Banyak analisis dari para pengamat teroris bahwa akar teroris yang berbasis agama di Indonesia adalah karena faktor kesulitan ekonomi ataupun karena faktor ketidakadilan, dan lain sebagainya. Lalu menyarankan kepada pemerintah agar membenahi dulu ekonomi dan tegakkan keadilan, maka teroris akan hilang. Alih-alih mengutuk pelaku terorisme, justru malah secara tidak langsung “memojokkan” aparat ataupun negara. Kalau didedah secara kritis, argumen itu klasik, kurang tajam, dan tidak begitu faktual.

Banyak fakta bahwa pelaku terorisme bukan dari orang miskin karena kemiskinannya, atau orang yang merasa diperlakukan tidak adil dalam hukum di Indonesia. Terlebih juga dijumpai pelaku teroris yang hidupnya berkecukupan. Terbaru terduga terorisme di Condet adalah tuan tanah https://m.tribunnews.com/amp/nasional/2021/03/30/terduga-teroris-condet-dikenal-orang-kaya-warga-sekitar-juluki-sebagai-juragan-tanah

Belum lagi kalau mengikuti alur nalar pendapat pengamat itu, apakah bisa dikatakan adanya koruptor atau bandar narkoba juga karena faktor kesulitan ekonomi dan ketidakadilan? Lalu akan disarankan agar membenahi dulu ekonomi dan ketidakadilan sementara koruptor dan bandar narkoba tidak kita kutuk. Tentu tidak demikian, namun kalau maling selain kleptomania, baru benar dikatakan faktornya adalah ekonomi.

Sebenarnya ada faktor mendasar yang menginspirasi teroris di Indonesia, yakni ideologi, lebih tepatnya ideologi radikal. Ideologi radikal inilah pemicu utama dan mendasar.

Untuk di Indonesia saya sering menyebut kelompok radikal adalah mereka yang anti NKRI, anti Pancasila, plus kelompok yang doyan dan hobi dalam pengajiannya menstempel liyan dengan syirik dan bid’ah. Stempel ini akan menimbulkan rasa benci luar biasa atas liyan dan terpupuklah sikap intoleran. Selanjutnya menjadi radikal dan bisa berakhir kepada perbuatan teror. Masalah ekonomi dan ketidakadilan hanya bisa sebagai apa yang saya sebut sebagai “pemercepat” saja, bukan sebagai faktor utama.

Berapa banyak masyarakat Indonesia yang ekonominya sulit, atau merasa ada ketidakadilan (terbaru rencana yang batal untuk impor beras). Sekalipun demikian, tidak ada masyarakat itu yang terjun menjadi teroris. Hal ini karena ideologi dan paham keagamaannya adalah non-radikal. Paling buruk ada diantara mereka yang berbuat nekat seperti ngutang, ataupun ngutil, bahkan mencuri atau merampok. Dengan demikian, faktor mendasar dari terorisme di Indonesia tiada lain adalah ideologi radikal. Saya setuju dengan penjelasan Kiai Said Siradj ini:

https://youtu.be/to2Y8HyquXQ

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *