakaian yg ia kehendaki, bisa mengkonsumsi jenis makanan apa saja yg ia inginkan, dan bisa tinggal dimana saja yg ia kehendaki; selama ia belum sampai kepada keyakinan dan petunjuk, maka hatinya akan senantiasa gelisah, bingung, ragu dan masih terus saja ragu. Inilah bagian dari kehidupan yg sempit”.
Sering2lah kita bertobat dan istighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala, amalan yg selalu dianjurkan untuk dijalankan secara rutin. Bisa setiap hari, bahkan setiap jam. Ini karena kita tidak pernah bisa lepas dari dosa. Setiap detik, kesalahan bisa kita lakukan.
Bahkan meski sudah bertobat, peluang kita untuk mengulangi perbuatan buruk tetap ada. Baik sadar maupun tidak, kita bisa melakukannya. Itulah mengapa nasihat untuk tobat selalu mendorong kita agar rutin melakukannya. Semata agar kita dapat menghapus dosa tsb.
Maka, kita dianjurkan untuk rutin membaca istighfar, agar kita bisa terhindar dari dosa maksiat yg terulang.
Dalam sebuah kutipan hadits qudsi panjang yg diriwayatkan Sahabat Abu Dzar Al Ghifari Al-Kinani Radhiyallahu Anhu (wafat 652 M, Al-Rabadha, Arab Saudi) dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sbg berikut:
… يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ ….
” … Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa2 itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian .. ” (HR Imam Muslim rahimahullah)
Abuya Prof DR Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki Al-Hasani Al-Makki rahimahullah (wafat 29 Oktober 2004 M di Jannatul Ma’la Makkah) dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban, memaparkan bahwa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, memberikan contoh lafal istigfar yg sangat lengkap. Salah satu lafal istigfar tsb adalah yg tertulis dalam sebuah riwayat dan dinukil oleh Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi Asy-Syafi’i atau Imam al-Hakim rahimahullah (321 – 405 H/ 933 – 1014 M).
Dalam riwayat itu tertulis, “Suatu ketika, seseorang datang menemui Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dan berkata, ‘Betapa besar dosaku, betapa besar dosaku.’ Perkataan ini diulang2 selama dua kali atau tiga kali.
Nabi pun lantas memintanya mengucapkan kalimat istigfar, “Allahumma maghfiratuka awsa’u min dzunubi wa rahmatuka arja ‘indi min ‘amali. (Ya Allah, ampunan-Mu lebih luas dari dosaku, rahmat-Mu lebih saya harapkan daripada amalku).
Sahabat tadi kemudian menirukan bacaan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, setelah itu Nabi meminta mengulanginya. Lalu Nabi berkata, ‘Berdirilah, Allah telah mengampuni dosamu.’
Selain dgn kalimat istighfar yg termaktub dalam hadis di atas, ada pula bacaan istigfar bersumber dari riwayat Sahabat nabi yg bernama Syaddad bin Aus bin Tsabit Anshari al-Najjari al-Madani Radhiyallahu Anhu (wafat 58 H / 678 M di Baitul Maqdis), hadits tsb diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah (810 – 870 M Uzbekistan) dan Imam Muslim rahimahullah (wafat 5 Mei 875 M, Naisabur, Iran) yg dikenal sbg bacaan SAYYIDUL ISTIGHFAR.
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yg disembah selain Engkau. Engkau yg menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yg kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yg mengampuni dosa selain Engkau”
Mengenai keistimewaan Sayyidul Istighfar di atas, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dgn penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dgn penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga.” (HR Muttafaqun ‘alaih).
Wallahu a’lam.
Written from various sources by Al-Faqir Ahmad Zaini Alawi Khodim JAMA’AH SARINYALA

No responses yet